[FANFICT/FREELANCE] Happy Ending

Title
: Happy Ending
Author : OtherwiseM
Genre : Fantasy, Sad Romance
Rating : PG-13
Type : One Shoot
Main Casts
: ~ Jo Youngmin as Jo

  ~ Kei (Lovelyz) as Kei

duration : Vignette (1200+ words)

Inspired by Yoo Rachel from The Heirs

Akhir bahagia ya? Jadi ini omong kosong yang sering dibicarakan orang-orang? Cih, benar-benar memuakkan.

.

.

.

Orang-orang berkata dengan lugas bahwa semua orang pasti memiliki akhir bahagia jika mereka berusaha keras untuk mencapainya. Jenuh rasanya dijejali omong kosong yang hanya ada di cerita dongeng. Sejujurnya, aku juga ingin memercayai omong kosong itu, lantas berjuang keras mencapai akhir bahagiaku. Tapi kenapa rasanya sulit?

Genap sepuluh tahun sejak pertama kali bersitatap dengannya kemudian jatuh hati begitu saja. Aku mengutuk lelaki kecil berbalut setelan jas hitam, kemeja putih, dasi kupu-kupu merah serta sepatu mengkilat dengan jubah merah menjuntai sampai betis.

Aku mengutuk saat ia membungkuk sangat sopan, menyapa kami semua dengan seukir senyum manis yang tak pernah dapat kulupakan.

Aku mengutuk caranya merapalkan mantra seraya mengayunkan tongkat untuk menyelamatkanku dari malapetaka saat hampir terjatuh dari gedung melayang sejauh tujuh puluh kaki dari permukaan tanah.

Aku mengutuk bagaimana cahaya putih berdeyar mengepungku dan membawaku melayang kembali memijak rerumputan di taman gedung.

Aku sangat mengutuk caranya mendekap hangat diriku yang begitu histeris lantaran hampir mati hanya karena ingin menangkap seekor kelinci emas yang melompat dengan indah. Kata-kata semacam, “Tenanglah, ada aku di sini. Aku berjanji akan selalu melindungimu. Kau akan baik-baik saja.” Terpatri jelas dalam ingatanku, dan sewaktu-waktu menyerang bagaikan kawanan banteng mengamuk.

Mengutuk memang bukan hal baik, namun faktanya aku melakukan hal itu setiap hari. Ia kerap muncul dengan sejuta pesona yang tak dapat kutolak dan menumbuhkan gejolak aneh dalam hatiku. Bukankah aneh kalau aku tidak banyak mengutuk dan merapalkan berbagai sumpah serapah sebab aku terjatuh semakin dalam setiap harinya?

Aku ingin mengakhiri semua ini, dan melupakan segala hal tentangnya. Tapi kalau semudah itu, untuk apa ada orang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membalas dendam?

Aku punya sejuta alasan untuk melupakannya, tapi kenapa sulit sekali? Bahkan setelah kejadian di hari itu pun, eksistensi kesukaran itu tak berkurang satu persen pun.

Oke, akan aku ceritakan.

Sekedar informasi, aku dan Jo ada di kelas yang sama. Hari itu ada praktik membakar sesuatu hingga hangus dalam hitungan detik di labolatorium. Aku acuh tak acuh mendengar setiap penjelasan yang dilontarkan Profesor Kwart tentang cara menciptakan bara api dengan tongkat. Pelajaran hari itu membosankan sekali sampai tak sengaja aku melihat Jo dan Kei yang duduk bersebelahan selang beberapa bangku di depanku. Amarah mendifusi dalam setiap sel tubuhku, menghasilkan rahang mengeras dan kepalan tangan yang kian menguat.

Muak rasanya melihat kedekatan mereka sampai aku meremas diktatku. Meski berat, harus kuakui kalau Kei, ehm … ‘sedikit’ cantik. Ia berpostur tidak terlalu tinggi dengan rambut panjang bergelombang yang dibiarkan terurai. Saat tersenyum, kedua matanya membentuk kurva tipis yang nampak sangat menggemaskan. Kulitnya seputih susu yang kuminum setiap pagi. Suaranya mengalun indah, terlebih saat ia menyanyi.

Kei sempurna. Bahkan terlalu sempurna untuk disebut manusia. Dan aku sangat benci fakta itu.

Aku benci saat Kei tertawa setelah Jo membisikkan sesuatu ke telinganya.

Aku benci saat Jo membantu menyingkirkan debu di pundaknya. Aku benci saat Jo diam-diam mencuri pandang lalu tersenyum seperti orang bodoh.

Aku benci saat kendali akan diriku hilang sepenuhnya, dan tahu-tahu sudah mengacungkan tongkat dengan seringai jahat. Lantas hal mengerikan itu pun terjadi.

Aku membakar Kei!

Gadis itu menjerit keras dan menggelinjang hebat. Semua orang menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatapnya. Jo dengan sigap merapalkan mantra yang disusul keluarnya guyuran air dari tongkat di genggamannya, membasuh tubuh Kei hingga api itu padam sepenuhnya.

Tak lama, Profesor Kwart berlari kencang ke arah mereka dan mengobati Kei dengan cahaya biru langit yang muncul dari kedua dampal tangannya.

Kei histeris mendapati luka bakar di sekujur tubuhnya. Aku yakin rasanya pasti menyakitkan. Luka bakarnya juga cukup parah sih. Rambutnya berubah pendek dan keriting, disertai bau tak sedap di setiap helainya. Baju kuning bunga mataharinya menghitam dan berlubang di sana-sini. Kulit putih susunya berubah hitam dan sedikit-banyak menunjukkan dagingnya. Sulit mendeskripsikan bagaimana mengerikannya Kei saat ini. Tapi entah kenapa, aku malah mengulum seulas senyum seperti orang jahat.

Kei si putri sekolah berubah menjadi penyihir mengerikan dalam cerita Hansel dan Gretel. Dan itu karena aku.

Semua orang kontan memandangku. Tatapan tajam itu serta-merta menusukku bagaikan serangan seribu panah.

“Lily, kita harus bicara.”

Jo tiba-tiba sudah ada di sampingku saat ia membisikkan hal itu dan merajut langkah keluar labolatorium dengan cahaya merah berdenyar menyertai sekujur tubuhnya. Menghela napas berat adalah satu-satunya yang dapat kulakukan ketika melangkah mengikuti Jo diiringi makian dan sumpah serapah siswa lainnya.

Di luar labolatorium, kudapati Jo menudingku dengan mimik yang tak dapat kudefinisikan. Iris birunya berubah jadi merah pekat.

“Jo—“

“APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA KEI?!”

Sejurus setelah lengkingan itu terdengar, kaca di sekitar kami bergetar dan pecah dalam waktu bersamaan. Orang-orang berkurioritas tinggi diam-diam mengintip dari balik jendela tanpa kaca dan celah yang ada. Rahangku mengeras, hatiku mencelos. Mengepal kuat-kuat tak berarti banyak sebab wajah datarku lenyap, tergantikan mata menyalak yang berkaca-kaca.

“APA YANG SUDAH KAU—“

“Aku membakar Kei,” memotong dengan santai, aku berusaha mengembalikan wajah datarku seperti biasa. Tapi sekalipun berhasil, cairan bening yang menggumpal di pelupuk mata tak dapat kusembunyikan.

Jo menatap tak percaya selagi membuang napas kasar-kasar. “Apa kau benar-benar Lily yang ku kenal?”

Membentak dan menatapku dengan cara sedemikian rupa. Apa kau benar-benar Jo yang ku kenal?

“Kau cantik, namamu cantik, senyummu cantik, tapi kenapa hatimu tidak secantik semua itu?”

Kenapa semua hal yang berhubungan denganmu lebih cantik dari bunga sakura yang bermekaran di musim semi?

“Saat melihat matamu, kupikir aku bisa selalu memercayaimu. Tapi kenapa kau bisa melakukan hal seburuk ini dan berpolah seolah tak terjadi apapun?”

Aku bahkan sudah bisa selalu memercayaimu saat pertama kali mendengar gemelatap sepatumu sepuluh tahun lalu. Tapi kenapa kau bisa melakukan hal seburuk ini dan berpolah seolah tak terjadi apapun? Menyerangku dengan tatapan dan kata-kata seperti itu?

“Banyak hal yang sudah terjadi, tapi kau sama sekali tak berubah ya? Masih saja egois dan serampangan seperti dulu.”

Kau juga sama sekali tidak berubah. Masih saja egois dan serampangan menenggelamkanku dalam sejuta pesonamu yang menghanyutkan sejak dulu.

“Selama ini, Kei selalu bersikap baik padamu. Dia menteleportasikan PR-nya hanya untuk menemanimu menjalani hukuman. Dia selalu mengobati dan merawatmu saat terluka di pelajaran olahraga meski ia juga sangat kelelahan. Dia mendekatimu saat yang lain menjauhimu karena kau menginjak mati anjing kesayangan Gamma yang dimanipulasi menjadi sekecil pangkal jari kelingking. Dia berbagi apapun padamu. Tapi ini yang kau lakukan sebagai balasan?”

Karena Kei terlalu baik, aku membencinya dan melakukan hal ini sebagai balasan atas seluruh kebaikannya.

“Jangan ganggu pacarku lagi. Sebagai laki-laki, aku memang tidak bisa memukul seorang perempuan. Tapi aku sudah memukulmu jutaan kali dalam pikiranku.”

Oh.

“Apa kau tidak ingin mengetahui alasanku?” Suaraku menginterupsi kala ia membalikkan tubuhnya dan berniat meninggalkanku.

Jo menggeleng, lantas kembali melangkah dalam tempo seiras. Aku bergeming hingga jarak yang membentang mengikis sosoknya hingga lenyap tergantikan kepulan asap.

Menyakitkan.

Benar-benar menyakitkan.

Sangat menyakitkan.

Terlalu menyakitkan.

Saat sadar dari dulu yang dapat kulihat hanyalah punggungnya.

Saat sadar sejak awal dia memang tidak pernah melihat ke arahku.

Saat sadar selamanya ini hanya akan jadi cinta sepihak.

Akhir bahagia ya? Jadi ini omong kosong yang sering dibicarakan orang-orang? Cih, benar-benar memuakkan.

Ketahuilah, di setiap akhir bahagia, pasti setidaknya ada satu orang yang walau telah berusaha keras tetap harus menderita agar akhir bahagia orang lain dapat terwujud.

Sialnya, orang itu adalah aku.

End

Huwaaa ini failed maksimal T.T

Gomenasai~ aku menghilang dan cuman bisa kasih beginian pas balik :”3

Ini fanfict fantasy kedua yang pernah aku post seumur hidup :”3 sebenernya udah cukup banyak nulis yang fantasy sih, tapi hampir semua failed T.T dan berakhir jamuran di hp dan leppi :”3

Jadi, aku sangat butuh saran dan kritik >.< tolong ya~

Ngomong-ngomong soal Rachel, ada ga sih yang pernah mikirin gimana perasaan tokoh antagonis dalam setiap cerita selain mikirin gimana caranya supaya segala kebusukannya terbongkar dan berakhir bahagia?😄 *apaan sih*

This entry was posted by kepangmusic.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Happy Ending

  1. Beneer ㅠㅠ
    Suka sedih sama tokoh antagonis di semua cerita
    Biarpun dia jahat kan dia juga butuh cinta(?)
    Btw keren thor, cukup mewakili rasa sakit hati tokoh antagonis yg udah ditolak huhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: