[FANFICT/FREELANCE] Troublemaker

Title
: Troublemaker
Author : Winda Widyastuti
Genre : Romance
Rating : PG
Type : Drabble
Main Casts
: ~ Minwoo 

  ~ Sunyoung

 

Kulangkahkan kaki dengan gontai dan terus merutuki seseorang yang terus saja mengetuk pintu dengan suara keras. Mungkin kalian mengira kalau seseorang itu merupakan rentenir berwajah mengerikan yang akan menagih hutang padaku, tapi sayang aku belum pernah berhutang pada siapapun. Atau kalian akan mengira kalau itu adalah seorang Ahjumma berambut keriting yang akan menagih uang sewa rumah, tapi sayangnya rumah ini adalah peninggalan Ayahku. Siapa orang yang berani-beraninya bertamu sepagi ini? Membuat kegaduhan pula –dengan suara ketukan pintunya yang keras–.

Aku tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan begini. Si tamu pasti sudah akan memakluminya.

 

Bunyi berderit dari engsel pintu sedikit terdengar ketika aku mulai membukakan pintu setelah sebelumnya membuka kunci pintu rumahku. Aku menutup mulut dengan telapak tangan, aku menguap. Mataku yang tadinya belum terbuka sempurna seketika membelalak. Dan keluar bunyi decakan dari mulutku. Bocah tengik itu lagi! Untuk apa dia datang sepagi ini? Pikirku. Langsung kututup lagi pintu rumahku dengan keras. Aku malas menghadapi bocah penganggu ini.

“Kya.. Sun Young tunggu dulu. Aish, buka pintunyaaaaa!!”

“Pergi! Sudah kubilang jangan menggangguku lagi, bodoh!”

Brak..brak..brak..brak.. bocah itu tak henti-hentinya menggebrak pintu dengan telapak tangannya. Aku masih berada di balik pintu tersebut untuk menahannya.

“Kau jahat sekali padaku, Sung Young. Ayolah buka pintunya, aku membutuhkan bantuanmu. Ini sangat mendesak,”

“Bantu apa, huh? Membantumu mengambil buah mangga milik Paman Shim dan pada akhirnya aku yang dimarahi, huh?” tandasku mengingat kejadian beberapa hari lalu yang sangat menyebalkan.

“Aish, kau memang selalu berfikiran buruk tentangku! Tugas fisika-ku, Young-ah,”

“Kerjakan saja sendiri, bukankah kau memiliki pacar yang pintar, huh?” ketusku dengan penuh rasa kesal padanya karena setiap dia sedang bersamaku, tidak, kuralat. Maksudku ketika dia memintaku mengerjakan tugasnya, dia selalu membanding-bandingkanku dengan teman perempuan yang satu kelas dengannya.

“Hei, bicara apa kau ini? Siapa? Aku tidak punya pacar!” tampiknya. Kemudian seakan ia mendapatkan pencerahan, tiba-tiba dia berdehem dan berkata, “Sun Young noona, maafkan aku telah mengganggu waktu istirahatmu. Tetapi aku membutuhkan bantuanmu untuk membantuku mengerjakan tugas fisika ini. Kuharap noona bersedia membantuku,”

Seketika aku mematung sejenak ketika mendengar tutur katanya yang lembut dan sopan. Yang benar saja, dia baru saja memanggilku dengan sebutan ‘noona’. Ini pertama kalinya dia berkata lembut dan halus padaku. Karena setiap hari Minwoo –laki-laki itu– yang usianya dua tahun lebih muda dariku berbicara denganku layaknya ia berbicara dengan teman satu gang-nya.

Rasanya tenggorokanku tercekat tidak bisa menyahuti apa yang baru saja Minwoo katakan. Aku menjawabnya dengan gerakan tanganku yang membukakan pintu. Dia tersenyum lebar. Aku langsung merebut buku yang dibawanya. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin karena pasti tugas Minwoo akan dikumpulkan hari ini juga. Aku mulai membuka-buka bukunya dan membaca soal-soal yang tertulis disana.

“Aku hanya akan menuliskan nomor soal pada setiap rumus yang ada di bukumu, jadi kau tinggal menyalin dan memasukan angkanya saja. Aku harus menyiapkan sarapan dan bekal untukku ke sekolah. Tapi jika ada yang tidak kau mengerti tanyakan saja padaku,”

“Iya iya, aku mengerti, Sun Young!” ucap Minwoo malas, aku mendelik sinis padanya, “Sun Young noona maksudku, maaf maaf!” lanjutnya ketika melihatku mendelik sinis.

 

“Kya.. Sun Young aku sudah menyelesaikannya, terima kasih!” seru Minwoo dari ruang tamu kepadaku yang berada di dapur.

“Ya, jika sudah selesai cepatlah pergi! Aku tidak ingin kau menyebarkan virus di rumahku.” celetukku padanya.

“Kejam sekali kau. Aku masih ingin disini, aku akan menunggumu untuk pergi ke sekolah bersama.” Tolak Minwoo.

Apa yang dia katakan? ‘Berangkat ke sekolah bersama’?

“Terserah kau saja.”

 

***

 

Aku terus berjalan dengan langkah lebar-lebar untuk mendahului Minwoo. Aku tidak mau berjalan berdampingan dengan makhluk semacam dia. Juga untuk mengantisipasi jika saja dia berniat untuk mengerjaiku.

Pletak. Benar saja, aku berjalan dengan jarak lebih jauh di depannya saja aku tetap dikerjai bocah tengik itu. Ia melemparku dengan kaleng minuman. Dasar bocah tengik! Bau ikan! Terdengar suara tawanya yang keras itu. aku yang kesal segera berbalik dan menghampirinya. Aku sudah tidak bisa menahan amarah. Padahal baru saja aku membantunya mengerjakan tugas sekolahnya tapi dia membalasku dengan cara seperti ini!

“Hahahaha, Sun Young, kau lucu sekali! Hei hei, ada apa dengan wajahmu? Kenapa kau menjadi menyeramkan seperti nenek sihir?” ejeknya padaku, sama sekali tidak punya rasa bersalah.

Aku mendorong tubuhnya. “Kau jahat Minwoo! Aku benci padamu, aku benci! Jangan temui aku lagi!”

Masalahnya ia bukan kali ini saja berlaku seperti ini padaku. Ia sudah melakukan hal seperti ini sejak lama. Bodohnya aku selalu bersedia jika ia memintaku untuk membantunya mengerjakan tugas, hanya karena aku selalu merasakan hal aneh jika berada didekatnya. Aku segera pergi dari hadapannya tapi tangan bocah itu seperti menggenggam tangan ku erat-erat. Menghentikanku agar tidak pergi.

“Noona, apa kau marah padaku? Apa aku menyakiti noona?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya. Aku tak menjawabnya, hanya berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya yang kuat.

“Lepaskan bodoh!” teriakku pada si wajah sok polos itu. Tapi ia tak menghiraukan ucapanku, ia malah menarikku kedalam pelukannya.

“Yak! Minwoo-ah! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”

“Diamlah, noona. Aku ingin kau tahu apa yang aku rasakan selama ini ketika bersama noona,” ucap Minwoo. Aku tak mengerti apa maksud ucapannya.

Apa yang dia rasakan ketika bersamaku?

Awalnya jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Darahku berdesir. Telapak tanganku yang berketingat bergetar seperti saat aku akan melaksanakan ujian. Tapi, setelah itu, aku merasa hangat dan nyaman. Apa ini yang ia rasakan selama ini ketika bersamaku?

Meski sudah merasakannya, aku tetap bertanya, “A..apa maksudmu?”

“Aku mencintaimu, noona! Maafkan aku jika selama ini aku selalu membuat masalah, mengganggumu, menjadi parasit untukmu. Tapi semua itu aku lakukan untuk mendapat perhatian darimu, noona. Aku.. mencintaimu, noona!”

“Yak, jangan bercanda,” ucapku dengan nada bergetar dan lirih serta memukul pelan bahunya.

“Apa aku perlu mengulangnya sebanyak seratus kali agar kau percaya? Apa aku terlihat berbohong?”

Aku melepas pelukannya. “Ne! Kau harus mengucapkannya seratus kali,” kataku sambil tertawa kecil.

“Baiklah. Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona aku mencintaimu! Noona ak..”

“Ssstt.. sudah cukup. Kau ini,” aku membekap mulutnya karena semua orag yang lewat memandang aneh kepada kami. Minwoo menatapku. Dari tatapannya seakan ia meminta apa jawabanku.

“Ne, aku juga mencintaimu bocah tengik!” jawabku sambil menjitaknya kemudian berlari.

“Hyaa.. Sun Young, awas kau!” teriak Minwoo kemudian ia berlari mengejarku.

-END –

This entry was posted by kepangmusic.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Troublemaker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: