[FANFICT/FREELANCE] Stuck With You – Chapter 02

Title
: Stuck With You – Chapter 2
Author : Monika Refsi
Genre : Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin  ~ Jo Kwangmin

  ~ Kim Jae Yeon

  ~ Kim Jeong Min

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Summary:

Kim Jae Yeon, gadis belia yang baru pindah dari Sekolah Menengah Atas di Busan ini dihadapkan berbagai rintangan yang ada di Ibukota Korsel, Seoul. Terjebak diantara 2 orang dengan wajah sama tetapi berbeda karakter 180˚. Mereka adalah Jo Twins (Si Kembar Jo). Ya, mereka memang kembar. Lantas, siapakah sebenarnya yang ada di hatinya? Sang Kakak-an yang penuh kharisma dan lembut, atau sang adikan yang tingkah lakunya selalu membuat geleng kepala? Apakah Jae Yeon akan kerasan berada di sekolah barunya sementara ia terlibat konflik dengan Kwang Min?

Chapter 2 

 

Keesokan Harinya…

Jae Yeon melihat Kwang Min ada disisi pilar kelasnya sambil memakai handset. Tapi… tunggu dulu. Apa itu benar-benar Kwang Min? Atau itu Young Min? Kalau dia Kwang Min, untuk apa dia ada didepan kelas Jae Yeon? Apakah Young Min memberitahunya kalau dia sekelas dengan gadis yang membawa masalah dengannnya? Tapi itu tidak mungkin. Hubungan mereka tampak tak seakrab itu. Berarti itu Young Min? Bagaimana kalau Jae Yeon salah memanggilnya?

Jae Yeon pun akhirnya memberanikan diri untuk mendekatinya, namun dia tetap ragu, ”Bagaimana kalau itu Kwang Min yang masih marah kepadaku mengenai kejadian kemarin? Aish.. bisa-bisa dia malah akan tambah murka melihat ku lagi.. aishh…!” gumam Jae Yeon sambil mengacak-acak rambutnya karena dibingungkan oleh namja itu.

“Tapi, bagaimana kalau itu Young Min yang ingin memulangkan buku ku yang dipinjamnya kemarin? Tapi, kalau itu benar, kenapa Young Min tidak memberikannya ketika dikelas saja? Kenapa dia harus berdiri di depan kelas? Keurigu…

“Apa yang kau lakukan?!”

Aigoo! Kamjagiya!” Jae Yeon terkejut karena pria berhandset itu sudah ada didepannya. “Apa yang kau lakukan?!” Jae Yeon malah bertanya balik.

Yaa! Kenapa kau harus selalu membentakku? Apa tidak bisa kau berbicara halus?!” sahutnya balik.

Jae Yeon pun akhirnya yakin kalau pria ini adalah Kwang Min. Tapi, apa yang dilakukannya didepan kelasnya?

“Aku rasa kau yang tak bisa berbicara halus!”

“Untuk apa aku berbicara halus pada orang gila yang berbicara sendiri sambil mengacak-acak rambutnya?”

Mwoya?! Kau bilang aku orang gila? Kau ini…” Kwang Min menutup mulut Jae Yeon karena ia sadar semua orang sedang memperhatikan mereka.

Yaa! Aku tidak mau membahas tentang hal ini, kenapa kau terus berbicara?”

Mwo? Aku..”

“Sudahlah, aku kemari hanya ingin mengambil bajuku yang kemarin kau cuci bukan untuk ribut,”

“Baju?”

Yaa! Kau lupa atau bagaimana?! Bukankah bajuku basah karenamu dan kau bertanggung jawab untuk mencucinya?!”

Kwang Min sepertinya benar benar marah pada Jae Yeon.

“Oh, mian. Aku tidak lupa, Keunyang…”

“Halah! Sudahlah! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu! Besok kau harus mengantarkannya ke kelas ku! Hari ini aku masih memberimu waktu. Arra?!” bentak Kwang Min.

Keundae…” belum sempat Jae Yeon berbicara Kwang Min sudah pergi meninggalkannya yang masih tergagap.

Ya! Kwang Min-ah! Aishnamja ini sangat tidak tahu sopan santun! Kenapa dia tidak mengijinkan aku untuk berbicara? Tapi, bukankah aku pun begitu tadi? Ah sudah lah!” Jae Yeon pun kembali ke kelas.

 

Eottohkajji?” Jae Yeon terus bergumam dalam hatinya. Young Min sedari tadi menyadari ada yang aneh sejak Jae Yeon memasuki kelas sampai jam pelajaran berakhir. Young Min pun segera menghampirinya yang sepertinya sedang terburu-buru.

“Jae Yeon-ah!” Jae Yeon sepertinya tidak menyadari hal itu, dia tetap saja berjalan hingga tanpa sadar menabrak Jeong Min.

Omona!” Jae Yeon pun terjatuh tanpa sempat di gapai oleh Young Min maupun Jeong Min. (author sengaja biarin Jae Yeon jatuh, biar agak dieman dikit -_-)

Gwaenchanha?” tanya Young Min, Jae Yeon mengangguk.

“Ya Jae Yeon-ah, apa yang sedang kau pikirkan sampai kau menabrakku?” tanya Jeong Min sambil merapikan buku-buku Jae Yeon yang berantakan di lantai.

“Huh? Naega? Aniya, aku hanya terlalu capek saja,” bohong Jae Yeon, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin membicarakan Kwang Min didepan Young Min walaupun temannya Jeong Min bertanya padanya.

“Apakah kau yakin?” tanya Young Min memastikan.

“Ne, nan gwaenchanha,” Jae Yeon pun tersenyum demi memastikan kedua temannya yang sepertinya sangat khawatir.

“Kalau begitu, ayo kita pulang,” ajak Jeong Min. Mereka memang berencana pulang bersama karena rumah mereka pun bersebelahan.

Aniya, aku akan ke toko buku sebentar,”

“Kau akan ke toko buku?” tanya Young Min

Eo, ada yang ingin ku cari disana,”

“Oh, baiklah kalau begitu, aku pulang duluan. See ya Jae Yeon!”

See ya!” Jae Yeon pun melambaikan tangannya dengan tersenyum.

“Kau kenapa masih disini?” Jae Yeon baru menyadari Young Min belum beranjak dari tempatnya.

“Kau bilang kau akan ke toko buku, bagaimana kalau aku menemanimu? Lagipula, kau baru pindah dari Busan kan? Apa kau tahu kemana kau akan mencari toko buku?” tawar Young Min.

“Ah keruae! Kenapa aku bisa lupa? Keundae, apa tidak akan merepotkanmu?”

“Tentu saja tidak,” Young Min memasang senyum memastikan,”Aku juga mau kesana, aku dengar ada café di pinggir sungai Han yang punya es enak. Bagaimana kalau setelah itu kita singgah ke sana?”

“Mmm…. Sepertinya seru!” Jae Yeon tak bisa menolak tawaran Young Min. Malah dia merasa bersyukur punya waktu bersama Young Min untuk melepaskan penatnya.

“Oke, Kajja !”

Mereka pun pergi, tanpa mereka sadari banyak mata memandang tidak suka ke arah mereka. Tentu saja dikarenakan selama ini hanya Jae Yeon-lah gadis yang pernah diajak Young Min. Sebelumnya tak pernah ada gadis lain kecuali mereka yang meminta Young Min untuk sekedar jalan. Sudah jelas gosip-gosip tak mengenakkan pun mulai tersebar.

 

Setelah mereka selesai mencari-cari buku, mereka lalu pergi ke café dekat sungai Han seperti yang dibilang Young Min. Young Min memulai pembicaraan tentang kelakuan Jae Yeon yang terlihat aneh dikelas.

“Mm.. Jae Yeon-ah, kenapa sepanjang jam pelajaran tadi, wajahmu tampak kusam? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?”

“Ah, apa aku terlihat seperti itu?”

Young Min mengangguk.

“Mmm… keugae… apa kau benar-benar mau mendengarkan ceritaku?”

Young Min kembali mengangguk memastikan.

Keugae.. sebenarnya itu karena Kwang Min…” Jae Yeon tidak sadar kalau saat itu juga Young Min telah menyimpan senyumnya yang sedari tadi menghiasi wajahnya.

“Aku.. membuat baju basketnya basah & kotor terkena air bekas pel. Aku tak sengaja melakukannya, jinjja, jadi aku ingin bertanggung jawab untuk mencucinya,”

Young Min masih mendengarkan. Jae Yeon menghela nafas.

“Hhftt… masalahnya, Kwang Min memintaku untuk membawanya hari ini. Sepertinya benar-benar sedang dibutuhkan. Tapi aku tidak membawanya,” terlihat jelas Jae Yeon merasa bersalah. “Aku lupa kalau aku menitipkannya pada Oppa untuk di Laundry. Dan aku baru sadar kalau Oppa baru akan pulang sore ini… Nan eotteohkeyo? Kwang Min pasti akan marah besar padaku,”

“Sudahlah. Dia takkan seperti itu. Kan aku sudah pernah bilang kalau dia itu sedikit sensitif terhadap yeoja,” Young Min tampak menghibur Jae Yeon dengan memasang senyum ‘keokcheong hajima’-nya

Keurae. Kau sudah pernah mengatakannya,” akhirnya Jae Yeon dapat sedikit tenang.

“Kau sudah siap dengan minumanmu?”

“Eum. Ayo pulang,”

Mereka akhirnya pulang kerumah sambil menyusuri tepi sungai Han. Ada sesuatu yang aneh menyusupi hati Jae Yeon saat jalan berdua dengan Young Min. Apalagi ditempat seperti ini.

Jamkkanman,” suara Young Min tiba-tiba menyadarkan Jae Yeon dari dunia khayalnya.

“Eo?

Young Min lalu berjongkok didepan Jae Yeon.

“Mwohanenun geoya?” Jae Yeon tampak heran. Lalu selanjutnya Young Min tanpa Jae Yeon sangka-sangka, mengulurkan tangannya ke sepatu Jae Yeon. Membetulkan sepatu Jae Yeon yang talinya terlepas. Melihat itu, reaksi Jae Yeon hanya bisa terbengong dengan wajah bersemu merah. Dia tak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

“Untung kau tidak terjatuh kesungai karena tali sepatumu yang terlepas,” canda Young Min kembali tersenyum

Young Min-ah. Apa yang telah kau lakukan padaku? Kenapa senyumanmu selalu membuat detak jantungku berantakan? Kenapa kau melakukan ini padaku? Young Min-ah. Apa karena ini kau digilai para yeoja? Karena pesonamu, kelembutanmu? Apakah perlakuanmu ini sama seperti kau memperlakukan yeoja-yeoja itu? Para fansmu? Jadi, aku hanya… seorang fans?’

Young Min kembali berdiri.

“Jae Yeon-ah, ada apa denganmu? Kenapa diam?Ada yang salah?”

Jae Yeon tersadar sekali lagi dari lamunannya.

Ah, Aniya.. gomawo.”

 

Sesampainya dirumah Jae Yeon langsung mencari-cari Oppa-nya

Oppa! Oppa! Oppa eoddiseo?” panggilan Jae Yeon mampu menyadarkan Oppa-nya dari tidurnya.

Yeoggiseo Jae Yeon-ah,” Dong Hyun keluar dari kamarnya. Dengan mengucek matanya dia bertanya malas pada Jae Yeon, ”Wae?”

Oppa eoddiseo? Eoddi?”

Mwo?” Dong Hyun tampak tak tertarik.

“Baju basket yang semalam aku titipkan sama Oppa. Oppa sudah mencucinya kan?”

“Oh, keugae. Oppa menaruhnya dikamarmu. Oppa lupa kalau kau menitipkannya. Jadi saat Oppa menyadarinya, ternyata bajunya kelunturan karena tercampur dengan kemeja Oppa. Mianhae.”

MWO?! Kelunturan?! Utkijima Oppa!”

Nan utki Aniya. Jongmal mianhae Jae Yeon-ah,”

Jae Yeon langsung menuju kekamarnya dan mencari-cari dimana Oppa-nya menaruhnya. Ternyata diatas tempat tidurnya dan terbungkus plastik Laundry. Dengan cepat dia membuka plastiknya untuk mengecek. Dalam batin dia berharap omongan Oppa-nya hanya bercanda. Tapi ternyata Oppa-nya terlalu jujur.

“Aaaaaaaa!!!!” Jae Yeon histeris melihat apa yang baru saja dilihatnya. Dia berharap saat itu juga hanyalah mimpi.

Dong Hyun terburu-buru menuju kamar dongsaengnya, “Wae irrae Jae Yeon-ah?” Dong Hyun mengguncang-guncang badan Jae Yeon agar mau bersuara.

“Jae Yeon-ah!”

Oppa! Kenapa ini bisa jadi seperti ini? Naneun eottohkeyo,Oppa?” Jae Yeon menyodorkan baju basket yang semula berwarna biru kini menjadi blasteran dengan warna merah. Wajah Jae Yeon berubah menjadi pucat pasi, ”Na juggeosso.”

Yaa, kau berteriak-teriak hanya karena baju ini? Aku kira kau kehilangan sesuatu yang penting.”

Oppa tidak tahu kalau ini juga penting bagiku? Setelah ini mungkin aku takkan pernah mendapatkan kedamaian lagi,” Jae Yeon menyahutinya dengan lemas.

“Memang ini baju siapa huh? Kenapa sangat penting bagimu? Seingatku kau tak pernah mempunyai baju basket. Kenapa juga harus kau yang mencucinya,eo?”

Jae Yeon tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Karena kalau Dong Hyun tahu Jae Yeon mengalami hari-hari sulit hanya karena baju basket Kwang Min yang tak seberapa ini, Dong Hyun mungkin sudah akan melenyapkan Kwang Min dari dunia. Makanya Jae Yeon berpikir keras untuk mendapatkan solusinya. Dia harus dapat mengembalikan baju Kwang Min seperti semula.

Lalu Jae Yeon mendapat ide, ”Ah, Keurae! Mungkin aku bisa mencarinya ditoko seberang? Keurae! Pasti masih ada waktu,” Jae Yeon berubah menjadi semangat.

“Jae Yeon-ah, ada apa sih denganmu?”

“Oppa, na kalkkeyo!”

Jae Yeon lalu segera pergi keluar dari kamarnya tanpa memberikan penjelasan yang berarti pada Oppa-nya.

Yaa, kau mau kemana?” Dong Hyun bahkan tak sempat menghentikannya. Jae Yeon telah menghilang.

 

Matahari pagi menjelang. Jae Yeon keluar dari rumahnya dengan seragamnya. Seperti biasa, Jeong Min sudah menunggunya didepan rumahnya. Namun pemandangan yang dilihat Jeong Min tidak seperti biasanya, Jae Yeon benar-benar terlihat seperti zombie. Wajahnya pucat dan tak bersemangat sama sekali.

“Jae Yeon-ah. Apa yang terjadi padamu? Kenapa dipagi hari begini kau sudah tak semangat? Apa kau sakit?” tanya Jeong Min khawatir.

Ani Jeong Min-ah. Apa kita harus berangkat sekolah hari ini?” Jae Yeon bertanya balik tanpa semangat. Sepertinya dia tidak berminat untuk pergi ke sekolah.

“Keurom! Hari ini kita akan belajar olahraga kan? Itu pelajaran yang paling menyenangkan selain musik,” Jeong Min menjawab dengan antusias.

“Eumm, sepertinya.”

“Ayolah Jae Yeon, fighting!”

Eo, fighting!”

Semangat Jeong Min mampu membuat Jae Yeon ikut bersemangat. Temannya yang satu ini selalu saja ada cara untuk membuatnya tersenyum. ‘Gomawo Jeong Min-ah. Kali ini aku takkan menyerah. Apapun yang terjadi, kau tetap masih ada disisiku kan?’

Mereka lalu menaiki bus yang berhenti di halte. Setelah 15 menit berlalu, mereka dapat berhenti di halte dekat sekolah. Jae Yeon menarik nafasnya dalam-dalam. Tapi tak sedikitpun mengurangi kegelisahannya. Meski dia telah berkeliling keseluruh toko yang ada di Gangnam, Jae Yeon tetap tak dapat mencari pengganti baju basket Kwang Min. Tampaknya baju itu bukan sembarang baju.

“Jeong Min-ah. Kau tahu Kwang Min berada dikelas mana?”

“Eum.. waeyo?” tentu saja Jeong Min tahu. Jeong Min benar-benar seperti fans Kwang Min yang selalu tau tentang seluk beluk tentang Kwang Min. Aneh..

Keugae, ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Jeong Min tampak ragu-ragu.

Ppali Jeong Min-ah! Sebelum kelas dimulai!”

Arrasseo. Dia ada dikelas 2-4. Kelas bahasa. Keundae, sebenarnya kau ada perlu apa? Kau mau aku temani?”

Gomawo Jeong Min-ah. Na kalkke!”

Yaa Jae Yeon-ah!”

Jae Yeon segera berlari menuju kelas itu. Dia punya waktu kurang dari 5 menit lagi sebelum kelas dimulai. Itu sebabnya dia harus bersegera.

 

Yaa Kwang Min-ah!” Jae Yeon berteriak demi memanggil Kwang Min yang akan segera masuk kelasnya. Kwang Min menoleh. Begitu melihat wajah Jae Yeon, dia langsung memasang wajah jutek.

“Ada apa?”

Jae Yeon berusaha mengatur nafas & mentalnya. Dia membuka tasnya & mengeluarkan isi tasnya, ”Aku ingin mengembalikan bajumu. Tapi sebelumnya,aku harus jujur padamu.”

Kwang Min punya firasat gak enak. Sepertinya ini ada apa-apanya.

Mwo?”

Jae Yeon melanjutkan omongannya, “Baju basketmu…. Kelunturan..” dengan akhir kalimat lirih. Tapi Kwang Min dapat mendengarnya dengan jelas. Benar saja, pasti ada apa-apanya.

“Mwo?!” Kwang Min langsung merebut baju yang ada ditangan Jae Yeon. Dan betapa shocknya dia melihat baju kesayangannya dihancurkan tanpa perasaan. Jae Yeon tak berani mengangkat wajahnya.

Yaa! Apa yang kau lakukan pada bajuku?! Kenapa bisa jadi seperti ini?!”

Dia kembali membentak Jae Yeon. Rasanya kesabarannya sudah tak tersisa lagi untuk gadis yang tak bisa berkutik didepannya.

Mianhae Kwang Min-ah. Jongmal mianhae. Aku tidak menyangka kalau ini akan jadi seperti itu. Aku akan menggantinya Kwang Min-ah. Beri aku kesempatan. Mianhae.. jongnmal mian..

Yaa! Kau kira masalah ini akan selesai hanya karena kau menggantinya?! Semudah itu, huh?!”

Jae Yeon tak dapat menjawab. Dia tahu rasanya kehilangan sesuatu yang berharga. Dan ia tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja. Jae Yeon sebenarnya sudah mau menangis. Tapi, didepan namja yang gak punya perasaan terhadap orang lain ini, tangisan menyesal takkan meluluhkan hatinya. Jadi, dia tidak mau terlihat lemah dimata Kwang Min.

Yaa! Kenapa kau malah diam?! Kau bilang kau akan bertanggung jawab, tapi apa yang kau lakukan sekarang? Kau menghancurkannya!” Kwang Min habis-habisan melampiaskan kekesalannya,”Yaa…

“Katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya. Aku akan melakukan apa saja. Jebal!”

Neo… aku tidak ingin berurusan lagi denganmu. Sudah cukup! Dasar gadis pembawa masalah!!” Kwang Min hendak pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Tapi tiba-tiba Jae Yeon tidak terima diperlakukan seperti itu.

Mwo? Mworago? Malhae,apa yang barusan kau bilang,”

Neo… gadis pembawa masalah! Orangtuamu pasti menyesal telah melahirkanmu!”

PLAAK!!

Kwang Min terperangah. Dia merasakan pipinya memanas. Gadis itu baru saja menamparnya. Benar-benar tak bisa dipercaya.

“Dengar ya, aku memang bersalah. Tapi semua kesalahan yang ku perbuat padamu bukan ku sengaja. Aku gak pernah mau hidupku susah hanya karena berurusan dengan namja kasar sepertimu. Kau boleh memarahiku, membenciku, terserah apalah. Tapi aku jelas gak terima dengan ucapanmu yang tadi!” Jae Yeon langsung berbalik & pergi meninggalkan Kwang Min yang masih memegangi pipinya. Dia sudah muak dengan semua ini. Semua pertengkaran yang tak berarti. Ini harus berakhir.

“Yaa! Neo michyeosseo? Neo juggo jullae?! Aish..

Percuma saja, Jae Yeon sudah menjauh. Kwang Min hanya bisa memegangi pipinya yang memerah. Memang tamparannya tak seberapa. Tapi tak ada seorangpun yang sebelumnya pernah menamparnya. Gadis itu pasti sudah benar-benar gila. Berani-beraninya dia mencari masalah apalagi sampai menampar Kwang Min. Kali ini Kwang Min tidak bisa tinggal diam. Dia harus memberi gadis itu pelajaran. Agar dia tahu namja kasar itu bagaimana sebenarnya.

 

“AAHH! Apa yang telah ku lakukan?! Kenapa otakku gak bisa mengontrol tangan dan ucapanku. Sekarang aku malah akan semakin berurusan dengannya.”

Jae Yeon berteriak frustasi. Apa-apaan ini? Jae Yeon bukanlah orang yang temperamental walau ia sebenarnya sangat sensitif. Tapi dia yakin kalau ia kembali sekarang dan meminta maaf pada namja arogan itu, Kwang Min pasti takkan memaafkannya dan mungkin Jae Yeon akan kehilangan harga dirinya. Bagaimanapun juga, Jae Yeon kan tidak sengaja. Dari awal ia sudah meminta maaf. Seharusnya Kwang Min dapat melihat bagaimana merasa bersalahnya Jae Yeon dan usahanya untuk memperbaiki kesalahannya. Dasar Kwang Min saja yang egois yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain.

“Jae Yeon-ah, kau darimana saja? Kenapa lama sekali? Dan ada apa dengan wajahmu? Kenapa cemberut?” tanya Jeong Min setiba Jae Yeon dilapangan.

“Gwaenchanha. Jongmal gwaenchanha,” Jae Yeon mencoba tersenyum.

“Apakah, mungkin, kau bermasalah lagi dengan Kwang Min?” Jeong Min bertanya tanpa tahu Young Min yang baru melewati mereka mendengarnya.

Yaa, bukankan sudah ku bilang untuk tidak menceritakan dia dengan siapa-apa?” Jae Yeon memelankan suaranya.

“Ah, ne. Mianhae. Aku keceplosan. Habis setiap kali kau seperti ini, itu pasti karena dia. Kenapa kau tidak cerita saja padaku?”

Keugae..

Young Min tidak mau mendengarkan lebih lanjut. Mendengar nama Kwang Min ada di pembicaraan Jae Yeon saja, Young Min tidak tahan. Itu menyakitinya. Young Min memutuskan untuk kembali bermain basket. Mungkin itu akan meredam emosinya?

 

Tiba saatnya pulang sekolah. Jeong Min mengatakan tidak bisa menemani Jae Yeon pulang karena dia akan pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Begitu juga Young Min yang tiba-tiba punya urusan mendadak sehingga tak dapat menemaninya juga.

Gwaenchanha, aku bisa pulang sendiri,”

Itu yang dikatakannya demi mengibur dirinya sendiri yang sedang berjalan pulang menuju halte yang sepi. Jae Yeon memang pulang agak telat dari jam pulang sekolahnya biasanya. Tapi hal yang terjadi berikut ini tentu saja diluar perkiraannya. Saat melewati gang gelap yang ada beberapa meter dari halte, Jae Yeon dikejutkan sesosok betubuh jangkung menggunakan jaket hitam keluar darisana. Jae Yeon begitu terkejut. Dia tak dapat melihat wajah dibalik topeng hitam yang dipakai sosok itu. Sesosok itu, mungkinkah seorang pembunuh bayaran? Seorang penculik psikopat? Atau, sang penyabut nyawa?! Jae Yeon sudah bersiap-siap melarikan diri. Dia membalikkan badannya tapi tangan sosok itu mencengkeram pundaknya, lalu menariknya ke dalam gang yang gelap. Tak perlu banyak tenaga untuk membuat Jae Yeon terperangkap. Sosok itu mencegah Jae Yeon melarikan diri dengan memukul dinding disebelah Jae Yeon. Mengurung Jae Yeon dalam penjara tangannya. Benar-benar tidak ada jalan keluar baginya!

‘Eottohkeyo? Nan eottohkeyo? Siapapun tolong selamatkan aku!’

Sosok itu menatapnya dibalik topeng. Tertawa senang melihat gadis didepannya panik. Biar tau rasa dia karena sudah berani mempermalukannya, itulah kata batinnya.

“Kau mau apa? Lepaskan aku!!”

 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

This entry was posted by kepangmusic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: