[FANFICT/FREELANCE] Starting From Lie Become Real

CYMERA_20150129_172702

Title
: Starting From Lie Become Real
Author : Han Dong Ri (Lastini)
Genre : Friendship & Romance
Rating : PG
Type : One Shoot
Main Casts
: ~ No Minwoo

  ~ Jung Han Na

Support Casts
: ~ Lee Jeongmin  ~ Lee Yonhee

 

A/N: Ini ff yang pertama aku post, maaf ya kalau ada kata yang salah. Ini murni karya yang aku buat sendiri. Mohon koment ya? J selamat membaca.

Author POV

Angin musim panas menerpa kota Seoul. Begitu sejuk, sesejuk hati seorang yeoja yang telah jatuh cinta. Yeoja itu bernama Jung Hanna. Seorang yeoja yang telah jatuh cinta pada seorang namja yang bernama No Minwoo. Minwoo adalah seseorang sosok yang sangat menawan hati. Sudah kaya, baik, populer, dan tak kalah dia tampan dan memiliki wajah baby face sehingga membuat siapapun jatuh cinta padanya. Tapi sayang di balik kesempurnaannya tersimpan sejuta misterius yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Hanna POV

Angin sejuk sekali sekarang. Sekarang aku sedang memandang namja yang sedang membaca buku di bawah pohon tersebut. Namja populer No Minwoo. Aku sudah 3 tahun ini menyukainya, meskipun cinta bertepuk sebelah tangan tapi aku tetap bahagia.

Aku tak pernah menyatakan pada perasaanku padanya. Melihat banya yeoja yang sudah ditolaknya selama ini. Itu membuatku nyaliku menjadi ciut. Padahal aku sudah lama menyukainya. ah molla.

“Hanna-ah”

Namja ini lagi, namanya Kim Yong Joo. mau apa lagi dia dariku. Aku sudah bilang tidak mau berpacaran dengannya tapi dia masih saja mencariku. Dasar menyebalkan. Alasanku tidak menerimanya adalah karena aku pernah disakiti olehnya. Aku pernah pacaran dengannya saat SMP dan aku ditigakan. Bayangkan ditigakan,  di saat orang diduakan aku malah ditigakan. Nasibku memang malang.

“Apa lagi?”

“Apa yang lakukan?”

“Geunyang. Yya tidak bisakah kau meninggkalkan ku sendiri. Aku sangat benci melihat wajahmu itu.” kataku ketus

“Yya. Kenapa kau tidak bisa memaafkan kesalahanku? Aku kan sudah minta maaf berulang kali padamu. Jebal maafkan aku nde?”

“Shiero. Nan neo neomu neomu neomu shireo!”

Dia menghimpitku ke tembok. Kini aku mulai takut dengan apa yang akan ia lakukan padaku. Aku ingin berteriak tapi rasa takutku menutupi segalanya. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dia lakukan, kini aku mulai menutup rapat mataku.

BRUGG

Suara apa itu? Aku mencoba membuka mataku perlahan dan aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat. No Minwoo meninju Yong Joo hingga ia terkapar di lantai.

“Gwenchana?” katanya padaku. Aku hanya bisa membeku saat ia menanyakan keadaanku.

“Gwen..chana..” kataku sedikit bergetar.

“Apa yang kau lakukan?” kata Yongjoo

“Bukankah aku yang seharusnya bertanya apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat? Yeoja ini sampai bergetar ketakutan akibat apa yang kau lakukan padanya.”

“Itu bukan urusanmu!” kata Yoongjoo sambil mengempalkan tangannya dan berniat meninju Minwoo tapi Minwoo dapat menepis tangan Yoongjoo dengan baik. Kemudian melipat tangan Yoongjoo ke belangkang. Yoongjoo yang tangannya dilipat ke belakang mengerang kesakitan.

“Kau. Jangan pernah ganggu gadis itu lagi. Arraseo.” kata Minwoo evil

“Arraseo.” kata Yongjoo. Setelah Minwoo melepaskan tangan Yongjoo. Yongjoo langsung pergi meninggalkan kami.

Minwoo tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung pergi meninggalkanku. Karena panik aku langsung menundukan kepalaku dan berterima kasih. Namun dia tak menjawab dan langsung pergi.

Sudah berhari-hari sejak saat itu, Yongjoo tidak berani lagi menggangguku. Kini aku bisa bernafas lega. Kini sudah jam istirahat, semua siswa dan siswi sekolah ini berlari keluar menuju kantin. Saat yang lain menuju ke kantin aku malah menuju tempat yang biasa aku datangi. Disana aku melihat ada Minwoo. Dan seperti biasa aku menyandarkan tubuhku ke tembok dan menatapnya. Dia hanya fokus pada buku yang ia baca dan tak menghiraukan sekelilingnya. Itu memang kebiasaanya dan merupakan salah satu daya tarik dari seorang No Minwoo.

“DOOR” seseorang mengagetkanku dari belakang. Aku kira dia siapa ternyata dia adalah Lee Yoonhee sahabatku. Dia memang tahu tempat aku berada jika aku tidak kekantin.

“Wae?”kataku datar

“Kau selalu saja disini. Apa kau menatap namja itu lagi.”

“Nde. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini?”

“Geunyang. Ah ya aku mau memberitahumu masalah sesuatu.”

“Mwonde?”

“Aku sudah jadian” katanya dengan sangat gembira.

“Dengan Lee Jeongmin?”

“Kureom. Ah Jeongmin kan sahabat Minwoo, aku akan membuat kalian dekat. Otthe?”

“Kurasa itu akan sulit. Kau tahu kan bagaimana sikap Minwoo.”

“Arrata. Keunde siapa tahu kalian memang bisa dekat. Otthe?”

Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan. Aku tahu Minwoo adalah sosok yang sangat sulit sekali didekati. Jadi kemungkinan aku bisa dekat dengannya hanya sedikit. Tapi biarpun sedikit aku ingin mencoba.

@Class

Setelah bel masuk, aku dan Yoonhee kembali ke kelas. Katanya hari ini Kang seosengnim tidak bisa hadir makanya jam hari kosong. Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan teman yang lain di kelas. Aku hanya selalu bersama dengan Yoonhee karena Yoonhee adalah temanku sejak kecil. Dan aku juga punya sedikit orang yang tidak menyukaiku. Dia adalah Seo Eunjung, aku tidak mengerti kenapa dia membenciku tapi aku berusaha agar tak terpancing bila dia sedang ingin menjahatiku.

“Yya Jung Hanna.” katanya

“Wae?”jawabku seadanya. Aku sekarang sedang malas berdebat.

“Yya apa kau seorang lesbian?”

“Mwo?” kataku dengan nada yang meninggi.

“Aku tak pernah sekalipun melihatmu pacaran atau menyatakan suka pada seseorang.”

“Aku pernah pacaran dengan Yongjoo.”

“Ck ck ck. Bukankah kau pacaran saat SMP dan kau memutuskannya karena dia mentigakanmu. Apa kau trauma dengan hal itu dan kau tidak menyukai namja lagi dan kau berpaling menjadi seorang lesbian?”

“Hentikan bicaramu!” kini emosiku sudah terpancing.

“Kalau begitu 3 hari lagi bawa pacarmu itupun kalau kau punya, ke malam prom night. Otthe?”

“Arraseo. Aku akan membawa pacarku kesana”

“Baiklah aku pegang kata-katamu Jung Hanna. Jika kau tidak membawanya kau akan dicap satu sekolah sebagai lesbian”

Aku hanya bisa menahan amarahku saat ini.

“Yya bagaimana kau bisa mendapatkan pacar hanya dalam waktu 3 hari?”

“Ah molla”

Skipp

Tidak terasa malam prom night tinggal 1 hari lagi atau lebih tepatnya besok. Dan aku bahkan belum memiliki pacar. Apa yang harus kulakukan aku pasti akan dicap sebagai lesbian. Kenapa nasibku jadi begini.

Aku berjalan-jalan di sekitar taman belakang sekolah. Disini cukup sepi jadi aku bisa menenangkan pikiran. Kulihat ada kursi di depan, kursi yang menjadi tempat Minwoo biasa membaca buku. Kenapa dia tidak datang kemari hari ini. Karena kursi itu sepi jadi aku duduk disana.

“Apa yang kau lakukan disini?” kata seseorang yang menghilangkan lamunanku. Saat aku berbalik aku sangat terkejut, dia adalah Minwoo.

“Ani. A..ku akan pergi, jadi kau bisa duduk disini.” kataku sedikit gugup

“Gwenchana. Duduk saja disini. Selama kau tidak ribut dan menggangguku aku tidak akan mempersalahkannya.”

Cukup lama kami duduk disini, dan tidak ada percakapan sedikitpun. Ini membuatku merasa bosan. Saat aku hendak bangun dia sudah bangun lebih dulu, kurasa dia akan kembali ke kelas.

“Changkaman Minwoo-ssi.” kataku tiba-tiba sehingga dia langsung membalikkan badanya dan menatapku.

“Wae?”

“Maukah kau jadi pacarku!”

“Mwo? Apa begini caramu menyatakan perasaan?”

“A..ni bukan begitu. Tapi aku hanya ingin kau menjadi pacar bohonganku?”

“Mwo?”

Apa yang kau katakan sih Jung Hanna. Tapi kau tidak ada pilihan, gerutuku dalam hati.

“Sashireun aku harus memiliki pacar pas malam promnight. Jika tidak mereka akan mengataiku lesbian.”

“Kenapa kau memilihku? Bukankah masih banyak namja di sekolah ini?”

“Keuge… Kau mau apa tidak?”

Dia tak menjawab dan langsung pergi meninggalkanku. Apa yang harus kulakukan sekarang.

Skiip

@ Promnight

Aku tetap saja datang dan tak membawa pacar. Aku harus bersiap dikatai sebagai seorang lesbian. Yoonhee datang bersama Jeongmin. Dia membuatku iri saja.

“Yya kenapa kau datang sendiri? Mana pacarmu?”

“Keuge..”

“Kau pasti akan dikatai lesbian sekarang.”

Aku hanya bisa pasrah saja.

“tes tes” kata Eunjung diatas panggung.”Hari ini aku ada pengumuman penting. Jung Hanna dari kelas 3-2 membuat taruhan denganku, jika hari ini dia tidak membaca seorang pacar berarti dia terbukti sebagai lesbian”

Aissh sial. Dia mengumumkannya lewat mic lagi. Semua orang pasti tahu masalah ini.

“Jung Hanna silahkan naik ke panggung dan bawa pacarmu itu.”

“Mwo?”

Yang lain mendorongku sehingga aku akhirnya ada di atas panggung. Sial mereka pasti akan mengingatku sebagai seorang lesbian.

“Bagaimana? Mana pacarmu?”

“Soal itu…” aku hanya bisa menunduk.

“Jadi kau benar seorang lesbian” kata Eunjung sambil tertawa.

Aku hanya bisa menundukan kepalaku dan kulihat semua orang menatapku dengan tatapan jijik. Tamatlah riwayatku sekarang.

“Tunggu!” teriak seseorang. Spontan saja kami semua menoleh kepada seseorang yang berteriak tadi.

Dia mulai berjalan ke arah panggung. Dan orang itu adalah No Minwoo? Apa yang dia lakukan?

“Waeyo No Minwoo-ssi?”kata Eunjung

“Aku hanya ingin memberitahukan sesuatu.”

“Mwonde?”

Minwoo memegang tanganku dan berkata

“Dia Jung Hanna adalah yeojachingguku.” seketika ruangan menjadi ribut dengan apa yang dikatakan oleh Minwoo. Aku pun ikut kaget dengan apa yang dikatakannya. Bukankah dia tidak ingin menjadi pacarku?

“Minwoo-ssi tolong jangan bercanda. Mana mungkin Hanna adalah yeojachinggumu.” kata Eunjung dengan nada tidak percaya

“Ani aku tidak bercanda. Kami sudah lama pacaran tapi aku menyuruh Hanna untuk merahasiakannya. Karena aku tidak mau ada yang mengetahui hubungan kami yang sebenarnya.”

“Kalau kau memang namjachinggu Hanna. Coba kau cium dia di depan kami”

Apa yang Eunjung katakan? Cium? Apa dia sudah gila? Mana mungkin seorang No Minwoo menciumku.

“Arraseo.”

Apa? Apa aku tidak salah dengar? Minwoo mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku hanya bisa memejamkan mataku rapat-rapat dan

~Chu~

Dia benar-benar menciumku. Ciumannya tidak sebentar, aku hanya bisa pasrah dengan  apa yang dia lakukan padaku. Setelah cukup lama akhirnya ia melepaskan ciumannya.

“Apa sekarang kalian percaya?” kata Minwoo dengan senyum kemenangan.

Mereka hanya bisa diam saja melihat aksi yang dilakukan oleh Minwoo. Minwoo menarikku keluar dari ruangan itu. Semua mata menuju kearah kami dan aku hanya bisa menundukkan kepalaku.

Setelah di luar ia melepaskan gandengan tangannya denganku. Lalu dia berjalan mendahuluiku. Aku hanya bisa mengikuti jalannya saja. Kurasakan kakiku sakit karena harus memakai highheel. Aku memang tidak terbiasa mengunakan barang seperti ini, sehingga membuat kakiku menjadi lecet. Minwoo menghentikan jalannya. Kurasa ia sadar kalau cara jalanku sedikit berbeda.

“Wae?” kataku

“Kenapa kakimu?”

“Hanya lecet. Aku tidak terbiasa memakai highheel.”

Dia mendudukkanku di salah satu bangku yang ada di tempat ini. Lalu ia melepaskan sepatuku dan melihat kakiku. Aku sedikit meringis menahan sakit. Lalu ia jongkok didepanku tetapi memunggungiku. Kurasa ia ingin aku naik dipunggungnya.

“Cepatlah naik.”

“Ah n..de.”

Dia menggendongku menuju ke rumah kontrakanku.

“Apa aku tidak berat?”

“Ani. Oh ya kurasa kau harus membayar apa yang telah aku lakukan padamu.”

“Arraseo.Kau ingin aku membayar bagaimana?”

“Aku belum memikirkannya saat ini.”

Aku hanya bisa diam. Setelah percakapan itu, kami larut dalam kesunyian, tidak ada yang memulai percakapan sehingga kami hanya bisa diam saja selama perjalanan.

Skiip

Setelah kejadian itu, aku dan Minwoo pacaran. Lebih tepatnya pacaran bohongan. Eunjung tidak berani lagi menggangguku. Tapi masalah yang terbesar sekarang adalah aku selalu diganggu oleh fans Minwoo. Lokerku diisi sampah lah, diisi kecoak atau binatang lainnya. Hal ini membuatku pusing.

Kini aku berjalan-jalan di sekitar taman, dan aku melihat ada Minwoo yang duduk dibangku yang biasa ia duduki. Lalu aku menghampirinya dan duduk disampingnya.

“Kenapa wajahmu lesu seperti itu?” katanya tapi tetap fokus ke bukunya.

“Ania.”

“Oh begitu. Jika tidak mau cerita yang sudah.” katanya dan tetap tak bergeming dari kegiatannya membaca buku.

“Apa kau memang seperti ini?”

“Mwo?” akhirnya ia menatapku.”Apa maksudmu?”

Aku membuang nafas kasar.

“Meskipun kau hanya pacar bohonganku bukankah setidaknya kau harus lebih perhatian padaku. Apa kau tahu apa yang ku alami selama aku berpacaran denganmu?” kataku dengan nada tinggi.

“Bukankah itu resikomu?”

“Mwo? Ah.. Neo jinjja…” aku langsung meninggalkannya tanpa berkata apapun padanya. Dan dia tidak mengejar. Sekuat tenaga aku menahan tangisku agar tidak pecah.

Sudah berhari-hari aku tidak pernah bicara dengan Minwoo. Jika kami berpapasan aku dan dia hanya akan diam saja dan lewat begitu saja. Sekarang aku dan Yoonhee serta Jeongmin ada di kantin. Aku hanya bisa melihat kemesraan mereka.Mereka tahu kalau aku dan Minwoo hanya pacaran bohongan.

“Hanna-ah apa kau sedang marahan dengan Minwoo?” tanya Jeongmin padaku dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Ada yang ingin ku katakan padamu Hanna-ah ini tentang masa lalu Minwoo. Sebenarnya Minwoo pernah dicampakan oleh pacarnya, itu terjadi saat kami masih SMP. Minwoo mempunyai seorang pacar yang bernama Haneul. Minwoo sangat mencintai Haneul tetapi karena sikap Minwoo yang cuek membuat Haneul berpaling dan berselingkuh dengan namja lain. Saat mengetahui hal itu Minwoo menjadi sangat marah dan tidak mau menyukai seseorang lagi.”

Setelah mendengar cerita Jeongmin, aku menjadi sedikit iba dengan Minwoo. Meskipun setelah mendengar cerita itu, aku masih tidak mau bicara dengan Minwoo. Minwoo juga tidak pernah bicara denganku. Hari ini adalah hari tenang alias hari tanpa belajar. Karena kami sudah selesai ujian, maka kami hanya perlu menunggu upacara kelulusan dan sekolah tapi tidak belajar. Cukup membosankan memang tapi mau bagaimana lagi. Sebenarnya ada hal yang ingin kukatakan pada Minwoo yaitu mengenai kuliahku. Aku memilih ikut eomma dan appa tinggal di Amerika dan kuliah disana. Meskipun kami hanya pacar bohongan tapi aku tetap ingin mengatakannya. Yoonhe dan Jeongmin juga tidak tahu masalah ini. Aku ingin mengatakannya pada mereka saat kelulusan nanti.

Skiip

Aku dengar nanti sore sepulang sekolah ada pengumuman tentang hari kelulusan. Sekarang aku ada di toilet, badanku mulai terasa tidak enak. Mungkin karena aku belum makan dari tadi pagi. Saat ada di salah satu bilik toilet aku merasakan ada yang mengunci pintu toilet ini. Kurasa itu adalah fans Minwoo.

“Yya buka pintunya!” kataku sedikit panik.

“Shiero Sunbae” Ternyata Hoobae ku.

“Yya kalian apa yang kalian mau dariku.?”

“Jauhi Minwoo oppa kami.” Sudah kuduga kalau mereka adalah fans Minwoo.

“Yya jangan main-main. Cepat buka pintunya.”

“Selamat tinggal Sunbae.” Kudengar suara langkah kaki menjauh kurasa mereka meninggalkanku sekarang. Bagaimana ini? Nanti ada pengumuman kelulusan di lapangan.

Sudah 3 jam aku terkunci disini. Dan tidak ada yang menolongku. Lalu kenapa toilet ini sepi sekali. Badanku terasa makin lemas, kepalaku juga pusing. Kudengar ada suara kaki yang masuk ke toilet.

“Chogio. Apakah ada orang di luar?”

“Nuguseo?” kata Yeoja itu. Suaranya seperti suara Eunjung.

“Eunjung-ah. Ini aku Hanna. Tolong aku, aku sudah terkunci disini selama 3 jam.”

“Hanna? Bagaimana bisa?”

“Tolong buka pintunya jebal.”

Dia langsung membukakan pintu untukku.

“Gomawo.”

“Yya neo gwenchana? Wajahmu terlihat pucat”

“Gwenchana,khokjongmal. Bukankah sebentar lagi akan ada pengumpulan siswa di lapangan”

“Ah nde. Tapi mereka semua sudah mulai berkumpul.”

“Jinjja? Kurasa aku harus kesana sekarang. Untuk yang tadi Jinjja gomawo.”

Untung saja Eunjung sekarang sudah mulai baik padaku. Jika tidak mungkin aku akan terkurung seharian.

Aku berjalan sedikit lunglai. Kurasa aku memang benar-benar sakit. Namun kutahan rasa sakit itu. Kini aku sudah ada dilapangan dan mereka semua sudah berkumpul. Kepala sekolah memberikan pengarahan pada kami tentang upacara kelulusan nanti. Setelah selesai semua siswa mulai bubar. Kurasa kakiku terasa lemas sekarang dan mataku mulai kabur. Setelah itu aku membuka mataku dan aku merasakan bau obat. Kurasa sekarang aku ada di UKS saat melihat ke arah samping aku melihat Yongjoo. Kenapa dia disini?

“Kau sudah sadar? ”

“Nde. Apa kau yang membawaku kemari?”

“Nde. Kau tadi terlihat lemas dan saat hendak menghampirimu kau malah pingsan.”

“Gomawo. Aku mau pulang sekarang”

“Apa kau mau aku antar?”

“Tidak usah.” Aku berjalan mendahului Yongjoo. Dan saat ada di depan UKS aku lihat ada Minwoo. Yongjoo meninggalkan kami dan kembali lebih dulu.

“Ternyata kau baik-baik saja.” Apa? hanya itu yang dia ucapkan setelah melihatku pingsan?

“Apa kau tidak khawatir padaku?”

“Kau terlihat baik-baik saja. Untuk apa aku khawatir.”

“Neo jinjja. Jadi ini sebabnya mantan pacarmu mencampakanmu dan memilih namja lain. Itu semua karena kau tidak perduli dengan apa yang terjadi dan kau tidak bisa perhatian”

“Nde. Aku memang cuek dan pernah dicampakkan dan kau merasa senang sekarang?” katanya dengan nada tinggi.

“Nde kau benar. Kita putus.”

“Putus? Bahkan kita hanya pacaran bohongan.”

Aku tidak menjawab kata-katanya dan langsung meninggalkan. Kini bulir-bulir bening jatuh dari mataku dan membasahi pipiku, tapi aku tetap membiarkannya. Aku sudah muak dengan sikapnya.

Skiip

@Upacara kelulusan

Setelah upacara kelulusan selesai aku menceritakan kalau aku dan Minwoo sudah putus pada Yoonhee dan Jeongmin. Selain itu aku juga mengatakan kalau aku akan pergi ke Amerika. Mereka hanya bisa mencoba memahami keadaanku. Setelah itu aku berangkat menuju bandara. Pada akhirnya aku tak mengatakan apapun pada Minwoo dan hubungan bohongan kami benar-benar berakhir.

 

Minwoo POV

5 Tahun kemudian

@Seoul

Kini aku sudah menjadi seorang direktur di perusahaan appa. Setelah kuliah selama 3 tahun dan bekerja sebagai manager akhirnya sekarang aku diangkat menjadi seorang direktur. Kini aku tinggal di rumahku sendiri. Hari ini adalah hari libur. Berhubung libur aku memilih untuk membersihkan rumahku. Karena rumah ini sangat berantakan saat aku belum sempat membersihkannya.

Setelah selesai membersihkan ruang tengah, dapur, dan kamar mandi kini aku akan membersihkan kamarku. Saat bersih-bersih kamar aku tidak sengaja melihat album kenangan saat SMA dulu. Karena sedikit berdebu aku membersihkannya. Sebelumnya saat penerimaan album kenangan ini aku tidak pernah membukanya, kini aku sedikit penasaran. Aku membuka album itu. Melihat teman sekelas maupun teman seangkatanku. Saat membalikkan beberapa halaman aku melihat foto yang membuatku kembali mengingat masa laluku, yaitu fotoku yang berciuman dengan Hanna di malam prom night. Aku tidak percaya mereka memasukkan foto itu. Foto ini membuatku kembali mengingatnya lagi dan merasakan penyesalan yang terdalam.

TING NUNG

Kudengar ada yang memencet bel. Kurasa itu Jeongmin dan Yoonhee. Mereka memang sering kemari. Aku keluar kamar dan membukakan mereka pintu.

“Kenapa kau lama sekali?” kata Jeongmin kesal.

“Mian. Tadi aku ada di kamar.”

“Wah tumben rumahmu bersih.” kata Jeongmin dengan nada mengejek.

“Diam kau. Untuk apa kalian kemari?” tanyaku pada mereka setelah mengambilkan jus dari dapur.

“Kami hanya ingin memberikan undangan ini.” kata Yoonhee.

“Ini undangan apa?”

“Reuni SMA kita.”

“Tumben mengadakan reuni. Huksi dia akan datang?”

“Maksudmu Hanna?” kata Yoonhee. Aku hanya membalasnya dengan anggukan.

“Molla. Dia tidak pernah menghubungiku sejak 5 tahun yang lalu.” Kata Yoonhee.

“Kenapa? Apa kau merindukannya?” kata Jeongmin.

“Nde. Neomu neomu bogoshipda.”

“Sabarlah.”

“Andai saja waktu dapat diputar, aku pasti akan mempertahankannya. Andai saja waktu itu aku bisa mengatakan yang sejujurnya. Andai saja..”

“Sudahlah. Lagipula semua sudah terjadi.” kata Yoonhee memotong kata-kataku.

“Yoonhee benar. Kau harus bisa move on. Jika kalian memang ditakdirkan bertemu, kalian pasti akan bertemu lagi.”

Aku hanya membalas perkataan Jeongmin dan Yoonhee dengan senyuman. Memang benar yang dikatakan mereka, kalau kami ditakdirkan pasti kami bisa bersama.

Skip

@Malam Reuni

Suasana sangat ramai disini. Pihak panitia bahkan mengundang Sistar sebagai bintang tamu mereka. Para namja bersorak ketika Sistar menyanyikan lagu Alone. Aku tidak fokus pada apa yang ada di panggung. Aku sedang mencari seorang yang sudah 5 tahun belakangan ini aku rindukan. Aku mencarinya di antara banyaknya undangan yang datang hari ini. Hasilnya nihil, aku sudah mencari di berbagai sudut ruangan dan tidak menemukannya. Kini aku sudah putus asa.

Pesta telah selesai diadakan. Semua undangan sudah mulai kembali ke rumah mereka. Sedangkan aku, aku hanya diam memantung berharap kalau dia akan datang. Tapi kurasa sangat kecil harapan itu. Saat hendak meninggalkan ruangan, aku melihat seseorang yang tergesah-gesa berlari ke ruangan ini. Aku hanya bisa mematung melihat sosok yang datang. Aku menatapnya lekat-lekat. Dia juga sadar aku menatapnya dan ia mulai menghampiriku. Dia adalah Jung Hanna.

“Minwoo-ssi?”

Aku tidak dapat berkata apa-apa dan langsung saja aku memeluknya erat-erat seolah-olah tidak mau kehilangannya lagi. Dia tidak melawan ataupun membalas pelukanku.

“Waeyo?”

Aku melepaskan pelukanku dan menarik tangannya menuju taman belakang sekolah. Dia tidak menolak dan mengikutiku. Setelah sampai di taman belakang aku mengajaknya duduk di bangku yang biasa kami tempati dulu.

“Bangku ini. Kau selalu membaca buku disini.” katanya pelan.

“Dan kau selalu memperhatikanku dari tembok itu.” kataku sambil menunjukkan tembok tempat biasa ia berdiam saat memperhatikanku.

“Otthokhe neo arra?” katanya sambil menatapku lekat.

Aku menanggapinya dengan senyuman.

“Awalnya aku kira kau tidak memperhatikanku, tapi lambat laun aku sadar kalau kau sedang memperhatikan aku yang sedang membaca.”

“Begitu ya.”

“Lalu aku mulai jatuh cinta padamu.”

“Mwo?” katanya terkejut.

“Saat kau memintaku menjadi pacar bohonganmu, sebenarnya aku sangat terkejut. Saking terkejutnya aku sampai tidak bisa bilang apa-apa lalu meninggalkanmu.”

“Lalu jika kau memang menyukaiku, kenapa kau begitu cuek padaku?”

“Aku… hanya takut.”

“Takut?”

“Nde. Aku takut kau mencampakkanku seperti yang dilakukan oleh mantan pacarku.”

“Lalu kenapa kau setuju saat kita putus?”

“Itu karena aku terpancing emosi. Aku marah karena saat kau pingsan bukan aku yang membawamu ke ruang UKS dan aku marah saat kau membahas masalah mantanku.”

Hanna tidak menanggapinya. Ia hanya memalingkan wajahnya. Tubuhnya sedikit bergetar, kurasa ia menahan tangisnya.

“Aku mau pulang.”katanya dengan nada sedikit bergetar dan beranjak bangun tapi aku menahan tangannya dan mendudukannya kembali di bangku itu. Lalu aku jongkok dihadapannya. Kurasa dia tidak dapat menahan air matanya lagi, lalu perlahan buliran bening itu jatuh dari kelopak matanya. Aku tidak mencegahnya untuk menangis, aku hanya menghapuskan air matanya yang ada dipipinya.

“Uljjima.”

Dia masih saja menangis. Lalu aku memegang pipinya dan mendekatkan wajahku padanya. Perlahan aku menyentuh bibir mungilnya dengan bibirku ia tidak melawan. Aku menciumnya dengan lembut. Setelah kulepaskan ciumanku, dia mulai berhenti menangis.

“Ada 3 hal yang ingin kukatakan padamu.” kataku.

“Mwonde?”

“Yang pertama, Mianhae karena aku pernah menyakitimu dan tidak jujur padamu.Yang kedua, gomawo karena telah kembali padaku. Yang ketiga…” aku menggantung kata-kataku dan Hanna terlihat begitu penasaran. “Saranghae”

Hanna terlihat tersenyum malu.

“Nado Saranghae No Min Woo.” katanya dengan senyum indah di bibirnya.

Kami berpelukan dan berciuman di taman itu, hanya ada kami berdua dan taman itu menjadi saksi bisu kebahagiaan kami.

Skiip

Sudah beberapa hari sejak aku bertemu dengan Hanna. Namun aku belum bertemu dengannya lagi setelah pertemuan kami di acara reuni. Dia bilang kalau dia sedang mengurus sesuatu.

Hari ini aku akan mendapatkan sekretaris baru di kantor karena sekretarisku yang lama sudah pensiun. Saat hendak memasuki area ruanganku, ada seseorang yang menyalamiku. Aku begitu terkejut begitu melihat wajahnya.

“Hanna-ah apa yang kau lakukan?” kataku terkejut dan membuat beberapa karyawan menatapku.

“Anyeonghasemika. Nan Jung Hanna imnida direktur”

“Mwo? Huksi kau sekretasiku yang baru?”

“Nde.”

Aku kembali ke ruanganku dengan pikiranku yang selalu mengarah pada Hanna. Setelah berhari-hari aku tidak melihatnya dia malah menjadi sekretarisku yang baru. Aku menghubungi Hanna dengan telepon kantor.

“Sekretaris Jung nanti kau makan siang denganku”

“Nde. Algesemida”( saya mengerti dalam bahasa formal)

@Lunch

“Kenapa kau bisa menjadi sekretarisku?” kataku membuka percakapan kami setelah memesan makanan.

“Wae? Apa tidak boleh?”

“Ani. Bukan seperti itu, hanya saja tiba-tiba.”

“Aku dulu juga bekerja sebagai sekretaris di Amerika. Berhubung aku tinggal di Korea makanya aku mencari pekerjaan disini dan kebetulan juga aku diterima di perusahaanmu.”

“Kau membuatku terkejut. Jadi kau bilang kalau kau sibuk selama ini karena kau mencari perkerjaan?”

“Nde. Lagipula aku juga lebih gampang mengawasimu.”

“Mengawasiku? Kau kira aku akan selingkuh?”

“Siapa tahu” katanya sambil mengangkat sedikit bahunya.

“Aku tidak akan selingkuh. Yakso. Oh ya masalah reuni waktu ini darimana kau tahu?”

“Yongjoo yang memberitahuku kalau ada acara reuni.”

“Kau masih berhubungan dengan namja itu?”

“Ani. Kebetulan saja kami bertemu di supermarket saat aku pulang ke Korea.”

“Kau tidak ada hubungan apa-apa kan dengannya?”

“Kureom. Geunyang chinggu.”

“Jinjja?”

“Nde. Jinjja. Karena ada orang yang kucintai.”

“Nugu?” kataku sambik meledeknya.

“No Minwoo. Apa kau puas?”

“Hehehe”

Kami menikmati makan siang bersama. Bersama orang yang kucintai.

~The End~

This entry was posted by kepangmusic.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Starting From Lie Become Real

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: