[FANFICT/FREELANCE] I Will Be Change – Chapter 01

Title
: I Will Be Change – Chapter 1
Author : Han Dong Ri
Genre : Friendship, Romance, & Sad Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ No Minwoo

  ~Kim Jin Hee

A/N: Selamat membaca dan semoga kalian menyukainya. Mohon di komen ya.

CHAPTER 1

Author POV

Semua mata tertuju padanya, yeoja yang kini tengah duduk membaca di tengah taman sekolah. Yeoja itu sangat popular baik dikalangan namja maupun yeoja. Bagaimana tidak , yeoja itu sudah cantik, baik,  pintar dan kaya yang membuat para namja hampir diseluruh sekolah itu tergila-gila padanya. Yeoja itu bernama Kim Jinhee.

Jinhee POV

Hari ini sama seperti sebelumnya, tidak ada yang berubah. Lokerku masih banyak dengan kado yang diberikan oleh para namja maupun yeoja yang menjadi penggemarku karena hari ini adalah hari valentine. Bukannya aku tidak suka tapi hal ini juga membuatku banyak memiliki musuh. Padahal jika diingat lagi apa yang pernah aku lakukan di masa lalu berbeda sekali dengan sekarang. Hal ini karena dulu aku tidak seperti yang sekarang, tapi aku sudah mulai menghapus masa lalu karena hal itu mengingatkanku pada seseorang. Terkadang aku takut akan masa laluku yang terungkap dan membuat orang-orang akan membenciku.

Hari ini aku berniat pulang lebih cepat, karena besok akan diadakan ujian dan aku harus belajar. Seperti biasa apartemen ini sangat sepi. Tidak ada yang penghuni selain aku. Eomma dan appa sudah lama bercerai dan menikah lagi, sedangkan aku hanya ditinggal di Korea dan hanya dikirim uang setiap bulan. Inilah hidupku sekarang, tanpa kehadiran keluarga satupun aku bagaikan anak yatim piatu. Eomma dan appa tidak mau membawaku bersamanya karena mereka bilang itu hanya merepotkan. Awalnya memang sakit mereka melakukan hal itu tapi sekarang aku sudah mulai biasa. Biasa dengan kesendirian ini.

@7 a.m.

Kini aku siap berangkat ke sekolah, seperti biasa aku hanya naik bus. Hari ini bus sangat penuh jadi aku harus berdiri. Setelah 15 menit menempuh perjalanan akhirnya aku sampai pada tempat tujuan yaitu sekolah. Saat aku memasuki kelas banyak yang terlihat bermain dan bercengkrama dengan temannya. Tidak ada yang belajar sama sekali padahal nanti ada ujian dengan seosengnim yang galak. Kurasa mereka hanya memanfaatkan keberuntungan.

Teng.. teng.. teng

Suara bel telah berbunyi dan banyak yang murid-murid yang diluar berhamburan masuk ke dalam kelas. Saat seosengnim kekelas ia tidak sendirian, ia membawa seorang namja dibelakangnya.

“Anak-anak ini adalah No Minwoo pidahan dari Amerika. Mulai hari ini dia akan menjadi teman sekelas kalian, makanya kalian harus baik dengannya. Arraseo?”

“Ye.” Kata kami serempak. Para yeoja mulai berbisik-bisik karena namja ini lumayan tampan. Tapi jika dilihat aku seperti pernah mengenalnya sebelumnya.

“Banjjang.”

“Ye seosengnim.” Kataku yang memang menjabat sebagai ketua kelas.

“Nanti kau antar Minwoo keliling sekolah.”

“Ye Seosengnim.” Kataku datar.

“Kau boleh duduk dibelakang banjjang.”

“Ye.” Katanya dan langsung pergi mencari tempat duduk yang disuruh oleh Jung seosengnim

“Hari ini kita tidak jadi ulangan karena aku ada rapat mendadak dan kalian belajar sendiri dulu arraseo?”

“Ye…” kata kami serempak. Setelah itu seosengnim meninggalkan kami. Kelas mulai ribut dan para yeoja mulai berhamburan menghampiri murid baru itu. Sedangkan para namja mereka mulai bermain lagi di kelas.

Bel istirahat telah berbunyi menandakan para siswa akan berhamburan menuju kantin. Disaat yang lain kekantin, aku harus mengajak murid baru ini yang tidak salah bernama Minwoo keliling sekolah. Aku mengajaknya ke berbagai tempat mulai dari lapangan basket, kantin, atap, ruang kepsek, ruang guru dan lainnya. Tujuan terakhir aku mengajaknya adalah taman sekolah, ini adalah tempat favoritku karena disini tidak banyak ada murid.

“Dan ini adalah tujuan terakhir yaitu taman.” Kataku saat kami tiba di taman. Dan dia hanya menjawab dengan anngukan saja. “ Baiklah karena aku sudah mengajakmu keliling aku akan kembali kekelas.”

“Ah Changkaman.”

“Wae?”

“Siapa namamu?” katanya padaku.

“Jinhee. Kim Jinhee.”

“Ah Nde.”

“Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?”

“Ani. Hanya itu saja.”

“Aku akan kembali ke kelas.”

“Ye.”

Aku meninggalkannya kembali ke kelas. Pelajaran dimulai seperti biasa lagi. Setelah semua pelajaran selesai kami kembali ke rumah masing-masing.

 

Minwoo POV

Aku sudah menetap sekarang di Korea lagi. Awalnya aku dan keluargaku tinggal di Amerika, tapi sekarang kembali ke Korea karena appa ditugaskan disini. Aku meninggalkan Korea saat usiaku menginjak 10 tahun. Aku sudah masuk ke salah satu sekolah yang ada di Seol. Disana teman-temanku sangat ramah, dan mereka menerimaku dengan baik. Kami juga memiliki banjjang yang baik mau mengantarku keliling sekolah, tapi saat aku tahu namanya aku teringat dengan seseorang  yeoja yang kukenal saat masih kecil. Nama banjjang dan wajahnya memang mirip dengan yeoja itu tapi sifat mereka sangat bertolak belakang.

Skip

Kini aku sudah menetap di sekolah ini selama sebulan dan hal yang membuatku penasaran adalah Kim Jinhee. Aku masih penasaran apakah dia Jinhee yang kukenal atau tidak. Dia sangat jarang bicara dan sering menyendiri. Cukup sulit menemukannya karena setiap jam istirahat ia akan menghilang dan jarang sekali kekantin sekolah. Hari ini aku berniat untuk menanyakan hal itu, makanya saat jam istirahat aku langsung mengikutinya. Dia mulai menuju ke taman sekolah. Taman ini sangat sepi karena letakknya cukup jauh dari kelas.

Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya. Dia tampak heran melihatku yang tiba-tiba datang ke taman ini.

“Ada hal yang ingin kutanyakan padamu.” Kataku tanpa basa-basi.

“Mwonde?”

“Apa kau dulu tinggal di Jinnan?”

“Ettokhe neo… ?”

“Jadi kau benar Jihee yang itu. Kau terlihat berbeda makanya aku tidak dapat mengenalimu dengan baik. Yya apa kau tidak ingat denganku?” dia hanya geleng-geleng.

“Aku No Minwoo yang sering melawanmu saat kau mebully anak-anak lain.”

“M..wo..?” Dia kelihatan ketakutan saat aku mengetahui tentang dirinya.

“Tapi sekarang kau sudah berubah. Apa kau masih melakukan bullying?”

Dia tidak menjawab malah keluar keringat dingin dan wajahnya mulai pucat.

“Yya neo gwenchana?” kataku khawatir karena tiba-tiba dia berubah ekspresi.

“Aku akan kembali kekelas.” Katanya langsung membereskan semua buku-bukunya.

Ada apa dengannya? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Jika dia Jinhee yang dulu kukenal   berarti dia memang Jinhee yang suka membully orang.

FLASHBACK

@Jinnan

“Yya kau seharusnya tidak boleh menentang keinginanku.” Kata seseorang yeoja kecil bernama Jinhee. Dia adalah ketua dari geng yang suka mebully temannya.

“Jika kau berani melawanku,kau akan tahu akibatnya.” Kata Jinhee kecil.

“Yya apa yang kalian lakukan?” kata seorang namja kecil.

“Neo nugu? Berani sekali kau ikut campur.”

“Nan No Minwoo. Kenapa kalian membully-nya?”

“Dia sudah berani melawan kata-kataku, makanya aku memberikan pelajaran padanya.” Kata Jinhee kecil dengan sedikit berteriak.

“Kalian tidak pantas disebut manusia. Tidak ada manusia yang mnyakiti manusia lain.”

“Mwo?!” kata Jinhee kecil yang sudah mulai memanas.

“Jika kalian menyakitinya lagi, aku akan membuat kalian menyesal.” Kata Minwoo kecil yang langsung mengajak temannya yang dibully oleh Jinhee pulang.

FLASHBACK END

Jinhee POV

Aku kembali ke kelas setelah tadi bicara dengan Minwoo. Bagaimana Minwoo bisa tahu? Siapa sebenarnya dia. No Minwoo No Minwoo No Minwoo. Aku mencoba mengingatnya.

“Ah Matta. Solmma…” kataku sendiri saat tiba di kelas.

Kenapa harus ada seseorang yang tahu masa laluku. Aku ingin menghapusnya dalam-dalam tapi kenapa.. Keringat dingin mulai mengucur tubuhku. Bagaimana jika Minwoo mengatakannya pada yang lain kalau aku dulu adalah seorang pembully. Mereka pasti akan jijik denganku. Saat aku masih berkalut dengan pikiranku tanpa sadar kalau bel masuk kelas sudah berbunyi. Teman-teman sekelasku mulai berhamburan masuk.

“Jinhee-ah.” Kata Eunsung padaku. Eunsung adalah teman sebangkuku.

“Kenapa kau terlihat pucat? Apa kau sakit?” Katanya yang mulai khawatir melihat kondisiku.

“Gwenchana.”

“Jinjja? Apa kita ke UKS saja?”

“Aniya. Nan Gwenchana.”

Aku melihat Minwoo masuk ke kelas. Perasaan takutku mulai kambuh lagi. Sekarang malah makin besar. Dia terlihat biasa-biasa saja dan langsung duduk di bangkunya. Tak selang beberapa lama datanglah Kim seosengnim yang mengajar matematika. Aku mencoba untuk berkosentrasi pada pelajaran tapi hasilnya nihil. Kini aku merasa kalau keringat dinginku makin banyak.

“Banjjang Gwenchana?” kata Kim seosengnim yang menyadari sikapku.

“Ye seosengnim.”

“ Kau terlihat sangat pucat, sebaiknya kau ke ruang UKS saja.”

“Nan gwenchana.” Kataku bohong.

“Baiklah kalau begitu.” Kata seosengnim melanjutkan pelajarannya.

Aku berharap kalau hari ini cepat berlalu.

 

Minwoo POV

Jinhee berubah sikap setelah aku menanyakan hal itu padanya. Ia terlihat lebih pucat bahkan di kelas seosengnim juga memintanya ke ruang UKS karena ia terlihat sakit. Apa aku salah menanyakan hal itu padanya. Aku hanya ingin memastikan semuanya tidak lebih.

Kini aku masuk ke sekolah dengan perasaan bersalah pada Jinhee, seharusnya aku tidak menanyakan hal itu padanya jika memang efeknya seperti ini. Saat tiba dikelas aku tidak melihat ada Jinhee dibangkunya, biasa dia yang paling rajin datang. Karena penasaran aku langsung menanyakannya pada Eunsung, teman Jinhee.

“Jinhee eodie Eunsung-ssi?” tanyaku pada eunsung.

“ Dia bilang kalau ia tidak enak badan makanya tidak sekolah hari ini.”

Aku hanya merespon dengan angguka kepala. Apa semua ini karena kemarin. Tapi kenapa? Bukannya tidak masalah jika aku mengetahui masa lalunya. Apa karena dulu ia seorang pembully makanya ia tidak ingin masa lalunya diketahui oleh siapapun? Sebaiknya aku menjengguknya nanti.

Setelah pulang sekolah aku langsung menanyakan alamat Jinhee pada Eunsung. Setelah tahu aku lansung pergi ke apartemennya. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mendapatkan alamatnya. Langsung saja aku menekan tombol bel saat aku tiba didepan apartemennya.

Saat ia membukakan pintu ia sedikit terkejut dengan kehadiranku.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Apa kau tidak mempersilahkan tamumu untuk masuk dulu?” tanpa menunggu jawabannya aku langsung masuk ke dalam apartemennya. Apartemennya cukup luas tapi terlihat sepi.

“Mana keluargamu?”

“Mereka tidak disini.” Katanya sambil membawakan aku minuman.

“Neo gwenchana?”

“Nde. Apa yang membawamu kemari?”

“Apa karena aku menanyakan hal itu kemarin kau menjadi sakit?” kataku padanya. Dia tidak menjawab hanya terlihat seperti memikirkan sesuatu.

“Aku tidak akan mengatakan apapun tentang masa lalumu.” Kataku dengan senyum yang lebar.

“Gomawo jika kau tidak mengatakannya pada siapapun.”

“Kkeunde. Apa yang sebenarnya terjadi dulu? Kenapa kau bisa berubah drastis.”

“Mianhae. Aku tidak bisa mengatakanya padamu.”

“Ah.. ye”

Setelah itu tidak ada percakapan yang kami lakukan. Aku binggung harus berkata apa?

“A..pa kau sudah makan?” tanyaku gugup. Kenapa aku jadi gugup sih? Apa karena ia sekarang terlihat berbeda dari yang dulu?

Dia hanya mennjawabnya dengan gelengan saja.

“Kalau begitu aku akan memasakan bubur untukmu.”

“Memangnya kau bisa memasak.”

“Ah itu.. Kkeurom aku bisa.”

Aku langsung pergi ke dapur. Aku mengambil bahan- bahan biasanya orang membuat bubur. Jujur saja aku tidak bisa memasak, tapi melihat kondisinya membuatku ingin melakukan sesuatu untuknya. Sekarang aku binggung apa yang harus kulakukan pertama? Ah air. Aku harus merebus air. Saat aku menakar aku juga masih binggung berapa takaran yang pas. Aku menuangkan hanya 2 gelas air. Kurasa itu sudah cukup. Lalu aku mulai mencuci beras. Setelah air mendidih aku memasukkan berasnya, tapi setelah menunggu lama airnya malah meresap dan hasilnya bukannya menjadi bubur malah menjadi nasi beras(?) yang cukup keras. Apa ini karena aku terlalu sedikit menuangkan air. Eottokhe?

Jinhee menghampiriku saat aku mulai mengeluh karena hasil masakanku tidak jadi.

“Waeyo?” tanyanya padaku

“Mianhae. Aku tidak bisa membuatkanmu bubur.”

“Gwenchana aku akan membuatnya sendiri.”

Setelah itu dia mulai memasak bubur. Aku terlihat memalukan. Padahal aku ingin memasakan sesuatu untuknya. Setelah selesai memasak ia mulai menaruh bubur di meja makan.

“Makanlah” katanya padaku.

“Nde.”

“Apa besok kau mulai sekolah?”

“Nde.” Dia hanya menjawab seadanya saja.

“Aku akan menjemputmu.” Kataku dengan nada sedikit gugup

“Tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri.”

“Ani. Aku harus menebus kesalahanku padamu karena telah membuatmu sakit. Jadi aku akan menjemput dan mengataarmu pulang.”

“Terserah padamu saja.” Dia kembali melanjutkan makannya.

Keesokan Harinya

Aku berangkat pagi-pagi karena akan menjemput Jinhee. Dia terlihat sudah menungguku didepan apartemennya.

“Mian aku terlambat.”

“Aniya gwenchana.”

Kami akhirnya berangkat bersama. Saat tiba di sekolah banyak mata yang melihat ke arah kami. Apa karena aku menjemput Jinhee? Tapi memang benar sih Jinhee sangat popular disekolah.

“Apa kau risih dengan semua tatapan ini?” Tanyanya padaku saat kami hendak sampai di kelas.

“Sedikit.”

Kini kami sudah sampai di kelas. Dia langsung duduk dibangkunya, dan Eunsung mulai menanyakan berbagai macam hal padanya.

“Yya apa kau pacaran dengan Minwoo?” samar-samar aku mendengar percakapan mereka.

“Aniya.”

Setelah itu bel berbunyi dan seosengnim mulai mengajar seperti biasa.

Skiip

Sudah 3 bulan ini aku dan Jinhee dekat. Aku selalu menjemput dan mengantarnya pulang selama ini. Hubungan kami juga sudah makin dekat dan aku juga berniat untuk menyatakan perasaanku padanya hari ini. Aku mengajak Jinhee ke taman sekolah. Tanpa basa-basi aku langsung menyatakan perasaanku padanya.

“Jinhee-ah sashireun nan neo jjoaheyo. Apa kau mau menjadi yeojachingu-ku?”

Ia terlihat sedikit berpikir. “Apa kau yakin Minwoo-ah? Bukankah kau tahu aku bagaimana di masa lalu?”

“Itu tidak masalah untukku. Lagipula kau sudah berubah.” Kataku dengan senyum yang masih terukir di wajahku.

“Berikan aku waktu untuk menjawab.”

“Arraseo. Aku akan menunggu jawabanmu.” Sebenarnya aku kecewa pada Jinhee yang tidak mau menjawabnya sekarang. Tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk menjawabanya sekarang. Aku akan menunggunya secara perlahan.

Setelah pulang sekolah aku langsung merebahkan diriku di kasur. Aku masih kepikiran apa yang akan dijawab oleh  Jinhee. Apa aku kurang tampan? Atau aku kurang baik dan pintar? Ah molla… Ini membuatku frustasi.

Karena haus akhirnya aku memutuskan untuk turun, setelah kembali ke kamar aku tidak sengaja jatuh dan akhirnya membuat barang yang ada di mejaku jatuh. Ah sial sekali aku hari ini. Saat hendak membersihkan kembali aku tidak sengaja melihat ada fotoku saat masih kecil jatuh. Fotoku dengan seorang yeoja kecil yang sangat imut. Dia adalah Minsoo. Minsoo dulu sering dibully oleh Jinhee dan aku  sering menolongnya. Sebenarnya dia adalah cinta pertamaku. Tapi karena harus pergi ke Amerika aku harus berpisah denganya dan tidak dapat menolongnya lagi. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi. Aku sangat penasaran dimana dia sekarang berada. Apa Jinhee tahu dimana dia? Sebaiknya aku menanyakannya lain kali.

Jinhee POV

Aku masih binggung menjawab pernyataan suka dari Minwoo. Meskipun dia bilang dia mau menerimaku apa adanya, tapi aku masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Aku lebih memilih ke taman dan menenangkan diri. Di taman sudah sangat sepi karena hari sudah mulai larut. Aku memilih duduk di salah satu kursi dan kulihat disamping kursi tersebut ada bunga lalu aku memetinya. Aku mulai menghitung apa aku harus menjawab ia atau tidak dengan memupuskan mahkota bunga tersebut.

“Ya, tidak, ya, tidak, ya, tidak, ya… Apa aku harus menjawab ya?” gumamku sendiri. Karena hari semakin larut dan udara semakin dingin akhirnya aku memilih untuk pulang.

@School

Aku benar-benar binggung harus menjawab apa. Hal ini membuatku tidak bisa konsen ke pelajaran hari ini. Saat istirahat aku hendak ke taman belakang tapi Minwoo malah mengajakku bicara berdua denganya. Apa yang harus ku jawab.

“Eotteyeo?” kata Minwoo saat kami sudah ada di tempat sepi.

“Mwoga?” kataku pura-pura lupa

“Aish Jinjja. Jawabanmu atas penyataanku kemarin.”

“Tentang itu..” Kulihat Minwoo sangat penasaran dengan jawabanku. “Naega.. mmm..”

“Mwoya lama sekali.”

“Arraseo.” Kataku pelan, tapi kurasa Minwoo dapat mendengarnya.

“Jinjjayeo?” Aku hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Aku akan kembali ke kelas.” Kataku tanpa menunggu reaksi dari Minwoo.

Saat kembali ke kelas aku senyum-senyum sendiri. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya aku pacaran dan Minwoo sebenarnya adalah cinta pertamaku. Awalnya aku membencinya tapi lambat laun aku malah menyukainya.Aku mulai menyukainya saat kami masih kecil. Dia suka melindungi orang-orang yang sering ku bully makanya sejak saat itu aku mulai menyukainnya. Setelah itu kami bersekolah seperti biasa.

Skiip

Sudah 5 bulan aku pacaran dengan Minwoo. Dia sangat perhatian padaku selama ini. Berita tentang kami pacaran sudah menyebar keesokan hari setelah aku mengatakan aku mau pacaran dengan Minwoo. Awalnya memang cukup menghebohkan tapi lama kelamaan menjadi biasa saja. Minwoo mengajakku pergi ke sebuah kedai makanan, dia bilang mau mentraktirku karena menang lomba basket antar kelas.

“Chagiya kau mau makan apa?” Tanyanya padaku

“Apa ya.. Chajjangmyeon saja”

“Arraseo. Ahjjuma pesan Chajjangmyeon 2.”

“Ye..” kata ahjjuma itu.

“Chagiya tentang lomba antar sekolah, kau ikut lomba apa?” Tanya Minwoo

“Molla. Kurasa aku tidak akan ikut lomba apapun.”

“Wae? Bukankah ada lomba menyanyi? Suaramu kan bagus.”

“Aku tidak berniat Minwoo-ah.”

“Arraseo.”

Tak selang beberapa lama pesanan kami akhirnya datang. Lalu kami memakanya bersama.

“Ah ya… Aku selalu lupa menanyakannya padamu.”

“Mwonde Minwoo-ah?”

“Kau ingat Minsoo kan? Gadis yang sering kau bully dulu. Sekarang dia sekolah dimana?”

Saat Minwoo menanyakan hal itu, sumpitku reflek jatuh. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku kembali teringat masa laluku.

“Gwenchana?” Terlihat dia mulai khawatir padaku.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Minwoo.

“Chagiya gwenchana?”

“Gwenchana.” Kataku padanya. Aku mulai meremas rokku karena rasa takutku. Kenapa Minwoo menanyakan hal itu sekarang?

“Jika kau tidak enak badan kita pulang saja.”

“Ani gwenchana. Geokchongmal. Lanjutkan saja makanmu. Aku akan ke toilet sebentar.”

“Nde.”

Saat sampai di toilet aku mulai lemas. Aku segera membasuh wajahku. Aku tidak mau terlihat takut sekarang, kalau tidak Minwoo akan tahu yang sebenarnya. Setelah membasuh wajah aku kembali ke tempat Minwoo tadi.

“Kita pulang saja.” Kata Minwoo saat aku baru saja duduk dikursi.

“Baiklah.”

“Naiklah.” Kata Minwoo saat kami tiba di parkir motor.

“Minwoo aku ingin pergi ke suatu tempat. Kau pulanglah lebih dulu.”

“Kau ingin kemana?”

Aku tidak menjawab pertanyaan Minwoo dan langsung mencari taksi. Aku memutuskan untuk pergi ke gereja. Saat tiba disana, aku melihat ada Suster Liya. Suster Liya adalah orang yang selama ini membimbingku, dia sudah seperti eomma ku sendiri.

“Tumben kau datang Jinhee-ah” katanya lembut padaku.

“Suster Liya.” Aku langsung memeluknya.

“Waeyeo?”

“Aku takut.”

“Apa ini karena masa lalumu?”

Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. “Aku masih belum bisa melepaskan masa lalu itu.”

Suster Liya tidak menjawab apa-apa dia hanya memelukku dengan hangat saja.

Minwoo POV

Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu Jinhee. Kenapa setiap aku menanyakat hal yang berkaitan dengan masa lalunya dia akan seperti itu? Sebaiknya kubiarkan saja, jika itu memang menyakitkan untuknya.

Hari ini adalah lomba antar sekolah yang diadakan di wilayah ini. Peserta lomba datang dari sekolah kami dan 3 sekolah lainnya. Sedangkan tempatnya dilakukan di sekolah kami.  Aku ikut lomba basket jadi aku berlatih dengan giat akhir-akhir ini. Bahkan sepertinya aku sedikit melupakan Jinhee. Aku tidak bisa mengantarnya pulang akhir-akhir ini karena latihan basketnya sampai sore.

Nah, setelah dilakukan berbagai lomba seperti dance, nyanyi, puisi, futsal, renang dan lainnya tibalah sekarang lomba basket. Banyak yang memberikan dukungan pada kami hingga kami masuk final. Pertandingan akan dimulai 30 menit lagi dan kami masih di ruang ganti.

“Minwoo-ah pacarmu datang” kata Kwangmin.

“Cieee…” Teman-temanku mulai meledekku lagi.

“Waeyo?”

“Ikut aku sebentar.” Dia mengajakku keluar ruangan.

“Pakailah ini.” Di memberikan sebuah gelang padaku. “Aku membuatnya sendiri. Ini akan jadi jimat keberuntunganmu.”

“Gomawo.”

“Aku akan kembali, kau masuklah.”

“Nde. Ah changkamman.” Aku memeluk tubuhnya yang kecil dengan erat. “Aku akan menang untukmu.” Dia hanya menjawab dengan anggukan saja.

“Aku pergi”

Kulihat punggungnya yang makin menjauh dan hilang saat tikungan. Aku pasti menang Jinhee-ah, yakkso.

Author POV

Pertandingan sudah di mulai, tim Minwoo sedikit kewalahan menghadapi tim dari sekolah lain. Mereka  sangat berusaha keras menggiring bola dan memasukkannya ke ring. Jinhee yang ada di bangku penonton,hanya bisa  berdoa dan mendukungnya dari sini. Waktu kini kurang 1 menit lagi sebelum bertanding berakhir, dan tim Minwoo masih kurang satu poin. Mereka  bertarung sengit memperebutkan poin. Kini Minwoo mendapatkan bola dan dari pihak lawan mencoba merebutnya dan membuat Minwoo terjatuh. Minwoo tidak tahu kalau gelangnya putus dan jatuh karena kejadian tadi. Pertandingan tetap berjalan, Kwangmin berhasil merebut bola dan menge-shut  dengan jauh. Bolanya tepat masuk dan mereka berhasil memdapat 3 point dan mereka menang. Para penonton bersorak gembira atas kemenangan mereka termasuk juga Jinhee. Tiba-tiba Jinhee mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak ada namanya.

To: Kim Jinhee

Keluarlah sekarang ada yang ingin aku bicarakan denganmu.

Jinhee memutuskan untuk keluar menemui orang yang menggirimnya pesan. Sedangkan Minwoo kini melihat ke arah bangku penonton tempat Jinhee tadi berada dan tidak menemukan keberadaan Jinhee.

“Kwangmin-ah aku akan mencari Jinhee sebentar.”Kata Minwoo

“Arraseo. Cepatlah kembali.”

“ Nde.”

Minwoo keluar lapangan dan mengambil ponselnya. Lalu mencoba menelpon Jinhee. Karena tidak diangkat oleh Jinhee, Minwoo memutuskan untuk mencarinya diluar.

“Kurasa kau masih ingat pada kami.” Kata seorang yeoja yang cukup cantik

Karena penasaran dengan keributan itu, Minwoo akhirnya mengintipnya. Dan terlihat Jinhee seperti sedang di introgasi. Minwoo hendak melangkah dan menghentikan mereka, tapi kakinya terhenti saat mereka mengatakan nama Minsoo.

“Apa kau sudah lupa kalau kau yang menyebabkan Minsoo meninggal?” kata salah satu seorang yeoja.

Jinhee tidak menjawab apapun, ia terlihat pucat pasi. Minwoo yang bersembunyi di balik tembok terus mendengarkan percakapan mereka.

“Kau seharusnya mati juga saat ini.”

Minwoo akhirnya keluar dari tempat sembunyinya. “Apa yang kalian lakukan.” Kata Minwoo dengan nada dingin.

“Neo nugu?”

“Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Apa kalian tidak mau pergi juga?”

Mereka terlihat takut dan akhirnya memilih untuk pergi.

“Siapa mereka?” kata Minwoo pada Jinhee dengan nada dingin. Jinhee hanya diam saja tidak mengatakan apapun.

~Tbc~

This entry was posted by kepangmusic.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Will Be Change – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: