[FANFICT/FREELANCE] Now and Forever (Unpredictable)

Title
: Now and Forever (Unpredictable)
Author : Fitria_BF_JTWNS
Genre : Romance
Rating : PG – 15
Type : One Shoot
Main Casts
: ~ Jo Kwangmin  ~ Choi Jeera

Disclaimer:

FF ini murni asli karyaku sendiri dan untuk additional cast temukan sendiri di dalam cerita… yah.. hehehe

Author’s note:

Don’t be silent reader O.K.

And enjoy it

 

 

 

Kwangmin POV

“Hari ini akhirnya pulang ke Busan juga, setelah hampir 3 tahun aku menempuh pendidikan di Seoul,” ucapku saat tiba di tempat kelahiranku Busan.

Aku pun segera mencari halte bus berada di dekat tempat aku berdiri sekarang. Saat aku melihat ke sekelilingku aku terfokuskan oleh seseorang yang sedang menaiki sepeda dan mengemudikannya cukup pelan sambil memandang ke sekitarnya sambil tersenyum ceria

“Sepertinya aku pernah melihat orang itu dan aku rasa, aku mengenalinya tapi siapa yah?,” tanyaku pada diriku sendiri.

Semakin lama, sepeda itu semakin mengecil, mengecil hingga tak terlihat oleh pandanganku.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku sehingga aku reflek melihat ke arah bahu yang ditepuk oleh orang yang aku tak ketahui.

 

“Hai..,” ucap orang yang menepuk bahuku. Saat aku melihat wajahnya..

“Kau.. Hai… sudah lama kita tak berjumpa, Apa kabar?,” ucapku tak percaya ternyata yang menepuk pundakku adalah teman SMAku dulu No Minwoo.

” Iya sudah lama tak berjumpa, baik.. kamu sendiri apa kabar? Betah banget di Seoul.. hahaha..,” candanya.

“Hahaha, ada ada saja kamu ini.. gak lah… pasti paling betah itu tempat asal kita berada, tempat kita sering bareng bareng dulu.., kabarku baik kok.., hmm.. gimana? udah ada calon nih?,” tanyaku.

“Calon apa jo kwangmin? Kamu kali yang udah punya calonnya.. kan di Seoul banyak yang cantik cantik,” ejeknya.

“Eeyy..,”

“Oh iya besok ada reunian SMA, kamu datang kan?,” tanyanya.

“Besok? Kok mendadak banget?,” tanyaku.

“Sebenarnya udah lama direncanain tapi aku baru kasih tahu kamu sekarang, hehehe maaf..,” jelasnya sambil mengaruk tengkuknya padahal disini gak ada nyamuk sama sekali.

“Dasar kau ini, tapi aku usahain untuk datang,” ucapku sambil melihat ke sekitar.

“Kamu harus datang yah, kamu kan termasuk siswa yang paling pintar di kelas kita, masa gak ikut sih, sama..,” ucapnya menggantung.

“Sama apa?,” tanyaku penasaran apa yang akan dia katakan selanjutnya.

“Kan ada seseorang yang.. begitulah.. walaupun dulunya beda kelas.. tapi aku denger denger dia suka sama kamu.. tapi dia gak berani deket sama kamu plus lagi waktu itu pas udah kelulusan SMA,” jelasnya.

“Hmm? Seseorang yang suka?,” tanyaku heran kenapa aku baru tahu itu.

“Dan hampir seluruh siswa di angkatan kita tahu tentang itu apalagi waktu itu kelasnya tetanggaan,” jelasnya lagi sambil melihatku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan apa maksudnya.

“Oh..,” ucapku datar. Sebenarnya aku ingin tahu siapa orang itu tapi.. sekarang aku harus cepet cepet pulang karna aku gak sabar untuk bertemu orang tuaku.

“Minwoo, kenapa kau tiba-tiba ada disini?,” tanyaku yang seharusnya daritadi aku bertanya itu.

“Ya karna aku ingin menjemput temanku yang sudah lama tidak kelihatan batang hidungnya sedikit pun,” jelasnya.

“Tapi,.. kok kamu tahu aku pulang sekarang?,” tanyaku.

“Dari kakak kamu,” jawabnya.

“Oh,”

Lalu kami pun pergi ke halte yang tak jauh dari tempat kami sebelumnya. Akan tetapi sebelum pulang ke rumah, dia mengajakku ke sebuah toko es krim yang dulu sering kami kunjungi setiap pulang sekolah.

Setelah kami jalan jalan di daerah Busan, akhirnya kami pulang dengan arah yang sama tapi aku duluan yang turun.

“Sampai jumpa besok, Kwangmin, kita berangkat bareng ke sananya yah, aku jemput kamu jam 7 pagi!!,” teriaknya saat aku telah turun dari bus dan aku pun hanya tersenyum sambil melambaikan tanganku padanya.

Lalu aku pun melihat dari depan rumahku yang keadaannya masih sama seperti dulu, bercat putih, kuning, coklat dan abu-abu. Walaupun ada perubahan sedikit pada depannya tapi rumah ini sangat aku rindukan apalagi orang yang tinggal di dalamnya, aku sangat rindu mereka. Aku pun masuk ke dalam rumahku yang cukup sepi ini, dan saat aku menyalakan lampu.

“SELAMAT DATANG!!,” teriak seluruh keluargaku yaitu orangtuaku, kakakku dan adikku.

 

@Keesokan harinya.

Aku pun telah siap untuk pergi ke acara reunian SMAku hingga tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang memanggilku.

“Jo Kwangmin! Apa kau sudah siap?,” teriak orang itu yang dari suara aku sudah tahu kalau or ang itu adalah orang mempunyai mata sipit, memakai topi berwarna merah, dan rambut berwarna coklat yang tak lain orang itu adalah No Min Woo.

“Dasar anak itu, padahalkan bisa dengan mengetuk pintu rumahku dulu, kenapa harus berteriak?, Minwoo, Minwoo udah tiga tahun gak ketemu tetap aja belum dewasa,” gumamku setelah pamit ke orang tua, kakak dan adikku karena hari inu adalah hari minggu jadi semuanya ada.

Saat aku keluar dari rumahku aku langsung melihat dia yang sedang melihat ke jalan seperti sedang melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Aku pun merencanakan untuk mengagetkan dia karena biasanya dia yang menjahiliku dulu.

“Min..,” ucapanku terpotong olehnya.

“Lihat, itu lihat, itu orang yang aku maksud kemarin..,” potongnya sambil menunjuk sesorang yang sedang menaiki sepeda yang mengarah ke arah sekolahku karna sekolahku dapat ditempuh hanya dengan sekali naik bus saja.

“Mana? Dak banyak yang naik sepeda hari ini, tuh di kanan ada 3, di kiri ada 5,” ucapku padanya.

“Itu yang pakai sepeda merah, orangnya pakai baju kelas kita dark blue bawa tas warna coklat,” jelasnya. Tapi saat aku mencarinya.

“Tuh kan.. hilang weh.. dia udah kesana, ya udah ayo ke halte bus mungkin nanti kita ketemu di sekolah,” ucapnya sambil menarikku.

Saat aku mau protes, bus sudah ada di halte jadi kami cepat cepat ke halte bus dan untungnya waktunya pas banget. Pas aku dan Minwoo naik, bus pun berangkat.

“Untung aja, huft,” gumamnya.

Kami pun mencari tempat duduk yang kosong. Karna kami naik dari pintu yang dekat supir bus maka kami terus ke belakang dan akhirnya kami menemukan tempat duduk paling belakang dekat pintu keluar, aku dekat kaca dan Minwoo di sebelahku itu kebiasaanku dengan Minwoo dari dulu kalau berangkat atau pulang sekolah bareng.

Akhirnya sekitar 15 menit kami sampai di sekolah. Saat aku melihat jam di tanganku, ada seseorang yang tiba-tiba lewat di depanku yang aku perkirakan dia seorang perempuan. Sedangkan Minwoo sedang mengobrol dengan teman sekelasku yang lain di belakangku.

Acara reunian pun dibuka, mulai dari sambutan mantan osis dulu, dan ketua pelaksana reunian sekolahku. Aku pun sesekali mengobrol jika ada yang mengajakku mengobrol dan akan tetapi setelah itu aku akan fokus kembali ke handphoneku untuk bermain game hingga aku tak sadar siapa yang ada di sebelahku terutama di sebelah kananku ini karena dari tadi dia tak pindah pindah sedangkan yang lain pindah pindah tempat.

“Ya! Kwangmin, kamu mau reunian atau mau main game terus?,” protes Minwoo.

“Hehehe, Maaf..,” ucapku sambil menggaruk tengkukku.

“Ya udah ayo ikut aku, aku tunjukkan orang yang kemarin dan tadi pagi aku omongin,” ucapnya penuh antusias

Aku pun hanya mengikutinya dari belakang. Setiap ada yang menyapa aku pun tersenyum. Dari yang…

“Hai, Kwangmin apa kabar?,”

“Hai Kwangmin, kamu tambah tampan aja, gimana di Seoul?,”

“Hai, Kwangmin, kemana aja? Kok aku baru lihat kamu sekarang? Gimana kabarnya?,”

Dan masih banyak lagi pertanyaan dan sapaan dari teman-temanku. Hingga tiba-tiba minwoo berhenti berjalan sampai aku hampir saja menabraknya.

“Minwoo!! Jangan berhenti mendadak dong, untung aja aku gak tabrak kamu,” protesku.

Tanpa mempedulikan protesanku, dia tiba-tiba menarikku ke sampingnya.

“Lihat, itu, orang itu, perempuan yang tadi naik sepeda, yang aku tunjukkan,” ucapnya sambil menunjuk orang yang ada di dekat ruangan kelas.

Saat aku melihat orang itu ternyata bukankah orang itu orang yang tadi ada di sebelah aku karna tas yang dibawanya sama kayak tas yang dibawa oleh orang yang disebelahku karna aku tadi melihatnya sekilas.

“Dia namanya kalau gak salah Choi Jeera,” ucap Minwoo.

Aku pun hanya bisa diam karna aku tak tahu harus merespon apa. Tapi sepertinya dia pernah aku lihat waktu aku baru pulang dari Seoul kemarin. Dan kalau gak salah..

 

@Flashback

Saat perlombaan olahraga tiap kelas, aku selalu mengikutinya apalagi kalau ada lomba olahraga tarik tambang atau futsal, pasti aku ikut. Tapi aku gak tahu kenapa saat aku melihat ke arah lawan, akutanyaku seperti dia sedang melihatku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Hingga aku cari social medianya dari twitter kelasnya, akhirnya aku mendapatkannya dia bernama Jeera. Di kaos jerseynya dulu di belakang kaosnya hanya ada kata Jee. Tapi gak tahu kenapa aku mulai penasaran sama orang itu hingga akhirnya setiap mau upacara sekolah aku semangat banget dan sangat aku tunggu karna pasti aku akan ketemu sama dia. Selain itu di lain kesempatan saat sedang istirahat aku selalu melihat dia ke kamar mandi karna kamar mandi perempuan ada di sebelah kelasku. Tapi setelah kelulusan dan sibuk dengan kegiatan lain, tiba-tiba pikiran tentangnya menjadi lupa.

 

@Back To Story

“Cepet deketin tuh,” ejek Minwoo.

“Bentar aku mau ke kamar mandi dulu,” ucapku karna ingin menghindari ejekkannya yang lain.

“Ya! Kwangmin!,” teriak Minwoo.

 

Jeera POV

Akhirnya acara reunian diadakan setelah 3 tahun semenjak kelulusan SMA dan akhirnya akukami juga bisa lihat orang itu. Tapi aku gak tahu apakah dia udah punya pacar atau belum karna di Seoul pasti banyak perempuan perempuan yang cantik.

Saat hari reunian, aku sengaja melewati rumah orang itu karena pasti dia sudah pulang ke Busan walaupun untuk sementara. Tapi saat aku melewati rumahnya aku melihat seseorang yang sangat familiar bagiku. Yap itu No Minwoo teman SMAku dulu dan sekelas sama orang itu. Aku pun terus melajukan sepedaku hingga akhirnya sampai di sekolah.

Saat aku mau mengambil minuman tak sengaja aku melewati orang itu yang aku kira dia melihatku ternyata dia sedang melihat jam tangannya. Dan saat acar reunian dibuka oleh sambutan sambutan aku ada di sebelahnya, tapi sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku dan malah fokus dengan gamenya itu di hanphonenya, sedihnya. Hingga aku memutuskan untuk bergabung dengan teman sekelasku yang lain dan mengobrol tentang ini dan itu, banyak banget. Hingga akhirnya aku mendengar…

“Ya! Kwangmin!,” ucap orang yang tak jauh dariku dan saat aku lihat ternyata dia No Minwoo dan tiba-tiba dia melihat ke arahku. Awalnya aku bingung siapa yang dia lihat tapi saat dia memberikan kode agar aku mengejar orang itu tiba-tiba aku mengerti. Aku juga gak tahu kenapa bisa begitu tapi mungkin karna Minwoo adalah teman SMPku yang cukup dekat denganku jadi aku bisa mengerti apa yang dia maksud dan aku pun mengikuti orang itu dan ternyata dia ke arah kamar mandi. Aku gak mungkin masuk ke kamar mandi itu, apalagi itu kamar mandi laki-laki jadi aku memutuskan untuk menunggunya di tempat duduk dekat kamar mandi itu.

 

Kwangmin POV

Saat aku keluar dari kamar mandi aku kaget karena tiba-tiba ada perempuan yang duduk di dekat kamar mandi laki-laki, karna buat apa coba perempuan di dekat kamar mandi laki-laki. Tapi saat aku lihat tas yang dia bawa, tiba-tiba aku ingat siapa orang itu. Dan saat aku melihatnya, tiba-tiba dia melihat ke belakang tempat aku berdiri dan dia tersenyum. Karna kejadian tiba-tiba itu aku hanya bisa diam dan hanya melihatnya.

“Jo…  Kwangmin..?,” tanyanya ragu-ragu.

“Iya, saya Jo Kwangmin,” balasku dengan bahasa baku karna kami baru saja bercakap baru kali ini saja.

“Bolehkah kita bicara sebentar?,” tanyanya.

Hingga aku dan dia pun pergi ke tempat yang cukup nyaman untuk berbicara yaitu di taman sekolah. Awalnya kami saling diam hingga akhirnya dia yang memecahkan diam mendiam itu.

“Bagaimana kabarmu?,” tanyanya.

“Hmm? Baik, bagaimana kabarmu juga?,” tanyaku balik.

“Baik juga, Oh iya kita belum saling kenal, walaupun kita bertetanggan kelas, Namaku Choi Jeera, kamu?,” tanyanya dengan tersenyum.

“Namaku Jo Kwangmin, panggil saja Kwangmin teman-temanku biasanya memanggilku Kwangmin,” ucapku.

“Baiklah, Oh iya, aku dengar setelah kelulusan kamu di terima di sekolah tinggi di Seoul yah?, Gimana disana?,” tanyanya penuh antusias tapi santai.

“Disana, cukup baik kok,” ucapku sambil tersenyum.

“Oh..,” responnya sambil menundukkan kepalanya.

Keheningan pun menyelimuti kami kembali. Saat aku melihatnya..

“Jee.. Jeera.. itu ada binatang di bahu kiri kamu,” ucapku sambil menunjuk bahunya. Reflek dia melihat bahunya.

“U.. ulat.. Kwang.. Kwangmin to.. tolong bawa ulatnya.. aku mohon….,” pintanya yang kaku dan tegang saat melihat ulat di bahunya. Lalu aku membawa daun kering yang jatuh dekat dimana aku duduk. Aku pun mencoba untuk duduk agak dekat dengannya agar aku bisa menyingkirkan ulat dari bahunya. Hingga akhirnya ulat itu jatuh ke tanah dan untungnya ulat itu gak mati karna akan berdosa jika membunuhnya.

Setelah kejadian itu, wajahnya masih tegang dan kaget. Aku pun memikirkan cara agar dia bisa normal kembali… Hingga aku berinisiatif untuk mencoba untuk bertanya yang pertanyaannya itu mungkin sangat umum didengar oleh setiap orang yang baru saja lulus.

“Jeera,” panggilku pelan. Dia pun hanya menoleh dan melihatku dengan wajah yang masih tegang dan kaget.

“Setelah lulus 3 tahun kemarin, kamu kerja atau kuliah?,”  tanyaku hati-hati.

“Hmm?, mmm.. setelah lulus.. aku kuliah sambil kerja,” jawabnya pelan tapi masih bisa aku dengar.

“Oh.. tapi kayaknya sibuk banget yah?,” tanyaku karena membayangkannya saja…

“Pasti sih sibuk, tapi… jadi mempunyai hal yang menakjubkan menurutku,” jawabnya lebih tenang dari yang tadi.

“Menakjubkan?,” tanyaku bingung.

“Iya, karna kita bisa lebih bisa menghargai uang jadi kita dapat mengatur uang dan dengan itu kita bisa lebih belajar dengan giat lagi,” jelasnya.

“Bagaimana dengan kamu ? Kamu menempuh pendidikan di luar kota, sendiri, dan juga mendapat beasiswa, kayaknya itu cukup sulit,” lanjutnya.

“Hmm.. menurutku yah memang cukup sulit karena harus hidup sendiri, tak punya kenalan dan sebagainya, tapi aku anggap itu sebagai pengalamanku sehingga menjadi lebih mandiri dan tak kaget jika nanti kita benar benar ada di lingkungan masyarakat,” jelasku lalu aku melihatnya.

Saat melihatnya, dia juga melihatku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Hingga tiba-tiba dia mengucapkan hal yang takpenting pernah aku duga.

“Ternyata aku gak salah, jika aku suka atau mungkin sekarang aku jatuh cinta sama kamu sampai dari dulu, sekarang dan nanti,” gumannya dengan masih melihatku lalu tersenyum.

Hingga beberapa detik aku terpaku dengan apa yang dia katakan.

“Apakah benar apa yang kamu katakan tadi?,” tanyaku dan ekspresi wajahnya yang asalnya tersenyum memudar tergantikan oleh wajah yang khawatir dan dia bertingkah yang aneh dengan tiba-tiba duduk agak menjauh, menggatuk tangannya, dan melihat ke arah lain.

“E..emangnya a.. a..apa yang tadi aku bicarakan?, tanyanya dengan gelisah.

Aku pun tak menjawabnya dan melihat gerak geriknya, melihat lihat sekitar, melihat tanah, meniup niupkan poninya, membenarkan rambutnya dan tangan yang terus digaruk olehnya hingga aku takut kalau nanti menjadi luka. Hingga akhirnya tiba-tiba aku memegang tangab yang mengaruk tangan sebelahnya dan menatapnya.

“Sudah jangan digaruk terus nanti takut jadi luka,” ucapku padanya. Dia pun hanya diam menatapku, hingga dia tiba-tiba melihat ke arah lain dan berdiri.

“Mau kemana?,” tanyaku setelah menahan tangannya.

“A.  Aku,” ucapnya terbata.

“Aku gak akan membiarkan  kamu pergi,” tegasku.

“Ke.. kenapa?,”

“Aku sudah tahu semuanya,” ucapku lalu berdiri dan memegang tangannya.

“Mak.. maksud kamu?,” tanyanya dengan gemetaran. Aku pun langsung menariknya ke pelukanku.

“A..apa yang kamu lakukan kwangmin?,” tanyanya yang kurang jelas tapi masih bisa aku dengar.

“I LOVE YOU, CHOI.. JEERA.. NOW AND FOREVER,” ucapku sambil mengeratkan pelukanku dengan tangan kananku di kepalanya dan tangan kiriku di pinggangnya.

 

Jeera POV

Semua terjadi dengan tak terkira dan diluar dugaanku. Akhirnya cinta yang aku tunggu tunggu, setelah sekian lama akhirnya terbalaskan juga walaupun harus menunggu lama tak sia-sia seperti dalam pengorbanan yang akan mendapatkan balasan yang tak terduga mau itu sedikit, sedang, maupun banyak. Akan tetapi, aku tak mengira kalau dia juga akan memiliki perasaan yang sama denganku karna mungkin semuanya sudah diatur sama Yang Maha Kuasa. And…

I wish.. we can together for now and forever…

Tamat…

This entry was posted by kepangmusic.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Now and Forever (Unpredictable)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: