[FANFICT/FREELANCE] Stuck With You – Chapter 03

Title
: Stuck With You – Chapter 3
Author : Monika Refsi
Genre : Friendship & Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Kim Jae Yeon

  ~ Kim Jeong Min

Support Casts
: Semua member Boyfriend

Chapter 3

Sosok itu-yang jika didengar dari suara tawanya yang berat-kemungkinan adalah namja, tetap tertawa dengan seramnya. Jae Yeon tak habis pikir. Apa mungkin dia orang gila? Psikopat yang suka membunuh gadis SMA?

TIIIDDAAAAKKKK!!!

            Namja itu mendekatkan wajahnya ke Jae Yeon. Jae Yeon panik tapi saat itu juga dia punya ide untuk kabur. Dengan sekuat tenaganya diinjaknya kaki namja itu. Namja itu kesakitan dan lepas pandangan dari Jae Yeon. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Jae Yeon langsung melarikan diri. Dia berlari menuju halte bis,tapi terlalu sepi dan bis yang ditunggu-tunggu belum datang. Sementara namja itu menyusulnya dengan kaki terpincang-pincang.

Yaa! Kau mau kemana? Neo juggo jullae?!”

Sepertinya Jae Yeon pernah mendengar suara ini. Tapi itu tak membuatnya untuk tetap disitu dan menunggu dia mendekat. Dengan sisa tenaganya, dia berlari entah kemana yang penting dia harus melarikan diri dari namja misterius tadi. Terus berlari, sampai akhirnya bayangan namja itu tak terlihat. Jae Yeon merasa aman, padahal dia memasuki kawasan yang salah. Dia berada di gang gelap yang didepannya berdiri lima orang preman berbadan kekar melihatnya sebagai mangsa. Apa mereka seklompotan dengan namja tadi? Kali ini Jae Yeon terperangkap dengan sisa tenaganya yang menipis-sepertinya ia harus membenarkan ucapan Oppa-nya untuk rajin berolahraga. Untuk kembali menginjak sepatu mereka takkan membuat mereka kesakitan. Mereka mengelilingi Jae Yeon. Merapatkannya ke tembok kasar gang itu. Jae Yeon mencoba mengalihkan perhatian mereka. Tapi perhatian malah makin tertuju padanya.

‘Kenapa hal sial selalu terjadi padaku?’

Jae Yeon berteriak meminta tolong, tapi pria dengan tangan besar membekap mulutnya. Tanpa kehilangan akal Jae Yeon lantas menggigit tangan pria itu. Tetapi keempat lainnya mencegah Jae Yeon untuk kabur. Jae Yeon tak punya ruang untuk bergerak sedikitpun. Lalu dengan tiba-tiba, namja itu muncul. Namja yang tadi mengejar-ngejarnya, dengan membawa sebatang kayu ditangannya, sambil berkata lantang, ”Lepaskan dia !!”

Merasa sedikit terganggu oleh namja itu, mereka mendatangi dia dan tanpa sadar telah melepaskan Jae Yeon. Tampaknya mereka tidak seklompotan. Mereka menyerang namja itu. Dan terjadilah pertikaian diantara mereka. Melihat ada kesempatan kosong, Jae Yeon langsung berlari tanpa diperintahkan. Tapi Jae Yeon tidak sadar kalau salah seorang dari preman tadi mengikutinya dan menjebaknya digang gelap yang buntu. Preman itu mendatanginya, tertawa penuh kemenangan yang membuat bulu kuduk Jae Yeon naik. Dia kehilangan tenaganya untuk sekali lagi. Kalau begini lebih baik dia tetap ditempatnya tadi dan menunggu namja tadi memenangkan perkelahian. Tapi bukankah sama saja? Mereka sama-sama menginginkan Jae Yeon. Tapi setidaknya namja itu tidak lebih menyeramkan dari mereka. Hei, kenapa dia bisa berpikir seperti itu?

 

Brruuukk!!

Pria didepan Jae Yeon terhuyung-huyung terkena pukulan dari sebatang kayu milik namja yang tadi membantunya melarikan diri. Darah segar menetes dari pelipisnya. Sekali lagi Jae Yeon merasa beruntung bisa terselamatkan dari hewan-hewan buas seperti mereka. Tapi sebelum sempat Jae Yeon berlari sekali lagi untuk melarikan diri dari ancaman satu lagi, sang ancaman malah membawanya berlari. Seperti saling menyelamatkan diri sebelum preman tadi memulihkan tenaganya dan kembali menyerang mereka. Namja itu menggandeng tangan Jae Yeon dengan erat, dan dari genggamannya Jae Yeon merasa tak asing dengan namja ini. Instings Jae Yeon, ntah kenapa, mengatakan dia bukan orang jahat.

Namja itu sesekali menoleh kebelakang untuk melihat ada yang mengikuti mereka atau tidak. Barulah Jae Yeon sadar, namja itu tidak memakai topengnya. Mungkin dia kehilangannya atau sengaja melepasnya. Hanya saja wajahnya tersamarkan oleh sinar matahari. Mereka berhenti didaerah yang agak ramai karena merasa preman itu sudah tak mengikutinya lagi. Dengan segera namja itu hendak melarikan diri karena dia tahu wajahnya tak tertutup topeng lagi. Tapi Jae Yeon berhasil menghentikannya dengan menahan lengannya.

“Kau bukan orang jahat kan? Lalu untuk apa kau menakut-nakutiku?”

Namja itu segera melepaskan cengkeraman Jae Yeon yang tak seberapa itu dan hendak melanjutkan melarikan diri, tapi sekali lagi dia tertahan karena Jae Yeon tiba-tiba sudah ada didepannya tanpa disadarinya. Begitu terkejutnya dia ketika mengetahui namja bertopeng yang menakut-nakutinya dan bahkan membuatnya berada dalam bahaya adalah dia? Jo Kwang Min?!

Yaa!”

Kamjagiya! Shikereoweo!”

Aish! Neo…” Jae Yeon memukul bahu Kwang Min untuk melampiaskan kekesalannya dan mulai mengomel, “Ternyata kau! Apa maksudmu membuatku seperti ini? Apa mereka suruhanmu? Apa itu memang rencanamu, untuk menakut-nakutiku, huh?! Menculikku dan melenyapkanku dari bumi?! Katakan!”

Yaa! Sakit! Kenapa kau harus selalu memukulku?!”

“Gara-gara kau, aku berada dalam masalah. Bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu? Kau ingin balas dendam kan denganku? Malhae!”

Arra arra! Ne! Aku memang mau balas dendam. Aku ingin menunjukkan padamu kalau kau akan menyesal karena mencari masalah denganku! Tapi aku tidak ada sangkut-pautnya dengan pria-pria berbadan kekar itu!” Kwang Min berbicara jujur terlihat dari parasnya.

Yaa! Tentu saja kau ada sangkut pautnya! Kalau gak karena kau menakut-nakutiku dengan alasan balas dendam,aku mungkin takkan masuk ke gang gelap itu dan bertemu dengan mereka! Niga arra, betapa capeknya aku berlari-lari?! Kalau seandainya sesuatu yang buruk benar-benar terjadi bagaimana? Kau mau bertanggung jawab?!”

“Molla, aku kan gak ada menyuruhmu untuk kabur. Kau saja yang berlebihan.”

Yaa! Semua orang juga pasti akan berusaha kabur dari seseorang yang tiba-tiba menjebakmu di gang gelap dan tertawa psikopat!”

“Lebih baik kau pulang sana. Daripada mereka mulai mencari kita lagi. Ka!”

Sudah cukup! Kwang Min harus tau apa yang dirasakannya dan menyesal atas perbuatannya, jadi Jae Yeon memukul bahu sebelah kiri Kwang Min untuk melampiaskan kekesalannya. Dia kira ini main-main?! Nyawa seorang Kim Jae Yeon terancam! Dan ia bisa saja kehilangan kehormatannya tadi di gang gelap itu hanya karena seorang Jo Kwang Min yang ingin balas dendam dengannya! Tidak masuk akal.

Buuk! Jae Yeon terus memukulnya sambil mencegah airmatanya mengalir di pipinya.

“Aaaahh… bukankah sudah ku bilang kalau itu sakit?!”Kwang Min mengerang kesakitan.

Molla,” Jae Yeon malah mengejeknya. “Napeun namja!”

Tapi ada yang salah dengan Kwang Min. Dia mengerang terlalu keras lalu tiba-tiba saja membungkukkan badannya sambil memegangi perutnya. Seharusnya pukulan Jae Yeon takkan menyebabkannya begitu kesakitan seperti ini. Apalagi sampai menyebar ke perut. Dia memukulnya di lengan, kan?

Yaa! Utkijima. Aku takkan tertipu dengan kau berpura-pura kesakitan seperti itu!”

Jae Yeon melipat kedua tangannya didadanya bersikap tak peduli.

Kwang Min tak mengacuhkan omongan Jae Yeon dan malah semakin membungkukkan badannya merintih kesakitan. Bukannya menyudahi aktingnya-jika dia memang tengah bermain-main dengan Jae Yeon-Kwang Min malah hampir jatuh ketanah kalau Jae Yeon tak segera refleks menangkapnya.

“Kwang Min-ah, wae irrae?”

Badan Kwang Min melemah. Wajahnya berubah menjadi pucat. Tidak ada cara lain, Jae Yeon memapah Kwang Min menuju ke klinik terdekat. Kenapa dia terlihat begitu kesakitan?

Tepat sampai di klinik, Kwang Min terjatuh ke lantai. Melihat itu, perawat langsung membawanya untuk diperiksa. Jae Yeon menunggunya dengan harap-harap cemas. Selang beberapa menit, dokter beserta anggotanya keluar dari ruangan. Tanpa tunggu waktu lama, Jae Yeon langsung bertanya bagaimana keadaan Kwang Min.

Gwaenchanhayo, tak ada masalah serius. Maag-nya kambuh. Tapi badannya kenapa lebam-lebam? Apakah kebetulan dia habis berkelahi?”

Jae Yeon menutup mulutnya tanda tak terpercaya. Ternyata badan Kwang Min mengalami banyak luka. Dia lalu mengangguk kepada dokter. Langsung setelahnya dia masuk ke ruangan dimana Kwang Min terbaring sambil menutup matanya. Tampak baik-baik saja diluar, tetapi tubuhnya semua terluka. Beberapa perban tampak menghiasi lengannya yang sebelumnya tertutup jaket tadi. Jae Yeon jadi merasa menyesal karena menyebabkan Kwang Min terluka parah. Kalau saja dia tidak berlari ke gang sempit itu dan Kwang Min mencoba untuk menolongnya,semuanya takkan jadi seperti ini. Kwang Min takkan terluka.

Jae Yeon mengambil kursi untuk mendekatkannya ke tempat tidur pasien yang diatasnya terbaring Kwang Min. Dia menatap wajah Kwang Min yang sedang memejamkan matanya. Selang infus menitik perlahan seperti airmata Jae Yeon yang tiba-tiba saja menitik membasahi pipinya. Sekarang apa yang harus dilakukannya pada Kwang Min? Apakah Kwang Min akan segera bangun? Akan segera sembuh?

Mianhae Kwang Min-ah, mianhae.. ppali ireonna,” bisik Jae Yeon.

Sedetik kemudian,seperti mendengar permohonan Jae Yeon, Kwang Min menggerak-gerakkan bola matanya terlihat dari kelopak matanya dan setelahnya membuka matanya secara perlahan. Jae Yeon terkejut melihatnya.

“Aku dimana? Aa…” Kwang Min kembali merintih sambil memegangi kepalanya.

Gwaenchanha?” Jae Yeon sedikit lega dan khawatir melihat Kwang Min sadarkan diri.

“Sepertinya aku mendengar suara seseorang,”

“Kwang Min-ah, na ya. Jae Yeon imnida.”

Arra arra. Tidak bisakah kau tenang sebentar?”

Jae Yeon tidak jadi menangis haru. Dia menyeka airmatanya agar Kwang Min tidak melihatnya, ini benar-benar memalukan kalau Kwang Min sampai mengetahuinya.

Tapi Jae Yeon terlambat. Kwang Min sudah mendengar semuanya. Dia tersadar saat dokter selesai memeriksanya, dan dokter menyuruhnya untuk beristirahat. Tapi saat dia baru saja memejamkan matanya, seseorang datang mengganggunya dengan membuka pintu kamar. Kwang Min meliriknya tanpa bergerak. Ternyata Jae Yeon. Kwang Min merasa masih kesal dengannya dan berniat untuk mencuekinya saja dengan memejamkan matanya. Mungkin Jae Yeon akan segera pergi. Tapi nyatanya, Jae Yeon malah mendekatinya dengan duduk disampingnya. Saat Jae Yeon mulai berbisik padanya, Kwang Min berusaha menahan ketawanya sebisa mungkin dalam batinnya. Karena akhirnya Jae Yeon kalah dengan menangis dan mengaku salah padanya. Maka terbalas sudah kekesalannya.

Yaa.. bagaimana bisa badanmu terluka tapi kau tak segera pergi ke rumah sakit? Kalau kau pingsan dijalan bagaimana?”

“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk pergi? Kenapa kau masih disini?”

Neo! Kalau aku benar-benar pergi tadinya, kau harus bagaimana? Siapa yang akan membawamu ke klinik?”

“Itu kan karena salahmu. Kalau kau tidak memukulku, aku mungkin masih sehat sekarang.”

Neo michyeosseo?! Itu bukan karenaku. Tapi karena maag-mu!”

“Kalau bukan salahmu, jadi untuk apa kau meminta maaf?”

Eo?”Jae Yeon teringat pada ucapannya ke Kwang Min sewaktu ia belum sadar. “Jadi…. Kau mendengarnya?”

Kwang Min tidak menjawab.

Yaa! Kau menipuku lagi kan?!” Jae Yeon hendak memukulnya lagi seperti biasa kalau ia geram kepada Kwang Min, tapi dia teringat akan kata-kata dokter yang mengatakan kalau badannya sedang terluka. Dan itu disebabkan karena dia bertarung melawan preman-preman itu demi menyelamatkan Jae Yeon. Jadi dia mengurungkan niatnya.

Aish… kau harus membayarnya!”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya,”

Mwoya? Shireo! Salah siapa kau cari gara-gara denganku?”

Mwo?!” Jae Yeon sudah mencoba sabar sebisanya menghadapi Kwang Min. tapi dia ingin untuk melihat Kwang Min merasa kesal sepertinya. Dia lantas melihat semangkuk bubur yang ada dimeja dekatnya. Dia langsung mengambilnya. Dia punya ide untuk membuat Kwang Min menyesali perbuatannya karena selalu mengganggunya. Sepertinya teknik ini lebih efektif daripada harus selalu memukul Kwang Min. Daripada Kwang Min sakit lagi dan merepotkannya.

“Makan!” Jae Yeon menyodorkannya semangkuk bubur itu.

Mwo? Nan shireo! Aku tidak suka bubur.”

“Benar-benar! Kau ingin cepat sembuh atau tidak? Kau mau maag-mu kambuh lagi?”

“Pokoknya aku tidak mau makan!”

Jae Yeon tak kehilangan kalimat, “Tapi kau harus makan. Dengan ini kau bisa melunasi dosa-dosamu padaku. Kalau tidak aku akan terus mengganggumu,”

“Enggak. Apaan sih?!” Kwang Min tetap menolak.

“Kau mau aku menyuapimu?” Jae Yeon sudah memasukkan bubur ke mulut Kwang Min tanpa Kwang Min sempat menutup mulutnya. Kwang Min ingin segera memuntahkannya, tapi Jae Yeon tak mengizinkannya dengan membekap mulut Kwang Min. Benar-benar suatu siksaan dahsyat bagi Kwang Min. Belum pernah ada orang yang memperlakukannya seperti ini. Akhirnya dengan susah payah dia menelannya. Setelah dirasanya, ternyata rasanya tidak terlalu buruk.

Eottae? Enak, kan?” Jae Yeon menggoda Kwang Min. Kwang Min cemberut dan hanya diam. Untuk apa Jae Yeon berbuat seperti itu terhadapnya? Bukankah selama ini mereka musuhan?

Jae Yeon kembali menyendoki bubur. Kali ini bertambah banyak. Dia menyodorkannya ke mulut Kwang Min. Tapi Kwang Min sudah langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Hal itu tak membuat Jae Yeon kehabisan akal. Dia mulai menakut-nakuti pikiran Kwang Min.

“Kau tau apa yang lebih mengerikan dari ini?”

Kwang Min tetap menutup mulutnya dan membuang muka.

“Ini belum seberapa dibanding kau tak bisa bermain basket lagi karena tak punya tenaga dan berbagai penyakit menumpuk dibadanmu. Kau mau tak bisa bermain basket lagi? Untuk selamanya?” Jae Yeon tidak menaruh harapan besar terhadap kalimatnya, karena seharusnya Kwang Min yang keras kepala takkan mau tunduk padanya. Tapi Jae Yeon salah, karena Kwang Min lalu merasa merinding membayangkan hidupnya yang tak berarti karena tak bisa lagi bermain basket. Basket merupakan hal terpenting dalam hidupnya. Apalagi yang bisa dilakukannya untuk mengusir kejenuhannya kalau tanpa basket?

Jae Yeon kembali menyodorkan sendok penuh bubur itu ke mulut Kwang Min. Tanpa bisa memilih, akhirnya Kwang Min mau memasukkannya ke dalam mulutnya. Jae Yeon tersenyum menang. Ternyata trik dia berhasil. Baguslah, Kwang Min tampak lebih manis kalau menurut seperti ini.

“Kau harus menghabiskannya, agar kau punya tenaga. Tenaga sangat penting kan dalam basket? Anak pintar,”

Tensi Kwang Min naik lagi merasa tak terima Jae Yeon memperlakukannya seperti anak-anak.

Yaa! Kim Jae Yeon, neo juggo jullae?!”

Belum siap menelan, Jae Yeon sudah menyodorkan sesendok bubur lagi. Kwang Min menolak dan bermaksud untuk makan sendiri daripada harus diperlakukan seperti anak-anak yang susah makan. Tapi tenaganya benar-benar habis dan tangannya benar-benar nyeri untuk digerakkan. Akhirnya Kwang Min hanya bisa pasrah

‘Lihat saja saat aku sembuh nanti. Aku akan membuatmu merasakan apa yang ku rasakan!’

“Selesai!” Jae Yeon kegirangan. ”Lihat, kau sudah menghabiskan semuanya. Ah kyeopta,” Jae Yeon lalu memberikannya segelas air mineral. Kwang Min langsung menenggaknya agar rasa bubur itu tak tersisa lagi dimulutnya. Bagaimanapun juga, Jae Yeon yang memaksanya makan. Jadi tak seharusnya dia dengan senang hati memakannya.

Jae Yeon melihat ke arah jam tangannya karena melihat dari jendela hari sudah mulai gelap. Ternyata sudah lewat jam 6 sore. Oppa-nya pasti cemas karena dia belum juga pulang, dan pastinya juga Kwang Min yang akan dikhawatirkan kakaknya, Young Min.

“Eumm, Kwang Min-ah, aku akan menghubungi Young Min sebentar untuk memberitahunya kau ada disini dan menjemputmu, eo?”

Andwae! Young Min malhajima!”

Wae? Aku yakin dia akan sangat khawatir denganmu sekarang. Atau kau takut ia memarahimu karena telah mengerjaiku?”

Andwaekanikka! Malhajima. Aku juga akan pulang dengan sendirinya. Sebentar lagi.”

“Apakah kau sudah baikan?”

Kwang Min tak menjawab pertanyaan Jae Yeon malah berkata, “Kalau kau ingin pulang, kau bisa pergi duluan. Aku ingin istirahat sebentar.”

Kwang Min lalu merebahkan badannya dan menarik selimut menutupi badannya.

“Apakah… akan baik-baik saja?” Jae Yeon cemas akan terjadi sesuatu pada Kwang Min.

Kwang Min berbicara sambil memejamkan matanya, ”Eum. Orangtuamu pasti mengkhawatirkanmu. Pulanglah,”

Sebenarnya Jae Yeon bermaksud untuk memeriksa keadaan Kwang Min, tapi sudahlah, dia tidak mau mengusik Kwang Min yang sepertinya kelelahan.

Eo, kalau begitu aku pulang duluan. Annyeong! Jangan lupa pulang ke rumah ya.”

Jae Yeon keluar dari ruangan itu dengan berat hati. Dia ingin ada sesorang yang menemani Kwang Min, tapi Kwang Min melarangnya untuk mengubungi Young Min. Benarkah ini tidak akan apa-apa?

Setelah Jae Yeon keluar dari kamar, hp Kwang Min berdering. Tepat seperti yang diperkirakannya. Dia lalu mengangkatnya tanpa perlu melihat namanya. Karena itu pasti dari Young Min yang akan segera mencari-carinya bila jam segini tak pulang kerumah

“Eum,”

“….”

“Aku ada di klinik daerah sekitar sekolah,”

“….”

Ani, gwaenchanha,

“…”

“Eum. Ppali wa,”

Kwang Min mengakhiri pembicaraan. Dengan tenang dia kembali memejamkan matanya. Dia tahu Young Min pasti akan bereaksi seperti itu. Terlalu cemas terhadapnya dan karena kecemasannya yang berlebihan itu, Kwang Min terkadang merasa diperlakukan seperti anak-anak. Itu yang membuatnya kesal.

Selang beberapa menit kemudian… pintu kamarnya dibuka dengan terburu-buru. Dia sudah datang.

“Kwang Min-ah! Wae irrae?” kepanikan tampak jelas tersirat di wajah Young Min. Tapi kenapa kalimat dia harus sama dengan Jae Yeon?

“Sepertinya maag-ku kambuh lagi.”

“Bagaimana bisa? Jadi kau sudah minum obatnya? Kenapa kau bisa ada di klinik?”

“Eum. Ceritanya panjang. Aku hanya ingin pulang sekarang,” Kwang Min bangkit dari tempat tidur, menyabut selang infus, yang kalau dipikir-pikir untuk apa dipasang, dia kan hanya sakit perut.

“Yasudah. Mari kita pulang,” Young Min mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang terjadi pada Kwang Min. Kwang Min takkan mau cerita kalau dia tidak ingin.

Sepanjang perjalanan pulang, Kwang Min kembali teringat kejadian tadi. Dia teringat kepada yeoja itu. Kenapa yeoja itu mau membantunya? Setelah apa yang dibuat Kwang Min terhadapnya. Kenapa juga yeoja itu harus peduli padanya? Apa dia benar-benar tak mengindahkan kata orang-orang tentang Kwang Min? Seharusnya setelah Kwang Min mengerjainya dan menyebabkannya dalam bahaya, yeoja itu akan membencinya, bukan menangis dan meminta maaf. Mungkin kalau dia menampar pipi Kwang Min sebagai reaksi atas tindakan Kwang Min seperti sebelumnya, itu lebih baik. Karena memang itu yang Kwang Min inginkan. Agar Jae Yeon menghindar darinya. Gadis itu tak bisa dimengertinya. Aish, kenapa Kwang Min jadi terus memikirkan dia?!

 

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

 

 

This entry was posted by kepangmusic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: