[FANFICT/FREELANCE] What Is It ? – Chapter 01

Title
: What Is It ? – Chapter 1
Author : VenoxiaN (D’chemos Bee)
Genre : Friendship
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ No Minwoo

  ~ Park Hyosin

  ~ Lee Eunso

Happy reading ! Jjang !

 

Life of 2008.

Musim salju yang tak akan terlupakan

Selalu tumbuh seperti aku menanam bunga tulip di halaman belakang asrama ini.

Musim salju yang tak akan aku lupakan

Seumur hidupku…

Seorang gadis dengan rambut kelamnya yang panjang terurai itu tak henti-hentinya berusaha untuk mengambil alih perhatian gadis yang ada di hadapannya. Gadis itu sedang asyik membaca buku, ah ! Menurutnya buku yang secara tiba-tiba telah membuatnya masuk ke dalam perangkap penjajah. Iya benar. Karena gadis di hadapannya itu membaca buku dongeng. Buku dongeng. Karena buku itu, ia menjadi orang suruhan untuk menghentikan kebiasaan gadis pembaca dongeng tersebut. Tentu saja ia harus menjalankan perintah dari Youngmin, kekasihnya sendiri. Jika tidak, bisa-bisa hubungan mereka menjadi tumbalnya. Bukan apa-apa, tapi Youngmin itu adalah sepupu dari gadis pembaca dongeng tersebut. Ada alasan tertentu kenapa lelaki itu meminta pertolongannya. Yaaa, walau ia belum benar-benar mengerti kenapa harus ia yang melakukannya.

Karena geram terabaikan begitu saja, gadis itu lantas mengambil tindakan dengan menarik buku dongeng yang tebal itu, “Ya !  Park Hyosin ! Berhentilah membaca buku seperti ini. Apa kau tidak bosan, huh ?” pekiknya. Membuat gadis pembaca dongeng bernama Park Hyosin tersebut menutup kedua telinganya dengan dua buku tulis.

Hyosin menjulurkan lidahnya, “Mwo ? Apa begitu kau mempermasalahkannya, eum ? Urus saja urusanmu sendiri,” kemudian ia mengambil secara paksa buku dongengnya dan membukanya kembali lalu mencari halaman terakhir yang ia baca.

Ya, neo ! Aish, jinjja !

“Katakan saja padanya untuk berhenti menyuruhku. Jadi, kau tak perlu repot-repot, OK ?” Hyosin tersenyum manis semanis-manisnya kepada sahabatnya tersebut. Gadis di depannya pun hanya memutar bola matanya malas.

Keurae, keurae ! Bahkan lebih baik kau sendiri yang mengatakannya, arra ? Aku pergi,”

Ya ! Kang Ina !” Hyosin refleks berdiri menyadari Kang Ina pergi begitu saja,”Kau pergi kemana ?” teriaknya, namun gadis bernama Kang Ina tersebut telah lenyap dari pandangannya.

Saat itu, awal aku memulai hidupku yang baru bersama sahabatku, Kang Ina. Dia menjadi gadis pertama yang aku anggap sahabat setelah kepindahanku ke sekolah ini semenjak satu tahun yang lalu. Dan, aku menyukainya. Sangat…

Dia adalah gadis yang baik dan sangat ramah pada semua teman-teman di sekolah. Tapi bahkan, aku tidak tahu jika ia begitu ramah terhadap seorang lelaki tampan yang tidak aku ketahui namanya.

Namun, semenjak aku mengetahuinya, ada hal lain yang terjadi padaku.

Pada perasaanku…

***

Park Hyosin, gadis yang terlahir dengan paras cantik dan tinggi yang tidak semampai itu sedang menatap sebuah gambar berbingkai kayu yang terpajang di papan kreasi gedung kesenian yang terletak di sebelah barat kelas teater. Matanya terlalu fokus membaca keterangan yang tertulis di sebelah kanan gambar. Kemudian, ia mencari-cari siapa gerangan yang telah menciptakannya.

Nonsense ? Ige nuguya ?” gadis itu hanya bertopang dagu dengan bola mata yang menatap kearah ventilasi jendela gedung. Lalu mencoba menerka-nerka kebanyakan siswa dan siswi di sekolah ini satu per satu walau nyatanya ia belum mengenal semuanya, termasuk guru-guru pengajar.

“Kau sedang apa ?” pertanyaan itu refleks membuat Hyosin terlonjak dan menatap kepada narasumber. Yang ditatap pun hanya menghardikkan bahunya. “Apa yang kau lakukan di sini ?” tanyanya lagi. Tanya seorang lelaki yang sebenarnya ia tunggu kedatangannya.

Hyosin tersenyum malas, kemudian mengangkat jari telunjuknya kearah gambar yang sedari tadi ia lihat. “Ige,” jawabnya singkat. Membuat lelaki itu menganggukkan kepalanya. “Tidak ada yang spesial,” tambah lelaki itu setelah ia melihat keseluruhan apa yang terpajang di sana.

Mata Hyosin membola, lantas pergi meninggalkan lelaki itu. “Park Hyosin, wae ?” lelaki itupun mengejar Hyosin dan mensejajarkan langkahnya dengan gadis di sampingnya.

“Kau menungguku lagi ? Ck ! padahal aku telah mengirim pesan padamu untuk pulang lebih dulu,” lelaki itu tersenyum manis ketika mendapat tatapan tajam dari Hyosin setelah mendengar perkataannya yang sembarangan.

“Seharusnya kau berterimakasih padaku karena sudah bersedia menemanimu,” Hyosin kemudian meraih tangan kiri lelaki itu dan menggandengnya. “Kau bahkan tidak bertanya sudah berapa lama aku menunggumu, payah !”

“Baiklah, maafkan aku,” tutur sang lelaki. Ia  melirik kearah Hyosin yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, ia sama sekali tidak tahu. “Kenapa kau bersikap seperti tadi saat di sana?”

Hyosin menghentikan langkahnya, dan berbalik pada lelaki yang bertanya itu, “Ani. Bukan apa-apa. Aku hanya mengira kau akan memberiku penjelasan mengenai gambar tadi,”

“Aa, begitu ? Lagipula tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku,” lantas lelaki itu yang kini meninggalkan Hyosin, membuat gadis itu ternganga dengan sikapnya. “Dia balas dendam? Ya ! No Minwoo !” ia hampir saja merobohkan koridor sekolah apabila ia tak meredam suaranya yang keras itu.

Ppalliwa !” teriak lelaki itu dari kejauhan di depan Hyosin. Gadis itu segera berlari mengejar lelaki bernama, No Minwoo tersebut.

***

Karena saat itu aku hanya mengenalnya sebagai orang yang aku cintai

Dan aku terlalu fokus padanya hingga aku tak melihat yang lain

Karena aku hanya ingin mencintainya seumur hidupku

Karena aku ingin hanya kata setia yang terukir di hatiku untuknya

Hyosin dan Minwoo berjalan berdampingan di sepanjang jalan menuju rumah mereka walau nantinya mereka akan berpisah di persimpangan tepat setelah melewati kafe sekolah yang tak jauh lagi akan terlihat. Selama itupun, Hyosin hanya diam sambil terus memikirkan gambar berbingkai yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Ia sama sekali tak tertarik untuk berbicara dengan kekasihnya, Minwoo yang saat ini sedang asyik dengan dunianya. Mendengarkan musik menggunakan earphone-nya.

Hyosin merasa ada yang aneh dengan gambar itu, nama si pencipta, gambarnya, kata-kata yang menerangkannya. Ia seperti pernah memiliki kalimat itu walaupun ia sama sekali tidak ingat bagaimana gambar yang ia punya dulu dan seperti familiar dengan nama si pencipta. Entahlah ! Kelihatannya harus menggunakan otak Einstein untuk bisa mengingatnya kembali dan mencerna kalimat-kalimat yang dianggapnya rumit itu.

Minwoo menyadari perubahan susasana hati Hyosin selama ia berjalan. Sebenarnya ia tak benar-benar mendengarkan lagu-lagu yang mengalun di telinganya, tapi lebih kepada mendengarkan gumaman kecil Hyosin yang terdengar bersemilir di telinganya.

Apa ada yang ia sembunyikan dariku ?

Karena tidak ingin memperdalam rasa penasarannya, Minwoo kembali menanyakannya,”Hyosin-a, waegurae ?” Minwoo melepas earphone-nya dan menatap Hyosin. Mereka berhenti tepat di persimpangan jalan.

Eo ?” Hyosin nampak terkejut dan salah tingkah. Bagi Minwoo itu adalah tanda dan kebiasaannya jika menyembunyikan sesuatu darinya. So, sekarang ia benar.

“Kau ini memikirkan apa ? Kenapa hanya diam ? Apa kau marah padaku mengenai gambar tadi ?” Minwoo mencoba menemukan jawaban dari mata Hyosin, jadi ia terus menatapnya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak marah. Kau ini kenapa ? Ah, sudah seharusnya berpisah ya, hati-hati di jalan Minwoo-a. Annyeong,”

“Tapi–,”

Hyosin berlalu meninggalkan Minwoo tanpa memberi kesempatan pada kekasihnya untuk membalas semua perkataannya. Hal itu tentu semakin meyakinkan Minwoo bahwa Hyosin benar-benar mempermasalahkan gambar itu. “Hanya karena gambar? Ah, mollasseo !” ia kembali memakai earphone-nya dan melesat pergi meninggalkan persimpangan itu dengan perasaan bertanya-tanya.

***

Kegaduhan terdengar memekakkan dari sebuah rumah bertingkat dua yang berada di seputaran daerah Sumyeon. Keributan tersebut berasal dari dua remaja tanggung yang entah membicarakan apa hingga akhirnya suasana miring itu terjadi. Satu gadis dan satu lelaki. KLOP ! Satu set ! Semuanya bertambah kacau ketika seorang lagi baru saja ikut bergabung dalam pesta keributan tersebut. Namun, sebenarnya ia ingin meleraikan kedua petarung bertanduk lima tersebut, tapi apalah daya ia hanya mendengarkan dengan seksama pertengkaran tersebut.

“Kau ini sudah aku peringatkan, kenapa masih mengulanginya, hha ?”

“Aku ? Wae ?”

“Berhenti melakukan hal aneh yang bisa merusak nilai-nilaimu di sekolah,”

“Kenapa ? Kau tak suka ? Aku bahkan tak pernah melarangmu apapun yang kau suka,”

“Ini berbeda Park Hyosin !”

“Apa yang berbeda ? Kau dengar ya, aku sudah bosan mendengarkan semua celotehanmu selama ini. Kau tau, aku letih mendengarkan Kang Ina membantumu melarangku ini dan itu, sampai-sampai hal pribadiku kau larang juga. Memangnya kau ini siapa, hha !?”

“Terserah kau mengatakan apa. Aku akan terus mengaturmu,”

Ya! Ini hidupku kenapa kau yang mengaturnya !”

“Tentu aku mengaturmu, karena kau itu sepupuku,”

“Sepupu darimana, hha ?”

Ya ! Kenapa kau seperti ini ?”

“Lebih baik kau mengatur Kwangmin daripada harus mengaturku. Aku sudah dewasa, jadi tidak butuh dengan semua yang berhubungan denganmu,”

“Karena Ibumu menitipkanmu padaku, jadi aku harus memenuhi amanahnya. Apa kau tidak mengerti itu ?”

“Ya, aku tidak mengerti. Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri dan berhenti melarangku berbagai macam hal. Aku tidak butuh perhatianmu !”

SHIREO !! Kau akan terus aku awasi,”

“Hha ! Baiklah ! Terserah kau ingin apapun itu, aku tidak pernah peduli,”

Hyosin meninggalkan Youngmin dan Kwangmin yang terdiam di sana sambil memperhatikan gadis itu pergi menuju tangga. “Entahlah apa yang salah denganku, Kwang,” Youngmin menarik napas dan membuangnya kasar.

Kwangmin memperhatikan kembarannya itu beralih ke ruang tamu tanpa ia ingin membalas perkataan kakaknya tadi. Seandainya apa yang ia ketahui, Youngmin juga mengetahuinya, mungkin tak akan jadi seperti ini.

“Aku rasa mereka berdua salah,” gumamnya. Pikirannya berkutat pada perkataan Youngmin dan Hyosin ketika bertengkar tadi.

BRAK !!!!

Ya ! Park Hyosin ! Jangan membanting pintu. Itu mahal ! aish,” Kwangmin mengeluarkan semua suaranya agar Hyosin mendengar teriakannya dengan baik. Ia benar-benar tak ingin keadaan rumahnya seperti ini.

***

Hyosin memandang nanar separuh pasir putih dalam genggamannya. Ia berpikir apakah ini semua salahnya atau salah Youngmin yang tidak mengertikannya. Tapi apa yang salah dengan sebuah cerita dongeng, lukisan dan hal-hal lain yang menjadi kesukaannya. Kenapa Youngmin begitu memarahinya saat ia tahu bagaimana kebiasaan Hyosin. Entah…

Eomma, kenapa kau harus menitipkanku pada mereka ?”

Hyosin kembali mengingat-ingat yang telah ia alami sebelum kepindahannya ke Seoul. Begitu banyak masalah dalam hidupnya pada usia belianya dulu. Namun, ia bisa mengatasinya. Setiap masalah yang datang silih berganti menjadi makanan yang harus ia lahap setiap datang ke sekolah dan tampat les. Rasanya ia sedikit merindukan masa itu. Masa-masa sekolah yang membebaninya. Meremukkan tulang rusuknya.

Hyosin tertunduk. Ia meresapi setiap kenangan yang kian lama kian ia tinggalkan. Hingga ia tak sadar bahwa ada seseorang di sampingnya. Duduk bersila dengan kedua tatapan matanya yang tertuju pada Hyosin.

“Aku khawatir kau akan masuk angin jika berlama-lama di sini,”

Hyosin mengangkat pandangannya dengan cepat dan agak terkaget melihat siapa gerangan yang telah mengganggu aktivitasnya. “Minwoo-ya,” belum satu detik waktu berputar, matanya telah berkaca-kaca, sedetik kemudian ia telah meneteskan air matanya.

Uljima,” Minwoo menarik Hyosin ke dalam pelukannya dengan lembut. Dengan erat ia memeluk kekasihnya itu. Ia tahu apa yang terjadi dengan Hyosin. Sudah menjadi salah satu bagian hidupnya jika itu menyangkut Hyosin.

Hyosin menangis tersedu. Tak terasa air matanya jatuh begitu banyak. Menyisakan bekas basah di baju Minwoo. Minwoo hanya membiarkannya, dan mencoba membuat Hyosin tenang dengan adanya ia. Baginya tak masalah harus berapa lama ia di sana, walau sekedar mendengarkan tangisan Hyosin dan diam.

Mianhae,” ucap Minwoo. Membuat Hyosin semakin menangis.

Hyosin melepaskan pelukan Minwoo dan segera menghapus air matanya. Ia sedikit tersenyum ketika ia melihat Minwoo dengan senyum yang selalu ingin dilihatnya. “Kenapa kau menangis ?” Tanya Minwoo berpura-pura tak paham.

Ish, aku tak perlu mengatakannya, ‘kan ?” Hyosin membenarkan cara duduknya. Ia menghadap ke arah depan. Ke arah gedung tinggi yang ia kenal yakni sekolah. Mereka memang sedang berada di sekitar sekolah, lebih tepatnya di lapangan luas belakang sekolahnya.

Minwoo melepaskan jaket hitamnya lalu memasangkannya pada Hyosin. Ia merasa Hyosin terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Hyosin hanya tersenyum pada Minwoo.

“Apa yang kau pikirkan hingga kau kemari ?”

“Entahlah. Kakiku membawaku ke sini,”

Minwoo mengambil sebuah batu dan melemparkannya lumayan jauh. “Minwoo-ya, apa yang terjadi denganmu ? Kau tidak biasanya kemari,” Hyosin menanyakan itu karena tidak biasanya Minwoo mengunjunginya tanpa mengirim pesan. Bahkan sampai tahu ia di sini. Hyosin terus memandangi Minwoo, namun Minwoo terus bermain dengan batu-batu yang ada di sekitar tampat ia duduk.

“Sepertinya aku akan mulai gila mulai hari ini, Chagiya,” Hyosin yang mendengarnya langsung tertawa terbahak-bahak. “Ya ! No Minwoo ! Kau memang sudah gila sejak awal, hahaha,” ia terus tertawa dengan senangnya sampai ia menghentikan tawanya karena tersadar Minwoo telah kembali memeluknya.

Dengan sangat erat.

Lebih erat dari sebelumnya.

Hyosin tak mendengar apapun. Ia hanya diam. Menunggu Minwoo mengatakan sesuatu.

“Min…Minwoo,” panggilnya terbata. Ia merasa aneh pada Minwoo.

Apa yang terjadi?

“Apa yang terjadi padamu ?” Hyosin mencoba melepaskan pelukan Minwoo, namun tak bisa. Minwoo tak ingin melepaskannya. Ini membuat Hyosin bingung setengah mati.

Lama Hyosin menunggu sampai pada akhirnya Minwoo membuka suara,”Aku ingin kau tahu hal ini Hyosin-a,” Hyosin menyimak. Ia menunggu kata-kata Minwoo selanjutnya.

“Percayalah padaku bahwa aku hanya selalu menyayangimu, mencintaimu dan itu tak akan pernah berakhir,” suara Minwoo terdengar semakin sendu, semakin ia mengatakan semua kalimatnya. “Apa kau percaya padaku ?”

“Aku tak mengerti kau berbicara apa. Kenapa kau seperti ini ?”

“Aku akan mengatakan semuanya setelah kau mengatakan padaku jika kau selalu percaya padaku,”

Hyosin terpaku sejenak. Perasaannya menjadi tak karuan. Bukan hanya perasaan aneh, tapi juga takut. Ia bahkan berpikir Minwoo akan pergi meninggalkannya. Justru itu yang benar-benar ia takutkan saat ini.

Namun, Hyosin tak mau mengulur keingintahuannya. Tentu ia selalu percaya pada kekasihnya. Pada Minwoo.

Ne. Aku percaya padamu Minwoo-ya,”

Minwoo tersenyum. Ia sedikit merasa lega.

Aku tidak peduli seberapa banyak kau akan membenciku nanti, tapi aku tak dapat berbuat banyak mengenai cinta ini. Percayalah bahwa aku benar-benar mencintaimu. Mianhae, Hyosin-a. Mian

To Be Continue

This entry was posted by kepangmusic.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] What Is It ? – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: