[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 05

Title 
: I Don’t Care, Again…! – Chapter 05
Author : V. Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Angst, Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Jung Yeong In

***

Before…

 

Kwangmin melihat pada Yeong In. Ia merasa sesuatu yang aneh terjadi pada Minwoo belakangan ini, “Minwoo seperti meninggalkan pelajaran belakangan ini. Apa dia banyak berubah sekarang ?”

 

“Berubah ?”

Nde. Dia seperti bukan Minwoo yang ku kenal,”

 

Pernyataan Kwangmin membuatnya kembali berpikir. Benarkah Kwangmin merasakan itu ? Kenapa ia tidak ? Apa karena ia sudah kembali memperhatikan Youngmin hingga melupakan perubahan Minwoo ?

 

Entahlah.

 

Tiba-tiba Kwangmin kembali membuka suara. Dengan agak tegas hingga membuat Yeong In terkejut.

 

“Ah iya. Kemarin aku sempat melihat selembar undangan pertunangan di lokernya ketika ekskul usai. Tapi aku tidak tahu siapa,”

 

“Undangan ?” Kwangmin mengangguk.

 

Pertunangan ??? Apa karena… ia memutuskanku ???

 

CHAPTER 5

 

Yeong In membuka lemari pakaiannya dan memilih-milih baju mana yang akan dikenakannya malam ini. Mengingat ucapan Kwangmin tadi siang, sepulang sekolah di halte bis membuatnya mendorong diri untuk menemui Minwoo yang kini ia tak tahu ada dimana. Tapi, yang pasti laki-laki itu masihlah di kota ini. Yeong In akhirnya memutuskan untuk mengenakan jeans panjang dengan paduan sweater tebal yang menutupi tubuhnya. Malam ini agak dingin, bahkan deruan angin membuat tulang ikut mengeras lebih kuat.

 

Ia melihat isi kamarnya sejenak, kira-kira ada yang ia lupakan atau tidak. “Ah iya !” ia tersentak tatkala mengingat satu benda yang membuatnya agak beda ketika memikirkannya. Yeong In berjalan menuju benda yang ia letakkan sembarangan minggu kemarin, saat ia bergelut dengan Minwoo.

 

“Baiklah ! Apapun yang terjadi, aku tidak akan peduli,”

 

Malam menunjukkan pukul 19.30 KST, Yeong In masih kuat mendayuh pedal sepedanya dengan agak kencang. Keringat tak membasahi wajahnya karena hembusan udara menyumbatkan pori-pori wajahnya. Ia memang tak tahu harus mencari Minwoo dimana, tapi setidaknya bahwa tempat yang paling mungkin adalah jembatan penyeberangan. Memang agak jauh, tapi dalam hitungan menitpun, ia pasti sampai. Kenapa ia memilih jembatan itu ? Di sanalah pertama kalinya ia menemukan Minwoo dalam kondisi tragis. Wajahnya penuh luka lebam dan pelipisnya berdarah, bahkan ia tak mampu berjalan.

 

SIIIITT ! Yeong In menghentikan laju sepedanya. Tepat sekali. Saat ini ia sudah berada di bawah jembatan penyeberangan. Suasananya sepi, tak banyak kendaraan berlalu lalang. Ia turun dan mendorong sepedanya ke tempat yang aman. “Dia tak ada di sini,” gumamnya pelan disertai hembusan nafas berat miliknya. Ia agak tertunduk. Menatap kedua sepatunya.

 

“Untuk apa kau kemari ?”

 

Sontak Yeong In mengangkat pandangannya saat tersentak akibat pertanyaan yang terdengar keras barusan. Ia memalingkan wajahnya ke kanan ke kiri untuk mengetahui siapa yang tengah mengajaknya bicara. Ketika ia melihat ke atas, ia melihat seseorang yang tak terpancarkan cahaya sehingga sulit untuknya menebak siapa orang itu. Namun yang jelas, itu adalah seorang lelaki. Tapi, nampaknya ia tahu. Mendengar suara tadi.

 

Yeong In terkejut ketika orang itu berjalan turun hingga menampakkan wujud aslinya yang sangat ia kenal. “Minwoo-a,” sebutnya. Kedua matanya tak mampu beralih ke arah lain. Terlalu serius menatap mantan kekasihnya itu.

 

Minwoo tak menunjukkan ekspresi bahagianya saat bertemu dengan gadis di hadapannya. Ekspresinya datar dan seakan-akan menggambarkan air muka yang enggan bertemu.

 

“Darimana kau tahu aku di sini ?” tanyanya. Walau terdengar agak cuek, tapi Minwoo terus menatap Yeong In dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya.

 

“Emm…”Yeong In kebingungan. Lebih tepatnya ia merasa gugup harus mengatakan apa.

 

“Pulanglah !”

 

Perintah singkat itu menusuk hati Yeong In. ini adalah hasil dari jerih payahnya mencari Minwoo malam-malam seperti ini. Ya, ini mungkin memang yang harus ia dapatkan. “Jangan mencariku lagi,” tambah Minwoo. Laki-laki itu mengambil langkah santai membelakangi mantannya. Yeong In menutup suara. Ia diam sambil menahan tumpahan air mata yang mungkin akan segera keluar. Ia menatap Minwoo yang saat ini mulai menjauh darinya.

 

“MINWOO !” teriaknya. Air matanya tumpah begitu saja dengan derasnya. Teriakan itu membuat Minwoo berhenti berjalan, namun tak membuat lelaki itu melihat ke arahnya. Harus ia akui, ia masih menyayangi Minwoo. Walaupun dulu ia sangat mencintai Youngmin, tapi setelah Minwoo mengisi harinya dengan sifat yang tak pernah peduli, ia sadar. Ia sangat ingin Minwoo di sisinya. Ia menerima bagaimana Minwoo menanggapinya.

 

“APA SALAHKU ? KENAPA KAU SELALU MEMUTUSKAN SEMUANYA TANPA AKU TAHU SEBABNYA, HAH ?!” Yeong In berteriak lebih kencang. Ia tak peduli sebanyak apa air mata membasahi wajahnya. Ia butuh kepastian, ia butuh jawaban Minwoo.

 

Minwoo tahu ia telah egois. Mengakhiri hubungannya dengan Yeong In secara sepihak. Bahkan ia lupa jika ia berjanji untuk belajar mencintai Yeong In. tapi, apa gunanya lagi untuk menepati ketika Yeong In tak lagi memiliki waktu untuknya. Membohonginya. Menyembunyikan mengenai Youngmin padanya.

 

Ia berjalan mundur dengan lamban. Belum sampai pada langkah kedua, ia terhenti. Sesuatu menghentikan niatnya. Saat itu juga semua bayang-bayang Hae Na muncul secepat kilat berganti-ganti. Otaknya bekerja sendiri memutarkan film masa lalunyya yang pahit. Ketika waktu seakan berhenti, ia merasa tak mungkin kembali pada Yeong In.

 

Mianhae, Yeong In-a,” Minwoo kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Yeong In. kilatan-kilatan pikirannya tentang Yeong In tak mampu merubah inginnya untuk kembali pada gadis yang ada di belakangnya. Sekarang, ia tak akan peduli. Tidak.

 

Kedua bola mata Yeong In membola saat melihat Minwoo kembali berjalan tanpa memperdulikannya. Air mata itupun semakin deras. Mengairi wajahnya yang masih basah. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa agar Minwoo mau bersamanya. Namun, ia tak membiarkan Minwoo pergi begitu saja.

 

Yeong In berlari dengan sisa tenaganya mengejar Minwoo yang sudah terlihat jauh dari pandangannya. Ia kerahkan semua energi. Tak peduli sesakit apa tubuhnya nanti. Dalam jarak yang tak begitu jauh, Yeong In kembali mengingat semua kenangannya bersama Minwoo. Dan…dengan jarak yang sedekat ini, ia berhasil memeluk tubuh lelaki itu. Mendekapnya dengan sangat kuat. Ia berharap Minwoo tak melepaskannya kali ini. Karena yang ia ingin hanyalah Minwoo yangg menjaganya. Selamanya…

 

Minwoo terdiam untuk beberapa waktu. Ia masih tak menyangka Yeong In melakukan ini padanya. Perlakuan ini sudah sering ia terima. Terlebih lagi saat Yeong In merasa terpuruk karena penyakit ibunya yang terus menghantui pikiran gadis yang memeluknya saat ini.

 

“Minwoo-a, aku mohon,” isakan tangis terdengar oleh Minwoo. Munafik baginya jika ia menepis kepedihan Yeong In saat ini. Ah ! Mungkin pedih yang ia terima beberapa hari ini.

 

“Jangan pergi…Minwoo-a,”

 

Hembusan angin malam menerpa hati Minwoo yang telah membeku. Kerasnya keinginan dirinya untuk menjauh dari Yeong In, Membuatnya berlaku egois dan tetap tak peduli. Padahal sangat jelas, ia merindukan dekapan ini. Ia rindu dengan Yeong In yang membutuhkannya. Membutuhkan perlindungannya kapan pun. Tak peduli ia bersikapp dingin atau tidak, Yeong In selalu ingin dirinya selalu bersama.

 

Minwoo seakan ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia agak ragu. Namun, tak bisa ia pungkiri bahwa tangisan Yeong In membuatnya prihatin. Ia merasa sedih mendengarnya. “Mianhae…,” akhirnya hanya kata itu yang mampu terucap olehnya.

 

-ooo-

 

Min Ah berjalan dengan langkah cepat menuju ruang kesehatan sekolah. Di tangan kirinya terdapat sebuah tas ransel yang terlihat ringan. Sedangkan di tangan kanannya bertengger sebuah ponsel dalam kondisi rusak. Kali ini, ia sedikit berlari. “Aish…Akan kubunuh kau No Minwoo !” ia menggerutu sendiri di sepanjang jalan disertai kutukan-kutukan yang ia tujukan pada Minwoo. Entah apa yang telah dibuat oleh lelaki itu sehingga membuat dirinya frustasi memikirkannya. “Aah, kenapa Yeong In harus seperti ini !” tambahnya mengenai sahabatnya itu.

 

GUBRAK !!!

 

“YA !” teriak Min Ah yang terdengar keras membuat seluruh siswa yang ada di koridor terdiam. Semuanya melihat ke arah gadis itu dan seseorang yang bertabrakan dengannya.

 

Min Ah bangkit berdiri setelah mengambil tas dan ponsel yang terjatuh bersamanya. Saat itu juga ia mendapati sosok Minwoo di hadapannya. Naiklah sudah derajat level darahnya kini. Haruskah ia mendaratkan puluhan kutukannya tadi pada laki-laki ini sekarang ?

 

“KAU !” tunjuknya pada Minwoo. Tepat di depan mata lelaki itu. “Kau apakan dia sampai dia harus sakit karena ulahmu ?” kalimat Min Ah kali ini terdengar agak pelan. Walau sedang marah, tapi ia masih sadar jika semua orang memperhatikannya.

 

Minwoo mengalihkan pandangan ke arah teman-teman sekolahnya. Di sana juga terdapat sosok Kwangmin sedang menatapnya. Merasa ditatap dengan tajam, akhirnya semuanya meninggalkan tempat itu dan menyisakan dirinya, Min Ah dan Kwangmin di sana.

 

“Sekarang kau mau apa ?” tanya Minwoo terdengar ketus. Mata Min Ah membola ketika Minwoo menatapnya dengan tajam.

 

“HAH !” helaann nafas Min Ah menyinggung Minwoo. Di sisi lain, Kwangmin masih terus memperhatikan dua insan di hadapannya.

 

“Kau !” teriak Min Ah.

 

Mwo ?” jawab Minwoo dengan spontan.

 

“Kau sudah gila ? Setelah kau memutuskannya, sekarang kau membuatnya lebih menderita. Dimana hatimu, No Minwoo ?!!!” kali ini Min Ah garang. Ia sudah kehabisan kesabaran menghadapi anak kecil di depannya ini, baginya.

 

“Apa urusanmu ?”

 

“Ini urusanku karena dia adalah sahabatku !”

 

“Sahabat ? Kau yakin ?”

 

Nd…Nde !” ucap Min Ah agak ragu. “Berhentilah berlaku seperti anak kecil. Kau melakukan ini karena kau merasa bersalah dengan Hae Na ? Dengan Ji Hoon ? Atau denganku ?”

 

Mata Minwoo terbelalak saat Min Ah menancapkan tembakan yang sangat tepat mengenai jantungnya. Ia bahkan tak percaya jika Min Ah akan mengatakan itu. Untuknya itu sebuah pertanyaan yang membuatnya kalah telak dari gadis di hadapannya. Ia terdiam.

 

Kwangmin yang mendengarnya ikut tak percaya. Ia tau Hae Na. Sangat tahu. Ia bahkan kenal baik dengan gadis yang telah meninggal itu. “Hae Na ?” pikirnya kemudian.

 

Wae ? Aku benar ? Hah !” kali ini gantian Min AH yang menatap tajam lelaki itu. “Jika memang benar, jangan pernah menyombongkan dirimu. Anak kecil,”

 

Karena merasa geram dengan ucapan Min Ah, Minwoo dengan tanpa sadar dan kehabisan kesabaran mendorong gadis itu dengan keras hingga Min Ah tersungkur ke bawah. Kwangmin segera menghentikan Minwoo. Setan telah merasuki otak Minwoo saat ini.

 

“YA ! Kau mau menyakiti wanita !” timpal Kwangmin sembari mendorong Minwoo untukk berjalan menjauh dari tempat itu. Membawa Minwoo menjuh dari Min Ah.

 

“Kau pasti sadar Minwoo,” ucap Min Ah yang terus memperhatikan Minwoo yang semakin jauh, menhilang dari pandangannya. Ia lalu bangkit berdiri dan kembali mengambil langkah menuju ruang kesehatan.

 

-ooo-

 

“Apa Minwoo sekolah ?”

 

“Tidak,”

 

“Kenapa ia tidak sekolah ?”

 

Nan molla,”

 

“Apa dia sakit ?”

 

“Entahlah,”

 

“Min Ah, bolehkan aku meminjam ponselmu untuk menghubunginya ?”

 

“YA ! KENAPA KAU PEDULI DENGANNYA. MINWOO SUDAH MATI, JANGAN PERNAH MENCARINYA. IA TAK AKAN PERNAH PEDULI PADAMU. ARRA ?”

 

Min Ah meninggalkan Yeong In setelah menjawab rentetan pertanyaan yang membuatnya naik darah. Ia tak habis pikir, kenapa sahabatnya itu selalu bisa mengharapkan Minwoo. Ingin tahu dan peduli dengan Minwoo, sedangkan lelaki itu sama sekali tidak peduli. “Paboya !” Min Ah menutup pintu ruang kesehatan dengan kencang.

 

Saat berada di luar, Min Ah bersandar pada dinding. Ia menatap langit biru yang terhampar luas. Sepertinya ia telah gagal melakukan apa yang telah menjadi janjinya pada saudara tirinya yang saat ini telah jauh dari jangkauannya. “Maafkan aku, Hae Na,”

 

“Minwoo,” Min Ah terkejut ketika mendapati Minwoo terduduk di kursi tunggu di dekatnya. Kejadian tadi membuatnya canggung untuk bertemu dengan lelaki itu.

 

Seakan tak terjadi apa-apa, Minwoo malah memberikan senyuman pada Min Ah. Alhasil, gadis itu hanya bisa terdiam menerimanya. Min Ah sama sekali tak membalas senyuman itu.

 

“Aku ingin melihat Yeong In,” ujar Minwoo ketika sudah berada di depan pintu, hendak memutar knop pintu. Ia meninggalkan jejak tangannya di bahu Min Ah sebelum ia masuk ke dalam.

 

GRUB ! Pintu tertutup pelan.

 

“Dia tersenyum ?”

 

Min Ah mengulas senyumnya saat mengingat bagaimana Minwoo tersenyum ke arahnya. “Baguslah,” untuk kedua kalinya ia tersenyum lagi.

 

TBC

 

Ahhh, eotthe ??? Aish benar-benar gak masuk akal kali ini kelanjutannya.

Like and comment juseyoooo🙂

This entry was posted by kepangmusic.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Don’t Care Again ….! – Chapter 05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: