[FANFICTION/FREELANCE] Just A Dream

Title
: Just A Dream
Author : Hira Fujisaki
Genre : Romance
Rating : T
Type : Oneshoot
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Kim Sanee

Annyeong. Ini ff pertama aku, masih amatir sih tapi semoga sukaa. Diminta kritik dan sarannya yak. Happy reading all ><

Tuk..tak..tuk..tak..kaki ini berjalan di koridor asing. Tahun ajaran baru, sekolah baru dan teman-teman baru. Tahun ini aku memulai hidup baru. Menjadi murid SMA. Aku memiliki firasat baik tentang hal ini. Tapi…entah mengapa aku memimpikan sesuatu yang aneh dan tak masuk akal semalam.

——

Aku melihat dua orang anak laki-laki di sebuah taman, wajah mereka hampir mirip. Apa mereka kembar? Ya, mereka berdua kembar. Aku tak bisa membedakan mereka, mereka terlihat sangat mirip. Kembar identik. Kedua bocah itu saling kejar-kejaran dan tertawa. Aaah begitu rupanya. Aku tahu apa yang membedakan mereka sekarang. Senyumnya. Ya, walaupun wajah mereka sama tetapi senyum yang terukir di wajah mereka berbeda. Yang satu senyumnya memberi kesan manis, dan satu lagi memberi kesan cool.

“Ya adeuri! Bolehkah noona bermain bersama kalian?”

Kedua bocah itu menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Salah satu dari mereka bertanya pada kembarannya. Sepertinya ia berkata “Hyung, siapa dia?” dan yang ditanya hanya menggeleng kepala. Aku berjalan mendekati mereka. Membungkuk di depan mereka berusaha menyetarakan tinggiku dengan mereka.

“Kalian sedang bermain? Bolehkah noona ikut?”

Mereka saling bertukar pandang. Tersirat di wajah mereka ekspresi kebingungan. Wajah yang mereka buat itu sunggulah sangat manis. Aku ingin mencubit pipi mereka. Tawa kecil lepas dari bibirku. Aku meraba saku rokku dan mengambil dua buah permen.

“Noona punya permen, siapa yang mau??”

Mereka memasang ekspresi yang berbeda. Yang satu memasang ekspresi heran dan satu lagi memasang ekspresi kesal sekaligus waspada. Mereka sangat lucu.

“Eomma bilang kami tidak boleh menerima sesuatu dari orang asing”

Eoh? Benar juga. Eommaku juga bilang begitu ketika aku masih kecil. Geurom…

“Geurae. Noona memberikan ini karena kalian sangat manis, dan kalian juga anak yang baik. Terimalah dan rahasiakan ini dari eomma kalian, okay?”

Salah satu dari mereka yang sedari tadi memasang wajah heran tersenyum gembira mendengar perkataanku. Ia mengambil salah satu permen dariku.

“Hm! Kamsahamnida noona. Noona baik sekali”

“Hyung andwae! Bahaya, eomma bilang bahaya menerima sesuatu dari orang asing!!”

Kembarannya berteriak dengan wajah yang merah padam. Kenapa ia begitu tak suka padaku? Apa wajahku sejahat itu? Ia menarik-narik ujung kaos kembarannya. Kembarannya memakan permen yang aku berikan.

“Gwenchanayo, ini enak” Wajahnya terlihat berseri-seri sedangkan kembarannya mulai menangis.

“Hyung pabo!!!” teriaknya.

“Tenanglah, noona bukan orang jahat. Dan noona juga bukan orang asing kok. Noona masih orang Korea Selatan. Maukah kau menerima permen ini?”

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku. Ia tampak menimbang-nimbang, akankah mengambil permen dariku atau tidak. Ia melihat wajah hyungnya yang tampak berseri-seri. Tampak di wajahnya ia menahan tangisnya. Ia mengambil permen dariku dan membuang mukanya.

“Bukan berarti aku menyukainya seperti apa yang hyungku lakukan! Arasseo!”

Wajahnya merah padam. Ia menahan tangisnya dan memakan permen dariku. Aku tak mengerti pemikiran kedua anak kembar ini. Yang satu membalasku dengan berkata jujur dan tersenyum manis, di lain sisi kembarannya membalasku dengan perkataan tajam padahal ia terlihat lega setelah merasakan rasa manis dari permen pemberianku.

Setelah itu aku pulang. Singkat memang, tapi pertemuanku dengan kedua anak itu sangat berkesan buatku. Jika ditanya aku tertarik pada yang mana. Jawabanku akan sangat aneh. Aku lebih tertarik melihat anak yang menolakku mentah-mentah dan menyembunyikan perasaannya dengan berkata tajam. Bagaimanapun itu terlihat lucu bagiku.

——

Kriing!!

Alarmku berbunyi. Aku mengambilnya dan melihatnya jam 7.15 pagi. Omonaa!! Aku akan terlambat. Aku melompat dari tempat tidurku dan langsung bergegas ke kamar mandi. Aku mengenakan seragam SMP-ku. Tunggu dulu, ini bukan seragam SMP-ku tapi aku merasa sudah biasa mengenakan seragam ini. Setelah selesai aku memakan sarapan dan berangkat ke sekolah.

Sejak kapan aku berangkat ke sekolah naik sepeda?? Sejak kecil aku tak pandai naik sepeda! Sekolah yang aku tuju dekat dari rumahku. Sekitar 15 menit jika di tempuh dengan sepeda. Aku tau sekolah ini, tapi sungguh ini bukan sekolah SMP-ku. SMP-ku lebih jauh dari ini. Dan kenapa aku bisa bersekolah di sekolah ini??

Aku memarkirkan sepedaku di tempat yang sepertinya sudah menjadi tempat langgananku. Aku berjalan memasuki gedung sekolah yang tampak asing tetapi sudah biasa bagiku.

“Hiyaa!!! Tampannyaaa!!!”

“Aaah!!”

“Youngmin-aaah lihatlah kemari”

“Apa kau sudah sarapan Youngmin-ah??”

Seorang namja yang dikerubungi banyak yeoja. Idol sekolah ini. Jo Youngmin. Adegan ini sudah menjadi sarapan pagi bagi murid sepertiku. Sesungguhnya aku tak pernah melihat hal ini. Aku tak begitu mengenalnya dan kurasa tak usah menyapanya itu hal terbaik. Aku berjalan menuju kelasku dari arah yang berbeda.

Duuk!!

“Aah”

“Mian”

Mwo?? Namja macam apa dia. Pergi begitu saja?!! Aku melihat punggung namja yang menabrak bahuku barusan. Dari tinggi, kulit, gayanya yang memakai earphone dan suaranya sepertinya dia…

“Ah ne! Kim-chi*, lain kali berhati-hati lah kalau berjalan”

“Haha. Mwo?!! Kimchi?? Ya!! Jo Kwangmin kau minta dihajar?!!”

Dia pergi begitu saja. Waah geu namja jeongmal haissh!! Nah yang itu Jo Kwangmin, teman sekelasku, kembaran sang Idol Youngmin. Wajah sih boleh sama tapi sikap dan sifatnya benar-benar bertolak belakang bagaikan cermin dan bayangannya. Entah mengapa Kwangmin suka sekali menggangguku.

——

Selama jam pelajaran aku tak bisa konsentrasi. Itu karena rasa nyeri di bahuku. Ulah siapa lagi kalau bukan Kwangmin pagi ini. Aku rasa akan ada bercak biru besar disana. Dia memang benar-benar tak berperasaan. Saat istirahat aku memutuskan untuk ke toilet dan mengecek bahuku. Dan benar saja. Bercak biru besar terlukis disana. Dan sangat sakit jika disentuh. Kwangmin kau harus tanggungjawab!!!

Aku keluar dari toilet wanita dan mendapati sosok Kwangmin di koridor dekat toilet. Benar-benar momen yang pas!! Dengan memasang wajah kesal aku menghampirinya.

“Eoh, Kim Sanee annyeong” ujarnya sambil menepuk bahuku yang memar.

“Akh. Ya!! Appayo!!” reflekku menginjak kakinya.

Tampak dari wajahnya kesakitan tetapi ditahannya. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu.

“Ya iggeo, pakailah, setidaknya memarnya berkurang”

Kwangmin mengulurkan sebungkus kompres tempel dan membuang mukanya. Aku tak menyangka dia akan bertanggungjawab sebelum kuminta.

“Atau kau mau aku yang memakaikannya?”

Dia sebenarnya baik. Tapi aku tak habis pikir kenapa dia harus menyembunyikan kebaikannya. Dia tak seburuk yang ku…

“Haha ternyata kau memang ingin aku yang memakaikannya ne”

Kwangmin membuka kancing teratas seragamku. Reflek aku mendorongnya dengan sekuat tenagaku. Wajahnya terlihat kesakitan.

“Ya!! Neo mwoya!! Aku bisa pakai sendiri, gumawo!”

Aku mengambil kompres tempel dari tangannya dan kembali masuk ke dalam toilet. Ternyata dia memang seburuk yang kukira!! Aku menyesal berpikiran baik tentangnya.

——

Tingtongtingtong..

Bel pulang berbunyi. Aku segera mengambil sepedaku dan berniat pulang ke rumah. Di depan gerbang sekolah aku berpapasan dengan Youngmin. Aku bersyukur setidaknya yang kutemui adalah Youngmin dan bukan kembarannya yang menyebalkan itu.

“Eoh, Sanee-ssi annyeong”

“Annyeong do Youngmin-ssi”

“Kau pulang sendirian? Boleh bareng, rumah kita kan searah”

“Kau tidak pulang bersama kembaranmu Youngmin-ssi?”

“Kwangmin?? Aah dia sedang ada urusan katanya, jadi bolehkah aku pulang bersamamu Hanee-ssi?”

“Hmm ne”

“Biar aku yang bawa sepedanya”

“Ah ne baiklah”

Aku kira Youngmin akan membawakan sepedaku dan kami berjalan, tapi ternyata…dia memboncengku sampai perempatan tempat kami berpisah. Aku dan Youngmin mengobrol banyak. Dia memang lebih baik daripada kembarannya. Aku lebih merasa nyaman dengan Youngmin daripada Kwangmin. Geuraeyo??

Sepanjang perjalanan pulang entah mengapa aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan kami. Kwangmin. Aku tau sedari tadi ia memperhatikanku dengan kembarannya. Aku tau dia memperhatikanku tapi mengapa aku berpura-pura seolah aku tak mengetahuinya?

“Baiklah, kita harus berpisah Sanee-ssi. Kamsahaeyo ne”

“Hmm ne”

Youngmin mengucapkan salam perpisahan sambil tersenyum manis padaku. Ia pergi dan melambaikan tangannya padaku. Aku memperhatikan punggung pria jangkung itu. Punggung yang sama dengan Kwangmin. Tapi aku lebih suka memperhatikan punggung pria angkuh itu daripada Youngmin yang ramah. Jeongmalyo?? Haissh na jeongmal michigesseo!

——

Seperti biasa, hari ini juga. Sarapan pagi setelah memasuki sekolah. Youngmin-dol* yang dikerubungi anak-anak ayam. Tapi kenapa aku tak melihat Youngmin yang satu lagi ya. Kemana perginya makhluk menyebalkan itu. Seharusnya aku senang kan tak bertemu dengannya?? Sehingga tak ada yang menghancurkan moodku. Isange.

“Sanee-ssi, selamat pagi”

“Eoh, pagi juga Youngmin-ssi”

Aku terkejut kenapa dia tiba-tiba menyapaku?? Di depan banyak yeoja yang menyukainya. Aku rasa masalah besar akan datang padaku.

“Hiyaaa curaaang!!”

“Youngmin-aaah aku juga mau disapa seperti ituuu”

Kemana Kwangmin yah? Apa dia marah padaku karna aku mendorongnya kemarin. Haruskah aku minta maaf padanya. Memarku juga membaik berkat kompres tempel darinya. Haruskah aku berterima kasih padanya. Ah ani ani! Dia yang membuat bahuku memar sudah seharusnya dia melakukan itu.

Seonsaeng penjaga ruang kesehatan harus belanja beberapa persediaan. Dan aku dimintainya tolong untuk menjaga ruang kesehatan selama dia pergi. Karna aku adalah anggota klub kesehatan sekolah. Yah sudah kewajibanku juga sih tapi gagal deh rencana pulang cepatnya. Padahal kan sudah bagus satu hari ini aku tak bertemu Kwangmin.

Grek!

Aku membuka pintu ruang kesehatan. Sepasang mata menatapku dengan terkejut, begitu pula denganku.

“K-kwangmin?? Apa yang kau lakukan disini”

“Bukan urusanmu”

Kwangmin melanjutkan membalut tangannya dengan perban. Aku terkejut melihat luka sayat yang sangat panjang di tangannya. Refleks aku segera berlari dan memegang tangannya mencoba melihat lebih jelas luka itu.

“Ini kenapa?? Kau tak memberinya obat? Hanya menutupnya saja tak akan membuatnya membaik” Aku mengambil obat luka dan ingin memberikannya pada Kwangmin sebelum..

“Sudah kubilang ini bukan urusanmu kan!!” Kwangmin menarik tangannya.

“Haissh pabo!! Ini bukan saatnya mengatakan itu kau tau!”

Aku menarik tangannya lagi dan memberikan obat luka. Wajahnya terlihat menahan sakit. Aku tau rasanya pasti sangat perih tapi ini akan membuat lukanya cepat sembuh.

“Dasar! Apa yang kau lakukan sampai bisa seperti ini hah? Ini pasti akan berbekas”

“Salahmu juga kan”

Aku berhenti mendengar kata-katanya. Sa-salahku? Aku melihatnya. Kwangmin membuang mukanya dengan pandangan kesal. Apa ini karena aku mendorongnya kemarin? Aah jadi ini salahku. Seharusnya dia langsung memakiku saja seperti biasa tak perlu menahannya. Aku menundukkan kepalaku dan mulai membalut lukanya.

“Mi-mianhae, aku sudah menyusahkanmu”

“Ya kau benar aku sangat kesusahan berkatmu! Aku tak menyangka pinggiran jendela itu akan setajam ini”

“Mi-mian”

Aku tak berani menatapnya. Ia akan sangat mengerikan saat marah. Bukannya takut. Tapi aku benar-benar merasa bersalah sekarang. Aku berharap bisa mengulang waktu dan tak mendorongnya saat itu. Keheningan menerpa kami berdua. Aku menggunting perban dan mengikatnya. Hampir selesai…

Chu!

Aku merasakan sesuatu hangat dan basah menyentuh pipiku. M-mwo?? K-k-kwangmin menciumku??!!! Jantungku berdegup sangat kencang rasanya seperti mau meledak!

“Dasar keras kepala. Aku tak bisa menahannya jika kau sedekat ini” bisiknya.

Pipiku terasa panas sekali. Pasti sekarang wajahku merah padam. Kenapa tiba-tiba dia melakukan ini dan berkata seperti itu?? Aku melihat wajahnya. Mata kami bertemu. Baru kali ini aku melihat wajahnya seserius itu. Jo Kwangmin apa maksudnya semua ini? Kwangmin mendekatkan wajahnya padaku. Menutup jarak diantara kami. Aku bisa merasakan deru nafasnya dari jarak sedekat ini. Aku menutup mataku. I-ini kisseu?? Apakah dia akan menciumku??

Tuk! Kwangmin menyentil keningku.

“Paboya!! Jangan memberikannya pada orang yang tak kau sukai. Kau seharusnya menolakku kau tau” Kwangmin beranjak pergi. Ia membuka pintu ruang kesehatan.

“Dan…jangan semudah itu berjalan dengan pria”

Brak! Pintu ruang kesehatan ditutup dengan sedikit dibanting olehnya.

Pergi..dia sudah pergi. Aku tak tau mengapa aku ingin menangis. Apa maksudnya tadi?? Apa hanya aku yang merasa berdebar-debar karenanya. Aku tau aku harus menolakmu Kwangmin, tapi kenapa aku tak menolakmu. Apa yang aku pikirkan, sempat terpikir jika itu kau maka tak apa-apa. Aku menyesal kenapa tadi tak dilanjutkan saja.

Air mataku menetes begitu saja. Mengapa aku menangis? Bukankah aku membenci Kwangmin?!

Grek!

Pintu ruang kesehatan terbuka lagi. Dengan refleks aku langsung melihat. Berharap yang membuka pintu itu adalah Kwangmin. Bukan, dia bukan Kwangmin. Itu seonsaengnim. Seonsaeng sudah kembali.

“Seonsaeng aku permisi dulu” Aku segera berlari keluar dan menghapus air mataku.

“Ne gumawoyo Sanee-ssi”

Aku mendengar seonsaeng berteriak mengucapkan terima kasih. Aku tak ingin pergi keruangan itu lagi. Aku ingin pergi, pergi jauh dan melupakan siapa itu Jo Kwangmin dan juga kembarannya. Aku menangis semalaman menyesali betapa bodohnya diriku mengharapkan ciuman dari seorang Kwangmin.

Neo jeongmal pabo Sanee-yaa.

——

Kriing!!

Alarmku berbunyi lagi. Pagi yang baru. Ini aneh, aku merasa senang. Lebih senang dari biasanya. Aku akan pergi kencan dengan Youngmin. Aku membongkar lemariku dan mencari baju yang cocok. Saat aku melihat cermin, masih ada bekas jejak air mata. Aku sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi di dunia ini?!

Setelah bersiap-siap aku pergi ke tempat dimana aku dan Youngmin janjian. Youngmin sudah menungguku disana. Ia mengenakan kaos putih polos dengan kemeja kotak-kotak biru yang tak dikancing dipadu dengan celana jeans. Ia beda dari biasanya, tampak lebih tampan daripada mengenakan seragam sekolah. Aku hanya mengenakan sweater yang dipadu dengan rok diatas lutut. Aku tak yakin akan melakukan ini, tapi… tak apalah lupakan Kwangmin untuk satu hari ini Sanee-ya.

“Maaf membuatmu menunggu lama kw- ah Youngmin-ssi”

Andwae Sanee-ya mengapa kau menyebut Youngmin dengan Kwangmin?!! Pabo!

“Ne, tidak kok Sanee-ssi”

Aku menghabiskan hari ini dengan Youngmin. Mulai dari bermain di taman bermain, melihat-lihat buku dan CD original dan makan siang. Tapi entah sudah berapa kali aku salah memanggil Youngmin dengan “Kwangmin”. Sesungguhnya aku berharap menghabiskan hari ini dengannya bukan dengan Youngmin. Penutupan kencan hari ini aku dan Youngmin akan menonton film di bioskop. Film yang kami tonton bergenre romance, genre favoritku, tapi mengapa aku tak bisa mengikuti alur ceritanya sama sekali.

Tiba-tiba saja aku merasa sesuatu yang hangat menggenggam tanganku. Aku melihat ke sampingku, Youngmin menggenggam tanganku dan melihatku juga.

“Sanee-ya…saranghae”

Youngmin mengungkapkan perasaannya padaku. Aku tak menyangka ini akan terjadi. Youngmin menggenggam erat tanganku dan menutup jarak diantara kami. Aku merasakan bibirnya semakin mendekat dengan bibirku. Aku menutup mataku. Tapi kenapa aku malah membayangkan saat-saat bersama Kwangmin di ruang kesehatan. Sakit. Rasanya begitu menusuk jantungku. Aku tak bisa melanjutkan ini.

“Mi-mianhae Youngmin-ssi aku harus ke toilet sebentar”

Aku melepaskan tangan Youngmin dan pergi ke toilet. Sekilas aku melihat wajahnya yang kecewa. Aku tau Youngmin pasti kecewa tapi aku tak kuat menahan rasa sakit di dadaku ini. Aku membasuh mukaku dengan air. Melihat diriku di depan cermin toilet. Sanee-ya apa yang kau inginkan? Bagaimana perasaanmu sebenarnya? Kau sudah memainkan hati seorang namja kau tau itu?!

Aku dan Youngmin keluar dari gedung bioskop. Suasananya menjadi semakin canggung. Bisa dibilang aku sudah menolak Youngmin secara tidak langsung tadi. Biasanya Kwangmin selalu ada di sekitarku memperhatikanku diam-diam. Tapi kenapa hari ini aku tak melihatnya?

“Sanee-ssi, sepertinya kau sangat menyukai Kwangmin ne?”

“Eeh? Mwo? Aninde aku tak menyukainya”

“Jangan berbohong padaku, kau sudah berulang kali salah menyebut namaku dengannya, walaupun ini kencan denganku tapi sepertinya kau mengharapkan ini kencan dengan Kwangmin”

Aku melihat mata Youngmin yang memancarkan perasaan kecewa. Tapi ia tetap berusaha tersenyum. Youngmin adalah namja yang sangat baik aku menyesal tak bisa menyukainya tapi aku juga tak bisa berhenti menyukai namja yang mirip dengannya.

“Mianhae Youngmin-ssi”

“Aniya, gwaenchanayo. Aku sudah merelakanmu. Sarangi, tak bisa dipaksakan”

“Kamsahamnida Youngmin-ssi”

“Dan sebenarnya…”

Aku melihat ke arah orang-orang yang sedang menyebrang jalan. Kwangmin! Ya Kwangmin ada di sana. Dia melihat ke arah kami. Oh tuhan janganlah salah paham Kwangmin!  Kwangmin berdiri terpaku. Aku melihat lampu pejalan kaki sudah berubah menjadi merah. Dan dia masih berdiri di sana. Ada mobil yang melaju sangat kencang ke arahnya.

“Ya!! Kwangmin neo michigesseo!!!” Aku berlari ke arahnya dan segera mendorongnya.

Brak!!

Sakit. Seluruh tubuhku rasanya mati rasa, tapi hatiku terasa sakit. Pandanganku buram.

“Sanee-yaa!!!”

Aku mendengar Kwangmin memanggil namaku. Ia mendekapku dalam pelukannya.

“Bertahanlah Sanee!! Bertahanlah!!”

Aku melihat wajahnya, tapi buram. Kwangmin, ku mohon tetaplah di sampingku…

Setelah itu pandanganku gelap gulita. Aku bisa merasakan nafasku tapi aku tak bisa bangun dari keadaan ini. Aku merasakan seseorang menggengam erat tanganku sedari tadi. Seolah-olah melepaskan tanganku akan membuatku pergi dari dunia ini. Aku bisa mendengar isak tangisnya.

“Sanee-ya! Kim Sanee. Aku tau kau sudah bangun, maka cepat bukalah matamu. Jika kau tak bangun aku akan membencimu selamanya. Ya! Ireona!!”

Klise memang tapi aku senang mendengar perkataannya. Maksud dari perkataannya yang sesungguhnya adalah bangunlah, aku membutuhkanmu, jika kau tak bangun aku tak tau harus berbuat apa, aku mencintaimu. Ya, itulah Jo Kwangmin kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berbeda dengan perasaannya sesungguhnya. Ia bukan tipe namja yang dengan mudah mengatahan “saranghae” dengan romantis seperti kembarannya.

Saat ia mencintai seseorang ia akan membuat semuanya terlihat rumit. Bagaimanapun itu ia ingin berada di sampingnya selalu. Akhirnya aku mengerti arti dibalik sikap dan sifatnya selama ini.

Nado saranghae Kwangmin…

Aku tak tau bagaimana kelanjutan mimpiku. Apa yang terjadi padaku setelah itu. Aku ingin melanjutkan mimpi itu tapi tak bisa. Jo Kwangmin dan Jo Youngmin, aku tak pernah mengenal mereka sebelumnya tapi aku merasa akrab dengan mereka di mimpiku. Aku bangun dengan senyuman bahagia pagi ini berkat mimpi itu. Jujur saja aku belum pernah menyukai seseorang. Dan aku bahagia dicintai seperti itu walau hanya dari mimpi.

Aneh, tapi aku ingin mengenal mereka secara langsung. Bertemu dengan mereka. Dan jatuh cinta dengan salah satu diantara mereka seperti di mimpiku.

Aku Kim Sanee, 16 tahun, kelas 1 SMA. Aku sampai di depan pintu kelas yang akan menjadi kelasku 1 tahun ke depan di SMA ini. Aku menarik nafas dan membuka pintunya. Suara obrolan murid mulai terdengar. Kehidupan SMA-ku baru saja dimulai. Semoga banyak hal baik terjadi.

*Kim-chi : Kwangmin bermaksud memanggil Sanee dengan “Kim-ssi” tetapi diganti jadi ejekan menjadi “Kim-chi”
*Youngmin-dol : maksudnya Youngmin-Idol bukan Youngmin-dodol yak ><

 

Dorr. FF oneshoot perdana Hira selesai. Gimana gimana?? Yah gak gimana-gimana yak’-‘ haha. Jeongmal gumawo semua yang udah tertarik untuk baca. Gumawo juga buat admin yang udah ngepost:* Semoga Hira bisa bikin ff-ff Boyfriend selanjutnya yak. Saranghaeyo yeoreobun:*

This entry was posted by kepangmusic.

2 thoughts on “[FANFICTION/FREELANCE] Just A Dream

  1. Mungkin ini hanya mimpi…tp pasti banyak orang yg juga memimpikan tu anak kembar yg unyu2nya nggak ketahan…salah satu saya…so keep writing ya say…Fighting…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: