[FANFICT/FREELANCE] I Will Not Leave You – Chapter 01

Title
: I Will Not Leave You – Chapter 1
Author : Venoxia Noviy a.k.a D’chemos Bee
Genre : Friendship, Romance, & Angst
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ No Minwoo

  ~ Jo Youngmin

  ~ Choi Luan

  ~ Min Sunyeong

Desclaimer : FF ini asli dari otak author abal-abal yang selalu mengkhayal yang aneh-aneh.

Warning ! banyak mengandung typo dimana-mana, harap maklum ya. And Don’t be silent readers.

 

-ooo-

Luan.

 

Yeoja itu duduk manis di sebuah kursi klasik yang tergeletak di taman belakang sekolah. Pandangannya menunduk sesaat sebelum ia pastikan bahwa taman itu benar-benar sepi tanpa tatapan mata seorangpun. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menyembulkannya perlahan.

 

Luan..

 

Kali ini ia menitihkan air matanya. Kebiasaan yang dilakukannya setiap hari sepulang sekolah. Tak ada yang peduli dengan keadaannya, sekalipun sangat menimbulkan keprihatinan untuk seseorang yang pertama kali bertemu dengannya. Ia hempaskan semua beban yang menohok pikirannya. Seperti ribuan lalat yang mengerubungi serakan sampah yang telah membusuk. Mata itu, kembali mengeluarkan siluetnya. Sebenarnya ia lelah menerima takdir seperti ini. Menjadi manusia yang harus kehilangan orang-orang yang dicintainya untuk menjalankan hukumannya di dunia. Sendiri.

 

TTT

 

Dua orang namja tengah berlari mengelilingi lapangan basket. Kala itu cuaca sangat mendukung keduanya, karena awan mendung yang melindungi mereka dari terik sinar panas. Mereka adalah Minwoo dan Youngmin. Siswa teladan namun terkadang nakal.

 

Minwoo’s POV

 

 Ya ! Kenapa hari ini aku sangat sial sekali. Menjalani hukuman yang bukan kesalahanku sama sekali. Jika saja tadi aku tidak membantu Youngmin, mungkin saat ini aku sudah menghabiskan tiga komik Conanku.

 

Tap.. tap.. tap…

 

“Hah, Youngmin~a ini semua gara-gara kau !” teriakku pelan. Namun, yang pastinya terdengar oleh Youngmin yang berlari di depanku.

 

Mwo ? Ini semua rencanamu, pabo !” elaknya tanpa menolehkan tubuhnya padaku. Cih ! Dia terlalu menjaga ketampanannya. Ya jika sudah bisa menarik perhatian yeoja, dia sudah tidak mau menghadap ke arahku.

 

Mwoya ?! Dasar tidak mau mengakui kesalahanmu sendiri” aku berhenti dan berkacak pinggang. Sedangkan dia hanya meneruskan lari-lari kecilnya sambil mendengus kesal. Ya, aku tau. Ini semua memang karena dia, makanya dia mengelak begitu saja. Aku melanjutkan hukumanku.

 

“Sudahlah, jangan buat aku semakin lelah, Minwoo~ssi !”

 

“Yak ! Sejak kapan kau memanggilku seperti itu. Aku takut mendengarnya”

Dia ini~ Setiap hari tak bisa membuatku tersenyum sedikitpun.

 

YA ! NO MINWOO, JO YOUNGMIN, JANGAN HANYA MENGGERUTU SAJA. CEPAT SELESAIKAN HUKUMAN KALIAN”

 

Ne, arrasseo. Aku mengerti Hun Songsaenim. Tidak perlu berteriak padaku dan Youngmin. Dia kira aku tidak lelah, hah ?! Dasar songsaenim jahat.

 

Minwoo’s POV end

 

-ooo-

 

Di ambang gerbang sekolah, terlihat seorang yeoja tengah mengedarkan pandangannya menyusup setiap sudut sekolah yang terpampang di hadapannya. Tangannya mengenggam erat tali kecil tasnya. Kemudian ia mengangguk. Entah tanda apa, yang jelas setelah memperhatikan sekolah barunya itu, senyum terukir di bibirnya.

 

Sun Yeong’s POV

 

Tuhan.. Hari ini aku akan memulai kehidupan baru. Tak ada ejekan, tak ada tawa hina dan perlakuan kasar orang-orang. Yah ! Mulai hari ini aku bebas dari jeruji yang menghantam bathinku. Selama ini aku menanggungnya sendiri. Di Busan.

 

Aku berjalan di sepanjang koridor sekolah ini. Synnara High School. Salah satu sekolah terkenal yang menduduki list ke-3 di Seoul. Betapa senangnya aku diterima di sini. Sudah lama aku ingin bersekolah di tempat ini.

 

Suasana saat ini sangat sepi karena kurasa jam kedua baru saja dimulai. Namun, ada satu pemandangan yang menarik perhatianku. Dua orang namja tengah berlari mengelilingi lapangan basket. Tanpa… baju olahraga. Ah ! Mereka kenapa seperti itu ? Apa mungkin mendapat hukuman ? O~ lebih baik aku menghampirinya saja, sambil menanyakan kantor kepala sekolah.

 

Aku mendekati lapangan. Dua manusia itu sepertinya belum menyadari keberadaanku. Kuputuskan saja untuk berdiri di pinggir lapangan. Mataku menatap lekat dua namja tampan itu. AH ! tapi mereka memang tampan.

 

Hoshh…Hoshh..

 

“Minwoo~ya, aku minta air minummu !” teriak namja berambut coklat  dengan kaki jenjangnya. Ia memegangi lututnya. Badannya sedikit membungkuk. Sepertinya sangat kelelahan. Sedangkan namja yang bernama… a ~ Minwoo itu, malah meneruskan larinya tanpa memperdulikan teriakan temannya yang belum kuketahui namanya.

 

“Ish~ sebegitu marahkah ia?” tanyanya pada dirinya sendiri. Tapi, aku masih bisa mendengarnya.

 

Namja tinggi itu berjalan ke arahku. Tapi, sama sekali tak melihatku. Uh, apa kejadian di Busan dulu akan terjadi lagi di sini ?

 

“Eoh !” ucapnya terkejut ketika melihatku tiba-tiba. Aku yang merasa dilihat hanya tersenyum ramah padanya.

 

Annyeonghaseo” sapaku selembut mungkin. Dia membungkukkan badannya sedikit lalu menghampiriku.

 

“Kau ? siswi baru, ne ?” tanyanya dengan sorot mata yang menyapu penampilanku dari bawah hingga ke atas. Memangnya begitu anehkan aku ini ?

 

“Ne. Um.. Apa aku boleh bertanya?” tanyaku kemudian. Sekilas aku melihat ke arah temannya yang terduduk di lapangan.

 

“Tentu saja. Ah~ biasanya kalau ada murid baru, pasti mereka akan menanyakan ruang kepala sekolah atau kelas barunya. Apa itu ?”

 

Bingo ! Tepat sekali dia. Sepertinya otaknya itu sangat lama mengingat sesuatu. Dan, nampak terbiasa dengan sosok baru di lingkungannya.

 

“Ya~ kau benar. Hebat sekali” aku bertepuk tangan dengan pelan. Aku melihat ke arah temannya lagi. Saat ini namja itu melihat ke arah kami – aku dan namja di depanku – ah, aku lupa menanyakan namanya.

 

“Kau berlebihan. Ja ! Aku antar kau ke ruang yang kau tuju itu” namja itu langsung berbalik badan. Namun, aku masih mematung melihat namja satunya lagi.

 

“Hei ! jadi tidak ?” teriaknya yang sontak membuatku terbangun dari pandanganku.

 

“A~ ne. Eh, itu ?” aku menunjuk ke arah lapangan. Tepat pada namja yang bernama Mi.. Min.. ah siapa ya ? aku lupa.

 

“O~ Minwoo. Biarkan saja dia”

 

Sun Yeong’s POV end

 

-ooo-

 

Minwoo’s POV

 

“Haahhh”

 

Aku menghempaskan tubuhku di hamparan rumput. Saat ini aku berada di bawah pohon mapple yang berada di tepi lapangan basket, tepat membelakangi danau sekolah. Dari sini, udara terhirup sangat segar. Bisa kupastikan, seorang yang flu akan sembuh jika menghirup udara ini.

 

“Kapan dia berhenti mencari perhatian para yeoja ? Tidakkah dia mau bergantian denganku ?” aku bertanya pada diriku sendiri. Namun, sebenarnya itu semua kutujukan pada Youngmin. Namja itu saat ini tengah berjalan bersama seorang yeoja di koridor. Sebelumnya aku belum pernah melihat yeoja itu. Ah ~ mungkin siswi baru. Apa pedulinya aku.

 

5 menit

 

15 menit

 

30 menit

 

Bosan juga jika tidak mendengarkan Kim Songsaenim mengajariku. Seperti ini eoh, menjalani hukuman tidak mengikuti pelajaran. Biasanya, hukuman yang aku jalani hanya membersihkan gudang, toilet, koridor dan perpustakaan. Itupun pada waktu yang tepat. Saat pulang sekolah.

 

Tiba-tiba mataku beralih. Mataku menangkap seorang yeoja yang sudah tak asing lagi. Setiap hari aku melihat yeoja itu. Yeoja pendiam dan selalu menundukkan kepalanya. Tidak di kelas, di perpustakaan ataupun di kantin. Aku belum pernah mendengarnya berbicara. Namun, kata Kwangmin – adik Youngmin yang sekelas dengan yeoja itu – , saat pelajaran saja dia mau berbicara. Itupun hanya dengan songsaenim yang memberinya pertanyaan atau perintah saja. Selain dari itu, dia akan diam seribu bahasa.

 

Yeoja itu darimana ? Jam segini bukannya semua murid harus berada di kelas ? Apa dia menjalani hukuman juga ? Ah ~ mana mungkin. Dia adalah siswi teladan di sini. Sebenarnya dia cantik, tapi sayangnya murung seperti itu.

 

“Minwoo~ya !” panggil seseorang yang suaranya sudah familiar di telingaku.

 

Akupun menoleh dan mendapatinya tengah berjalan mendekatiku bersama seorang yeoja. Ya, yeoja tadi pagi.

 

“Sudah puas ? Mana minum untukku ?” tanyaku dengan wajah beraura sinisku. Ciri khasku.

 

“Kau pikir aku pergi ke kantin untuk membeli minum ? Pikiranmu salah” jawabnya tak mau kalah. Aku hanya diam dan kembali menelusuri yeoja yang aku lihat tadi.

 

“Ternyata berita di mading itu benar ya ?”

 

Aku beralih ke sumber suara. Yeoja bersama Youngmin itu tersenyum padaku dan Youngmin. Ch, apa maksudnya dia bertanya seperti itu?

 

“Memangnya apa ?” tanya Youngmin pura-pura tidak tahu. Padahal, dialah yang menulis berita menjijikkan untuk ditampilkan di mading dengan penyamaran nama palsunya.

 

“Berita bahwa kalian adalah murid populer di sekolah ini. Tidak salah sih, karena kalian memang tampan” ucapnya tersenyum malu-malu. Berita itu sangat memuakkan.

 

“Hahaha, kau harus selalu mengingat itu” tawa Youngmin memecah gendang telingaku. Dia ini percaya diri sekali.

 

“Ah, aku ingin masuk ke kelas. Apa kau tidak mau belajar Youngmin~a”

 

Tanyaku sembari berjalan melewati tengah lapangan. Kubiarkan mereka merasa kesal karena aku tinggal begitu saja. Memangnya aku mau mendengar ocehan berita aneh itu ? Membacanya saja sudah membuatku ingin pindah sekolah.

 

“Ya ! Minwoo !”

 

Minwoo’s POV end

 

-ooo-

 

Choi Luan.

 

Yeoja itu sedang mendengarkan lagu dari headset miliknya. Tak ada yang bisa ia kerjakan saat istirahat seperti ini. Ajakan teman-temannya pun tak ia gubris satupun. Ia hanya menyunggingkan senyum tatkala para temannya itu mengajaknya pergi bermain dengan mereka.

 

“Tuhan… Panggil aku !” gumamnya di dalam hati.

 

Luan berpindah tempat duduk. Ia menarik satu kursi yang berada paling belakang dekat lemari siswa. Iapun duduk di jendela kelasnya setelah berhasil bertopang pada kursinya. Tatapannya menjurus ke lapangan basket yang luas. Disana ia melihat seorang namja yang sedari dulu ingin ia mintai bantuan. Tapi, ia sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya.

 

Annyeonghaseo” sapa seseorang. Luan tak menoleh. Sebenarnya ia sama sekali tidak mendengar sapaan itu karena headsetnya. Ia tetap fokus pada namja itu dari lantai tiga ini. Ya, kelasnya berada di lantai tiga. Hanya berjarak 2 kelas dari kelas Youngmin dan Minwoo.

 

Annyeonghaseo.. permisi”

Tak ada balasan apapun. Seseorang itupun mendengus kesal karena sapanya tak dibalas oleh Luan. Ia pun menepuk pundak Luan sangat pelan. Akhirnya, Luan menoleh dan lalu melepas headsetnya.

 

Nugu ?” tanya Luan lirih. Matanya kelihatan sayu, nampak aura malas dari tatapannya.

 

“Aku Sun Yeong. Siswi baru yang duduk di belakangmu. Kau lupa ?” tanya orang itu yang ternyata Sun Yeong.

 

“Eum, aku tidak memperhatikanmu tadi” jawab Luan sekenanya. Luanpun tak memperdulikan Sun Yeong, ia kembali pada posisi awal.

 

Ne, kau tadi memang tak melihatku. Namamu siapa ?” tanya Sun Yeong. Yeoja itu ikut melirik ke arah pandangan Luan. Tapi, ia sama sekali tidak tau siapa yang dilihat Luan, karena dari atas sini para murid di lapangan tidak terlihat dengan jelas.

 

“Choi Luan” jawab Luan singkat. Mambuat Sun Yeong sedikit kecewa karena ia merasa yeoja itu tak menerimanya.

 

“Kalau begitu, aku minta maaf ya sudah menganggumu”

 

Sun Yeong akhirnya pergi meninggalkan Luan yang kini memandangi Sun Yeong dengan perasaan bersalahnya. Cuek dan sombong. Itulah gambaran dari Sun Yeong. Yeoja itu merasa kesal dengan Luan yang tidak ramah menghadapinya.

 

-ooo-

 

Sun Yeong’s POV

 

Aku berjalan menyusuri koridor. Bising. Itulah yang aku dengar. Tapi, suasana seperti inilah yang aku rindukan. Aku melihat tatapan ramah dari para murid di sini. Sesekali ada yang menegurku. Hah ! berbeda sekali dengan Lu..Luan ! Padahal aku hanya ingin berteman dengannya. Salah ?

 

“Sun Yeong~ssi !”

 

Aku mendengar teriakan seorang namja. Sepertinya aku pernah mendengar suara itu ? tapi….

 

DDUAKK !!!

 

“Aiii…Appeo !” ringisku kesakitan. Baru saja sebuah bola basket telak mengenai kepalaku sangat keras. Sakit. Sangat sakit. Pusing . Sangat pusing.

 

Aku memegangi kepalaku. Aku mendengar suara ribut orang-orang di sekelilingku. Tapi pandanganku buram. Hitam. Masih jelasku dengan suara namja yang memanggilku tadi. Tapi….

 

“Dia pingsan”

 

#Ruang Kesehatan Sekolah ( RKS )

 

Aku membuka mataku perlahan. Putih. Aku mengerjapkan mataku berulang-ulang hingga penglihatanku pulih seperti biasa.

 

“Aku dimana ? Rumah sakit?” tanyaku dengan volume kecil.

 

“Kau berbicara dengan siapa ? Kau sedang di ruang kesehatan sekolah”

 

Aku spontan kaget mendengar ucapan seseorang barusan. Aku melihat ke arah jendela ruangan putih ini. Namja. Nuguya ?

 

“Kau siapa ?” tanyaku. Aku sangat tidak tahu siapa namja yang sedang melihat area di balik jendela itu. Tapi, sepertinya aku tahu.

 

“Aku Minwoo. Mianhae, karena sudah membuatmu celaka” ucapnya masih dalam posisi semula. Seperti itukah meminta maaf dengan sopan ?

 

“A~ Ne, gwaenchana” jawabku singkat.

 

Kulihat dia membalikkan badannya menghadapku. Tubuhnya menyandar di dinding tepat di samping jendela ruangan ini. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya. Seperti itu ? ah ~ tapi dia memang tampan. Jadi, biasa saja.

 

“Apa kau sudah makan?” tanyanya kemudian. Pertanyaan ini baru saja mengingatkanku bahwa aku sama sekali belum makan dari berangkat sekolah tadi. Sepertinya efek dari kebahagiaanku pindah ke sini.

 

“Belum. Waeyo ?”

 

“Pantas saja. Baru terkena pukulan bola saja, kau langsung pingsan”

 

Ya ! Apa maksudnya berbicara seperti itu ? Dia ini kenapa ? Bukankah dia yang salah ?

 

“Aku tidak sempat sarapan. Tapi, pukulan bolamu tadi itu memang sangat keras” ucapku yang mulai naik darah karena ucapannya itu.

 

“Ya sudah. Makan itu !”

 

Namja bernama Minwoo itu berjalan menuju ranjangku. Tempat aku terduduk saat ini. Aku melihat ke sebelah kananku. Meja kecil, di atasnya terdapat sepiring makanan, satu gelas air dan sebuah vas bunga berisi bunga lily putih.

 

“Waa~ bunga yang indah” ucapku kagum. Aku mengambil vas bunga tersebut. Aku rapikan beberapa bunga lily yang ada di dalam vas itu. Bunga yang cantik. Aku tersenyum.

 

“Ck ! menyebalkan” aku mendengar Minwoo berdecak kesal. Salahkah aku memperlakukan bunga itu dengan sangat special ?. ah iya, namja mana tahu dengan bunga.

 

“Jika kau ingin pergi, silahkan. Aku tidak melarang” tuturku acuh.

 

Aku meletakkan kembali vas bunga itu, lalu mengambil piring yang ada di meja.

 

“Baiklah. Urusanku denganmu sudah selesai”

 

Minwoo kemudian berjalan ke arah pintu. Ia sama sekali tidak tersenyum ramah padaku. Berbeda dengan temannya itu. Ah, aku amsih belum tau namanya.

 

Sun Yeong’s POV end

 

-ooo-

 

Youngmin’s POV

 

Aku sedang mondar-mandir di depan ruang kesehatan sekolah. Menunggu Minwoo yang tak kunjung keluar. Tapi, kenapa aku jadi panik seperti ini ? AH ~ inikan salah Minwoo, kenapa aku yang panik sendiri ?

 

CEKLK !

 

“Kau masih di sini?” tanya Minwoo yang baru saja keluar dari RKS. Aku berhenti tepat di sampingnya.

 

“Bagaimana dia ?” tanyaku.

 

“Lihat saja sendiri. Dia terlalu berlebihan”

 

“Berlebihan ? AH, dasar kau saja yang memang dari dulu seperti itu. Kapan kau akan bersikap manis pada yeoja ? Memangnya kau mau menjadi namja tua tanpa pasangan?”

 

Aku menyenggol pundaknya. Sahabatku ini kenapa jadi cuek seperti ini ? Dulu dia selalu mengajariku bersikap ramah di depan yeoja, tapi sekarang ?!

 

“Aku tidak peduli”

 

Minwoo melenggang pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan perasaan kesal. Masih beruntung aku menasehatinya. Tapi dia malah seperti itu.

 

“Minwoo~ya, apa kau tidak menyadari ada yang memperhatikanmu ?” tanyaku pada Minwoo yang sedang menyantap mie ramennya.

 

“Memangnya siapa ? Yeojakah ?” tanyanya tanpa melihat ke arah pandanganku.

 

“Ne. Tapi kenapa dia melihatmu seperti itu ? Menyedihkan” ujarku sambil terus menatap yeoja yang duduk tak jauh dari tempat kami duduk. Aku sama sekali tidak fokus pada makananku.

 

“Memangnya kau melihat siapa ? Ji Sun ? Ame ? Atau Young Sin ?”

 

“Anio. Tapi, kenapa kau menyebutkan itu ? Apa kau mulai menyukai tiga yeoja itu ? Merekakan hubae kita?”

 

PLETAK !!!

 

“Ya, No Minwoo, kau jahat sekali”

 

Komentarku setelah mendapat pendaratan jitakan keras dari Minwoo. Memang benar seperti itu bukan ? Minwoo pabo !

 

“Mereka yang biasanya seperti itu” ucap Minwoo sambil melihat ke sekeliling. Namun, kulihat matanya menembak sebuah penampakan.

 

“Youngmin~a, apa yang kau maksud yeoja itu?”

 

Aku melihat kemana tujuan mata Minwoo. Tepat searah jarum jam 12, aku dan Minwoo melihat seorang yeoja yang kulihat tadi tengah memperhatikan kami. Namun, seketika ia menundukkan kepalanya. Aku rasa dia merasakan bahwa aku dan Minwoo mengetahuinya. Tapi, apa maksudnya ?

 

“Bukankah itu Luan ?” tanya Minwoo padaku dengan sekilas matanya yang melihat ke arahku.

 

“Luan ? Kau tau darimana ?” tanyaku dengan mata membulat. Aku memang belum pernah mendengar nama itu. Melihatnya pun baru hari ini. Kukira dia anak baru juga.

 

“Choi Luan. Siswi berprestasi yang berada di kelas yang sama dengan Kwangmin. Yeoja pendiam yang selalu menyendiri di taman belakang sekolah ketika pelajaran usai” ucap Minwoo panjang lebar. Dia tau darimana ?

 

“Luan ? AH, ada hubungan apa kau dengannya?” tanyaku. Kali ini aku takmemperdulikan dengan yeoja yang bernama Luan itu. Aku mulai meneguk softdrinkku yang hampir habis.

 

“Aku diceritakan oleh Hun Songsaenim. Tapi, untuk masalah di taman itu aku melihatnya sendiri setiap hari” serah Minwoo yang masih terus menatap yeoja itu.

 

“Yeoja aneh. Tidak punya teman” ucapku dalam hati. Memang kelihatan seperti itu dia. Mungkin nanti akan aku tanyakan pada Kwangmin.

 

“YOUNGMIN~ssi !!!”

 

Youngmin’s POV end

-ooo-

 

TBC

This entry was posted by kepangmusic.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] I Will Not Leave You – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: