[FANFICT/FREELANCE] What Is It ? – Chapter 02

Title
: What Is It ? – Chapter 2
Author : VenoxiaN (D’chemos Bee)
Genre : Friendship
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jo Youngmin

  ~ No Minwoo

  ~ Park Hyosin

  ~ Lee Eunso

Happy reading ! Jjang !

 

 

Aku mungkin berjalan seperti kapas, tak peduli berapa kali angin menerpaku dan aku tak pernah peduli berapa kali aku menghela udara

Mungkin saat itu aku sadar bahwa hanya kau yang jadi arah mata anginku

Hanya kau yang jadi pedoman perjalanan panjangku…

Aku tidak mengerti, apa yang harus aku lakukan agar mampu melepas semua beban yang ada dalam kotak hariku

Karena hanya ada kau di dalam kotak itu

Yang selalu terukir kapanpun dimanapun bagaimanapun

 

Kau yang menjadi cerita bahagiaku

Kemanapun kini kau pergi, hidup ini tak pernah berhenti untuk mencari

Aku ingin selalu mengikuti kehidupanmu yang begitu menyakitkan untukku

Haruskah aku hanya bertopang dagu dan bersimpuh menanti

Hingga kau kembali

Kembali padaku yang selalu terhempas derai udara

Kembalilah, aku mohon…

 

Chapter 2

 

Pekat hitam meringkuk dalam, semenjak senja berpaling dari bumi. Tak ada cahaya matahari yang terlihat untuk hari ini. Mungkin terlalu sibuk dengan pikirannya, Hyosin hanya berdiam diri di kamarnya yang bercat warna warni. Ia malas turun ke bawah sekalipun hanya untuk memakan sesuap nasi dan lauk yang telah disediakan Ibu dari keluarga Jo sejak tadi pagi sebelum kepergiannya ke luar negeri.

Kedua mata gadis belia ituterus tertuju pada layar ponselnya. Berharap layar tersebut akan berkedip ataupun berdering di tengah-tengah derasnya hujan yang mengguyur malam ini. Ia sedikit pusing memang. Suhu badannya meningkat, namun tidak terlalu tinggi dan masih dalam toleransi. Nampaknya ia cukup menikmati demam badannya itu. Namun, rasanya ia tidak akan peduli dengan kondisinya. Toh, tak akanada yang tahu kali ini.

Rencananya sejak kemarin malam setelah pulang dari lapangan belakang sekolah, ia berniat untuk tidak sekolah hari ini. Dan itu terkabul. Ia masih trauma dengan apa yang telah terjadi kemarin malam. Pertama kalinya ia menangis tersedu hanya untuk seorang lelaki.

“Hyosin-a, apa kau tidak ingin keluar dari kamarmu ? Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu,”

Bahkan, telah beberapa kali Kwangmin berdiri di depan pintu kamar gadis menyedihkan itu. Tak ada sahutan apapun meski sebenarnya Hyosin mendengarnya. Hatinya tak berniat mengindahkan perkataan Kwangmin yang ia gantung sejak pulang kemarin malam.

Kwangmin hanya menahan rasa sebalnya. Sepupunya itu seperti tak mau berbicara. Memang. Youngmin yang sudah memaki gadis itu pun mendapatkan hasil nihil.

“Baiklah jika kau tidak mau keluar. Aku menaruh makananmu di depan pintu,” sebenarnya hati kecil Kwangmin tak ingin memperlakukan Hyosin seperti itu, namun pada akhirnya nampan berisi nasi dan lauknya itu tergeletak pula di sana.

“Makanlah Hyosin-a,” serunya lagi sebelum benar-benar pergi dari sana. Kemudian lelaki tampan itu beralih menuju ruang keluarga. Mungkin, mengajak Youngmin berbicara bisa membantu. Baginya Hyosin adalah sepupunya yang ia sayang. Walau hanya sepupu tirinya. Untuk Kwangmin.

“Minwoo-a, No Minwoo,”

Lagi.

Hyosin kembali menangis lagi malamini. Ini sudah terhitung delapan kali ia menangis hari ini. Perasaan terluka baginya tak sanggup menggambarkan apa yang ia rasakan saat ini. Ia sakit hati, tentu. Terluka, sama saja. Pedih rasanya menahan emosi dan lubang di lubuk hatinya saat ini. Tentu bathinnya tersiksa dengan apa yang dilakukan Minwoo terhadapnya. Seakan rasa sayangnya tak mampu membuat Minwoo memilihnya. Walau apapun yang dikatakan Minwoo adalah suatu kejujuran yang menyakitkan untuknya, namun ia harus tetap mempercayai kekasihnya itu. Entah bagaimana kabarnya esok di sekolah, Hyosin tak dapat menerkanya. Ia seakan tak ingin sekolah lagi. Apalagi jika harus bertemu dengan Minwoo nantinya.

***

Youngmin dan Kwangmin sedang menonton TV di ruang tengah. Namun, apa yang mereka tonton tak menjadi fokus mereka. Mereka malah terlihat sedang berpikir dengan lamunannya masing-masing.

Hyeong, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya ?”

Mata Youngmin membola seketika, “Neo micheosseo !!!” teriak Youngmin.

Kwangmin menghembuskan nafas beratnya, ia tertunduk.

“Lalu apa yang akan kau lakukan ? Kau hanya akan membuat rumit nantinya, hyeong,” Kwangmin menatap sang kakak. Penuh iba.

Youngmin menoleh pada Kwangmin. Ia menatap kedua mata adik kembarnya itu dengan sangat tajam.

“Aku tidak akan mengatakannya sampai Ibu memberi izin padaku. Kau pikir mudah mengatakan hal itu pada Hyosin ? Jika ia tahu sekarang, pasti ia akan kabur dari rumah ini. Apa kau mau ?” sekarang Youngmin malah memelototi Kwangmin. Kwangmin tertunduk lagi untuk yang kedua kalinya.

Dalam hitungan detik, Kwangmin terdiam sesaat. Lalu ia berkomentar lagi. “Hyeong, aku tahu sebenarnya kau yang tidak ingin kehilangannya, ‘kan? Jujurlah padaku. Aku bisa merasakannya, hyeong. Jika kau egois seperti ini, suatu saat nanti Hyosin akan lebih membencimu,”

“APA YANG KAU TAHU ?” teriak lelaki di hadapan Kwangmin, membuat Kwangmin menutup telinga dengan kedua tangannya. “YA ! TAK BISAKAH KAU BERKATA HALUS PADAKU?”

“Kenapa jika mengenai Hyosin kau begitu emosi?” balas Kwangmin agak tegas.

Kwangmin terdiam sesaat, lalu melanjutkan perkataannya lagi. Kali ini dengan suara rendah,”Hyeong, kau tidak akan pernah bisa menutupinya selamanya. Kelak, saat Hyosin telah kuliah dan beranjak dewasa seperti kita, ia akan merasa terluka. Biarkan ia tahu dan memilih keputusannya sendiri, hyeong. Ia hanya orang yang kita anggap sepupu, bukan orang yang kau cintai. Kau tak bisa menemukan Ibunya, dan kita hanya selalu berbohong padanya. Apa kau tak merasa kasihan pada Hyosin ? Aku beritahukan padamu, hyeong. Kau mungkin mencintainya sebagai seorang gadis, kau hanya melihatnya, aku tahu. Tapi, cinta bukan diibaratkan sebagai buku yang kosong, namun buku yang berisi banyaknya cerita penuh perjuangan. Dan juga, kau telah memiliki kekasih yang begitu menyayangimu,”

Kwangmin beranjak dari sofa yang ia duduki. Ia bermaksud meninggalkan Youngmin dan berniat untuk menemui Hyosin. Namun, sebelum benar-benar beranjak dari hadapan Youngmin, Kwangmin ingin menyampaikan pesan terakhirnya malamini untuk sang kakak.

“Mungkin sekarang Hyosin adalah tulip layu yang sedang terguncang oleh badai, tapi aku mohon suatu saat nanti, kau dapat membuatnya menjadi tulip yang mekar dengan indah. Selamat malam, hyeong,”

Youngmin bungkam. Apa yang ia rasakan tentu dapat dirasakan Kwangmin. Yah ! Ia hanya bisa diam sambil mencerna perkataan adiknya itu.

***

Asrama wanita yang berada di sebelah Barat Daya dari asrama utama nampak sepi karena tak terlihat seorang pun yang berjalan mondar mandir seperti biasanya. Padahal libur semester belum memasuki bulan ini. Biasanya kehidupan di asrama itu nampak nyata, terdengar bising dari ujung utara ke ujung selatan memenuhi setiap ruang kamar. Kadang ada yang sibuk dengan tugas kuliahnya, ada pula yang sibuk dengan pekerjaan keterampilan dan seninya serta aktivitas dance-nya. Tapi sepertinya, semua mahasiswi sedang malas beraktivitas dan hanya berdiam diri di kamarnya masing-masing.

Kadang aku sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya. Ia seperti suka tapi begitu kurang peduli. Ah…Apa ada kesalahan yang aku perbuat ?

Ya ! Apa kau tidak ingin pulang ?”

Molla. Aku bosan. Aku ingin berlibur ke Pulau Jeju,”

“Hah ! Di saat kita semua merindukan orangtua, tapi kau malah ingin menghindari mereka,”

Ani. Aku juga merindukan mereka, hanya malas pulang saja. Lagipula, desaku dekat dari sini,”

Arra…Arra,”

Perbincangan dua gadis belia yang terpaut perbedaan umur satu tahun tersebut selesai ketika salah satu dari keduanya beranjak pergi keluar kamar. Ia benar-benar sedang tak ingin membicarakan tentang keluarganya. Jelas saja ! Karena ia sedang bertengkar dengan salah satu anggota keluarganya. Entahlah.

“Apa aku begitu kejam ?”

Gadis dengan rambut berkepang dua itu bertopang dagu. Ia sedang menikmati semilir angin malam di balkon asramanya di lantai 3, tepat di dekat letak kamarnya. Sedang bersantai memang, tapi sebenarnya ia mencoba menolak semua perkara yang datang. Tiga jam yang lalu, ia mendapatkan pesan dari bibinya mengenai hubungannya dengan  salah satu keluarganya yang sedang dalam keadaan kurang baik. Hal itu membuatnya kembali mengungkit kejadian dua tahun yang lalu. Tentu saja ia memikirkan kembali, karena semenjak kepindahannya ke asrama ini, ia sama sekali tidak mengetahui seluruh kabar keluarganya di Seoul.

Gadis itu dengan cepat menghela napasnya. Lalu berdiri tegap sembari memegangi pot berisi bunga tulip peliharaannya. Kedua matanya menatap haru bunga tulip tersebut. Bunga yang ia peranakkan di halaman belakang asramanya.

“Lee Eun Soo, bersabarlah. Kau akan dapat bertemu dengan mereka lagi. Saat ini kau hanya gadis yang terbuang bukan dibuang,” ucapnya pada dirinya sendiri. Lebih tepatnya mencoba menenangkan bathinnya yang makin tersiksa kala itu dengan sedikit tersenyum manis.

“Eun Soo-a, ada telepon untukmu !!!”

Tiba-tiba, Minji meneriakinya dari dalam kamar. Iya, Minji adalah orang yang berbicara dengannya tadi. Gadis yang lebih tua setahun dari Eun Soo. Namun, mereka sangat dekat walau tidak satu kamar. Mereka memang sudah saling berbagi sejak Eun Soo telah tinggal selama seminggu.

Eun Soo menoleh cepat, melihat jendela kamarnya yang telah terpajang wajah aneh Minji.

Eun Soo tersenyum, lalu membalas,”Dari siapa ?” Minji kembali pada telepon yang ada di kamar tersebut, kemudian menampakkan wajahnya lagi.

”Dari Minwoo,”

Mata Eun Soo membola. Seketika itu juga, pot yang ia pegang terjatuh ke lantai. Sesegera mungkin ia berjalan dengan cepat ke kamarnya. Yaaa, tentunya untuk menerima telepon dari seseorang yang ia rutuki semenjak hilangnya kabar dua hari belakangan. Bahkan ia tak memperdulikan bunga tulipnya yang terluka di lantai.

Annyeong, Minwoo-a,”

Ucapnya lirih membuka salam. Matanya mulai berkaca-kaca dengan perasaan yang sulit ia terka. Tangan gadis itu bergetar sambil memegangi gagang telepon. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga akibat ulah lelaki itu. Tapi kelihatannya tak membutuhkan waktu lama, air mata itu telah mengalir di wajah putih susunya.

Annyeong, Lee Eun Soo,”

***

To Be Continued

This entry was posted by kepangmusic.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: